Mozaik to Moza

Hidup adalah suatu perjalanan, Nak. Perjalanan yang tak bertepi. Dulu ayah meyakini bahwa untuk memperbaiki bangsa ini, cukup dengan memperbaiki kualitas masing-masing pribadi. Individu yang tercerahkan, yang oleh beberapa sarjana disebut sebagai intelektual organik, rausyan fikr, atau  manusia paripurna yang akan mendorong perubahan. Kesadaran itu ayah tuangkan dalam buku Pare dan Catatan Tak Usai: Pergolakan Mahasiswa dan Spirit Kampung Bahasa Pare (2012). 

Di fase selanjutnya,  ayah melihat bahwa visi untuk bergerak demi kebaikan bisa terhenti ketika orang masuk di fase pernikahan. Bisa atas nama sibuk mencari pembeli susu untuk anak, bergairah mengais rezeki untuk melunasi cicilan, dan sebagainya. Ayah merenungkan, bagaimana nasib kita saat ini jika saat itu Soekarno, Hatta, Syahrir, Agus Salim dan kawan-kawan hanya mau hidup untuk diri dan keluarganya. Jika demikian,  ayah berpikir waktu itu bahwa momen pernikahan merupakan momen super strategis karena menentukan bagaimana cara orang menjalani hidupnya di masa dewasa sampai tua. Teman dalam membangun rumah tangga harus juga punya visi pada nasib kaum papa, hasrat untuk terlibat menyumbang satu atau sepotong batu bata pada bangunan nation state. Kesadaran ini ayah tuangkan dalam buku,  “Mozaik Cinta: Revolusi Rumah Tangga Menuju Revolusi Sosial” (2013). Buku ini juga sebagai souvenir ketika ayah dan mama menikah, Nak.  

Perjalanan waktu, ketika kamu berusia 8 bulan di dalam perut ibumu, ayah menyelami ilmu parenting sebagai bagian dari upacara penyambutan. Belanja ilmu tersebut, berjalan seiring dengan proses menyuplai unsur materi, seperti baju bayi, botol susu, handuk, tempat tidur, dan sebagainya. Dua hal tersebut kami lakukan serentak karena kami sedang menanti tamu spesial yang oleh Dia yang di langit melengkapinya dengan dua dimensi itu sekaligus. 

Waktu itu ayah ikut sekolah parenting level 1 di sekolah Al Falah  BCCT Jakarta Timur. Ayah minta izin tidak masuk kantor selama kegiatan karena acaranya berjalan mulai jam 8 pagi sampai jam 5 sore, bahkan kadang sampai magrib jika peserta masih bersemangat berdiskusi. Setengah bulan ayah bolak balik menempuh perjalanan sekitar 3-4 jam untuk bisa memahami seni pengasuhan anak secara sistemik. Visi dan metode parenting sekolah Al Falah tersebut sudah ditulis oleh Prof Rhenald Kasali dalam bukunya yang berjudul “Sentra” (2019). 

Setelah belajar parenting di Al Falah dari level 1 sampai 6, ayah kemudian memiliki kesadaran baru bahwa kualitas manusia di masa dewasa sangat ditentukan pada apa yang terjadi di usia emasnya. Mutu kakek dan nenek, kualitas gen ayah dan ibu, pengasuhan usia dini, proses di 1000 hari pertama sampai baligh, semuanya penentu kualitas kemanusiaan manusia dewasa. 

Ayah kemudian merefleksikan teori tersebut pada beberapa manusia besar, misalnya pola parenting Soekarno. Setiap habis sholat subuh, ibunya membuka jendela kemudian mengucapkan kalimat positif kepada Soekarno kecil,  “Ibu katakan padamu Nak, kelak engkau akan menjadi orang yang mulia, menjadi pemimpin rakyat kita. Jangan pernah lupakan itu, jangan sekali-kali kau lupakan Nak, bahwa engkau ini putra dari sang fajar”(detik.com). Demikian juga ayah dan kakeknya yang selalu bersemangat membacakan kisah wayang kepadanya. Kita berhutang banyak pada parenting yang diterapkan orangtua Soekarno. Di tengah keterbatasan dan derita negeri terjajah, mereka mampu melakukan pengasuhan yang terbaik sehingga melahirkan dan membesarkan anak yang kemudian memimpin gerakan untuk berkata dan bertindak “selamat tinggal pada penjajahan”. Aksinya bukan hanya menginspirasi bumi nusantara, tapi juga Asia dan Afrika, Nak. 

Seorang ilmuwan sekaligus pengusaha yang bernama Thomas Alva Edison keluar dari sekolah formal waktu kecil karena menderita penyakit disleksia. Ia beruntung memiliki orangtua yang yang memberikan parenting terbaik sesuai keunikan anaknya. Mereka dengan sabar membantu Edison kecil mencari solusi atas kesulitannya belajar membaca dan menulis. Dalam hidupnya selama 84 tahun, Edison kemudian memperoleh hak paten atas berbagai penemuannya, diantaranya lampu, fonograf dan 1.091 lainnya. Kita bisa membayangkan bagaimana 7,8 miliar manusia saat ini begitu terbantu oleh pola parenting yang dilakukan orangtua Edison. Kita beruntung karena orangtua Edison waktu itu tidak mengatakan kepada anaknya “kamu bodoh, kamu bikin malu ayah dan mama, kamu tidak berguna”, tapi justru terus memberi energi positif kepada adanya, “kamu bisa, anak ayah dan mama mampu menulis dan membaca, kita bisa jika berlatih, semua manusia memiliki keunikannya masing-masing”. 

Begitu juga kisah tokoh lain yang berpengaruh dalam peradaban ini.  Mereka semua berangkat dari proses pengasuhan yang mirip. Dikelilingi orang-orang dekat yang optimis,  positif, dan penuh kasih sayang. 

Setelah merenungi perjalanan, menimba ilmu baru dari banyak tempat dan juga merefleksikan kehadiranmu, ayah menafsir bahwa jalan menuju revolusi itu jauh, melelahkan dan tidak bisa selesai hanya dengan perjuangan satu generasi. Butuh pewaris yang melampaui, yang dalam istilah di kampung kita disebut pattola palallo. Dari sinilah muncul gagasan, bahwa revolusi sosial meniscayakan pula adanya revolusi parenting. Kesadaran baru tentang parenting ini, ayah tuangkan dalam buku ini, Nak. 

Sejatinya, buku ini satu tarikan nafas dengan buku ayah sebelumnya, Nak. Bahwa kualitas individu itu penting, demikian juga visi dalam organisasi rumah tangga, namun semua itu akan rapuh ketika tidak memiliki pondasi yang kuat. Pondasi itu disebut dengan parenting, Nak. Godaan di era industri 4.0 dan society 5.0 ini semakin canggih, makanya tanpa pilar yang kokoh, semua akan ambruk di tengah perjalanan. 

Buah gagasan di buku ini sebagian besar ayah petik ketika bertamu ke kebun pengetahuan Ibu Wismi. Baik ketika berjumpa di forum sekolah parenting (PPOT) Al Falah BCCT Jakarta Timur, forum sharing sekolah dengan orangtua murid, agenda evaluasi guru, maupun sekedar diskusi lepas secara langsung atau melalui telepon. Buku ini juga hadir berkat dorongan beliau yang gigih agar ayah mengumpulkan semua tulisan tentangmu yang ada di blog dan lainnya menjadi satu buku. Kita di tiga generasi memiliki tumpukan hutang kebaikan kepada Bu Wismi beserta keluarga dan tim beliau, Nak. Omi (Ibu mama), ayah dan mama adalah alumni kelas parenting Al Falah BCCT, sedangkan kamu sejak berusia 4 bulan juga sudah sekolah di sana sampai sekarang. 

Tentu gagasan ayah di buku ini bukanlah kebenaran mutlak. Bisa benar bisa juga salah. Jika ada yang benar, maka bisa saja benar saat ini, tapi tidak kontekstual di zamanmu nanti. Sebagaimana teori teks yang selalu tak lepas dari konteks. Olehnya itu, ayah selalu bersepakat dengan ulama besar, Imam Syafi’i yang mengatakan “Pendapatku benar tapi mungkin juga salah. Pendapat orang lain salah tapi mungkin juga benar”.

Buku ini adalah hadiah untuk ulang tahunmu yang ke-3, Nak. Berisi tentang visi parenting dan pembacaan serta perenungan kami tentangmu sejak usia 0 sampai 3 tahun. 

Cepatlah besar, Jayalah selalu, Nak

Jakarta, Oktober 2021

Ayah,
A. Zulkarnain

APRESIASI

Nilai-nilai kebangsaan dan kehidupan harus diperkenalkan sejak dini agar setiap warga negara memiliki kecintaan kepada negaranya. Dengan cinta tersebut, rakyat akan berlomba menyumbang satu batu bata untuk membangun negerinya. 

Pada buku ini kita akan menemukan pentingnya proses mulia tersebut. 

H. Bambang Soesatyo,  S.E., M.B.A.

Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI

***

Buku ini membantu kita memahami tentang pentingnya politik parenting. Tidak ada suatu bangsa yang maju tanpa parenting yang baik. Konsep parenting yang bisa melahirkan manusia inovatif, nasionalis dan toleran harus diperkenalkan sejak dini dan diajarkan secara massif agar mimpi besar menjadikan Indonesia sebagai negara maju bisa tercapai. 

Eka Sastra

Staf Khusus Menteri Investasi/BKPM

Wakil Ketua Umum Kamar Dagang Indonesia (Kadin)

***

Buku ini unik. Mengungkapkan kasih sayang kepada anak dengan cakrawala lebih luas dari dunia kanak-kanak

Fachry Ali.

***

Sebuah refleksi cinta seorang ayah kepada anaknya. Buku parenting yang relevan dengan kondisi zaman. Saya percaya Gen Alfa memiliki kekuatan untuk mengubah masa depan. Kami melihat luapan kesadaran baru di tengah revolusi industri.40.

Anwaruddin Saleh, SE, RFP

Founder & CEO Asiabussinesinfo.com

***

Buku ini menarik karena berisi dialog antara ayah dengan anaknya. Berbagai pesan tentang nilai dan visi hidup yang dikemas dalam bahasa dialog yang renyah. 

Selamat ulang tahun Moza

Fitrah Arisansyah 

Owner Lumbung Padi Resto & Lounge

***

Saya sepakat dengan visi buku ini bahwa untuk memajukan suatu bangsa harus dimulai dari tahap pertama yakni memperbaiki parentingnya. Saya hari ini adalah apa yang orangtua saya katakan dan teladankan di masa kecil sampai saat ini. 

Selamat kepada Bro Andi Zulkarnain atas karya barunya. Sejak kita merantau ke Jakarta 11 tahun lalu, kita sudah bersepakat bahwa kita akan terus berkarya untuk memajukan umat dan bangsa. 

Selamat ulang tahun Moza

drg. M. Arief Rosyid Hasan

Komisaris Independen Bank Syariah Indonesia (BSI) dan Pendiri MilenialFest. 

***

Mozaik to Moza memberikan gambaran  kepada para pembacanya bagaimana mengelola ketahanan keluarga. Keluarga menjadi faktor pertahanan utama dalam sistem  sosial di masyarakat. Ketahanan keluarga merupakan kemampuan sebuah keluarga untuk mengelola dan menanggulangi masalah yang dihadapi oleh keluarga untuk mencapai tujuan dari keluarga itu sendiri. Faktor-faktor terbentuknya ketahanan keluarga terlihat dari ketahanan fisik, ketahanan sosial dan ketahanan psikologis

Buku yang menceritakan kehidupan mengenai keluarga muda, adinda saya Zul dan istrinya yang mempersiapkan kehidupan putrinya di masa mendatang dan proses natural dalam upaya mencapai ketahanan keluarganya.

Keluarga menjadi unit terkecil dalam sistem kehidupan sosial. Layaknya sel dalam tubuh manusia. Sistem ini memberikan pengaruh yang besar bagi kehidupan generasi selanjutnya. Keluarga kecil ini memperkenalkan cinta kasih, moral agama, mendidik perilaku sosial dalam balutan sosial budaya yang modern. Berbagai interaksi positif  dari orangtua sebagai pengasuh diceritakan dengan lugasnya dalam buku ini. Pertumbuhan fisik anak sangat ditentukan oleh interaksi positif yang diberikan oleh orangtuanya ditambah dengan intervensi gizi didalamnya. Praktek pengasuhan yang dilakukan oleh dinda zul dan istri patut dijadikan contoh, di sana ada penerimaan dan kehangatan, gaya pengasuhan ini terasa sekali pada plot-plot cerita bab demi babnya, bagaimana perilaku orang tua  mencintai anak apa adanya, tanpa prasyarat dan mampu mengekpresikannya baik secara verbal dan non verbal.

Selamat adindaku..Insya Allah buku ini memberikan manfaat bagi para orangtua muda yang ingin membentuk generasi unggul di masa depan.

Salam 

Tantri Relatami S.Sos.,M.I.Kom

Taprof Lemhannas RI

***

Mengasuh anak dalam era disrupsi bukan lagi sesuatu proses yg berjalan alami. Namun perlu dipersiapkan dengan skenario terprogram baik  oleh kedua org tua. Ayah dan ibu harus berperan secara balance mengisi intelligence yg makin beragam  dibutuhkan anak agar menjadi SDM yg unggul dalam memenuhi kebutuhan Revolusi Industri 4.0 dan menciptakan Society 5.0. Seperti  emotional intelligence, spiritual intelligence , physical intelligence, inspired intelligence,  entrepreneurial intelligence dan lainnya. 

Buku Mozaik to Moza karya Andi Zulkarnain sebagai cerminan parenting anak dari keluarga muda yang berpikir  komprehensif dan futuristik  karena menorehkan guratan semangat zaman yang sedang berjalan seiring tumbuhnya usia Moza, sang puteri. Diharapkan akan menjadi bekal bagi anak memiliki karakter yang  tangguh dan manusiawi. 

Selamat! Semoga buku ini memberi banyak manfaat bagi orang tua dan calon orang tua.

Prof. Dr. Dwia Aries Tina Pulubuhu, MA

Rektor Unhas

***

Kecanggihan teknologi harusnya membantu para orang tua untuk menciptakan parenting berkualitas, dimana komunikasi kepada anak bisa dilakukan kapanpun dan dimanapun. 

Membesarkan anak membutuhkan pengetahuan agar anak bisa tumbuh sesuai dengan usia kronologis, biologis, dan psikologisnya. Kita beruntung karena buku ini bisa menginspirasi kita untuk menemukan hal tersebut. 

Sri Suparni Bahlil

Ketua Dewan Pembina Yayasan Hanida

Ketua Bidang Manajemen Usaha Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas)

***

Indonesia Maju yang Berdaulat, Mandiri, dan berkepribadian hanya dapat dicapai dengan memberikan perhatian dan perlindungan terbaik kepada setiap anak. Pada buku ini kita menemukan suatu ikhtiar untuk mewujudkankan hal tersebut. 

Selamat Ulang Tahun Moza. 

Salam Senyum Anak Indonesia. 

Dr. Susanto, MA

Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI). 

***

Buku ini bisa didapatkan di Shopee: https://id.shp.ee/smMrRv1