Rapormu di Masa Pandemi

By: Andi Zulkarnain

Nak, beberapa hari lalu ayah dan mama mengikuti acara pemaparan hasil belajarmu selama satu semester. Hal yang menarik kali ini adalah proses belajarmu yang dilakukan di rumah karena pandemi Covid-19. Atas situasi ini, kita semua bersahabat dengan terminologi baru, seperti Learning From Home (LFH), Pendidikan Jarak Jauh (PJJ), dan lainnya.

Inilah momen kegentingan yang menurut seorang pemikir ternama, Daniel Dhakidae telah membuat ajaran inti neo-lib tentang market tak berdaya. Supplay tidak bisa dijawab oleh demand, yang telah diproduksi tak menemukan pembeli, yang dirindukan pembeli tak diproduksi. (Prisma, Volume 39, 2020. Hal 2). 

(Moza bermain magnatiles)

Covid-19 telah mengubah banyak hal, termasuk model belajar anak sepertimu. Sejak usia 4 bulan kamu sudah ikut proses belajar di Al Falah, Nak. Mulai jam 07.30 pagi sampai jam 14.00 atau 16.00, jika kamu lanjut program extended. Rutinitas itu terhenti karena pandemi. 

Rumah Untuk Siapa?

Kita juga memilih pindah rumah dari jantung kota Jakarta, ke bagian pinggir Jakarta agar kamu bisa lebih dekat ke sekolahmu. Karena dulu, dokter memberi wejangan, bahwa beberapa kali kamu sakit karena kelelahan di jalan. Sebab perjalanan menuju sekolahmu waktu itu, harus melewati setidaknya dua pintu tol. 

(Moza melukis pada sentra bahan alam)

Jarak sekolah dan rumah saat ini adalah seukuran jarak pandang, makanya kita kadang berjalan kaki ke sekolahmu. Kita juga tidak perlu lagi menembus macet Jakarta untuk mengantar dan menjemputmu belajar. Selain, taksiran dokter, ayah juga mengingat petuah pendiri sekolahmu, Ibu Wismi saat ikut sekolah parenting, bahwa kecintaan kepada anak, juga bisa dinilai pada pemilihan dan penataan rumah. Apakah rumah itu nyaman dan sesuai kebutuhan anak atau hanya sesuai kebutuhan orang tua?

Kolaborasi Orangtua dan Guru Untukmu

Selama masa Covid ini, Ayah dan Mama yang menemanimu belajar. Setiap akhir pekan gurumu akan mengirim silabus mingguan. Disitu sudah lengkap, apa yang akan kita lakukan bersama dalam sehari, termasuk program sentra yang menjadi khas dari sekolahmu. Filosofinya bahwa untuk anak sepertimu hanya mengenal bermain. Makanya, segala ilmu, baik bahasa, matematika, seni, agama, dan lainnya dialirkan melalui bermain. 

(Moza pura-pura memberi makan kepada boneka bayi saat main sentra peran besar)

Kami bersyukur dan sekaligus berterima kasih atas kolaborasi dengan gurumu sehingga semua nilaimu sangat baik di semester ini. Usia kronologis (chronological age), usia biologis (biological age), usia psikologismu (psychological age) tumbuh dalam tarian yang sama. Itu ditandai dari webbing evaluasi perkembanganmu, pada semua dimensi, antara lain afektif, kognitif, bahasa, psikomotor, sosial, dan aestetik yang semuanya biru. 

Sebagaimana yang dinarasikan oleh konsultan anak Novita Tandry bahwa untuk usia 2-3 tahun, kami perlu menciptakan pola pengasuhan melalui dorongan agar kamu dapat memenuhi keinginanmu secara mandiri dengan tetap dalam bimbingan (pijakan) orangtua atau pendidik. (Novita Tandry, 645 Days of Happy Parenting, 2013. Hal 5).

(Moza main studi warna di sentra bahan alam)

Di usiamu 2 tahun 9 bulan ini, kamu sudah bisa memasang popok, memakai pakaian, mandi, beres-beres mainan sesuai prosedur secara mandiri. Kecuali pada hal yang cukup sulit, baru kamu meminta bantuan. 

Ada beberapa metode yang kami lakukan untuk memaksimalkan pendampinganmu dalam belajar. Kami berusaha agar bisa masuk kantor (WFO) bergantian sehingga ada yang menemanimu bermain di rumah. Jika kami harus ke kantor bersamaan, karena ada hal yang tak cukup diselesaikan dengan dukungan teknologi 4.0, maka setelah pulang kantor, baru kita main sentra. Beberapa aktivitas yang bisa kamu lakukan bersama Tetehmu, tetap kamu jalankan, Nak, seperti main bebas di dalam (main magnatiles, lego, balok, main memasak, dan lainnya. Demikian juga, main di luar rumah (naik sepeda, menyapu halaman rumah, menyiram bunga, main bulu tangkis, bola, dan lainnya). 

Kita tidak tahu, kapan persisnya virus ini bisa dilumpuhkan, namun manusia saat ini, masih melanjutkan capaian manusia modern sebelumnya, bahwa vaksin adalah senjata tercanggih melawan musuh yang tak bisa ditafsir dengan mata telanjang.

(Moza recalling bersama ayah setelah main sentra)

Memaknai Utang Kebaikan Kita Kepada Gurumu

Selamat Nak. Dan kami harus mengucapkan terima kasih yang berlimpah kepada guru dan sekolahmu secara umum yang terus mengawal orang tua agar optimis melewati perjuangan parenting di tengah krisis terbesar abad ini. Sekolahmu, membuat beberapa inovasi agar anak-anaknya bisa selamat dan tetap bisa bahagia belajar dari rumah. 

Sekolahmu beberapa kali membuat kelas parenting bagi orangtua, juga layanan komunikasi personal kepada masing-masing siswa dan orang tuanya agar pelayanan sekolah bisa kontekstual sesuai kebutuhan dan fakta masing-masing siswa dan kehidupan keluarganya yang beragam.

(Moza menata bunga)

Hal seperti itu tentu sulit dilakukan ketika sekolah hanya melihat siswa sebagai wajah keuangan, bukan manusia masa depan yang di dalam dirinya ada “Ruh Ilahiah” yang telah ditiupkan. 

Kita berutang pada tumpukan kebaikan Bu Wismi, para gurumu, Bu No, Bu Yati, Bu Hardiah, Bu Euis dan seluruh tim di sekolahmu atas segala perannya agar kamu tumbuh sebagaimana mestinya, bukan sekedar tumbuh sebagaimana adanya. 

Sekolah yang memaknai siswanya sebagai manusia yang hendak ditemani berproses menjadi manusia adalah syarat menuju republiknya manusia.

Salam

www.republikmanusia.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *