Menempa Nalar Homo Economicus Moza di Al Falah BCCT

Pendidikan sejati melampaui sekat dinding kelas tatkala anak-anak diajak mengenali denyut kehidupan paling mendasar: kecakapan bertahan hidup dan seni berinteraksi.

Inisiatif kewirausahaan ini bukan sekadar simulasi dagang, melainkan laboratorium kemanusiaan tempat anak menyelami psikologi dalam menyentuh hati sesama, sekaligus mengasah nalar matematika melalui kalkulasi untung dan rugi secara jujur.

Sekitar dua minggu sebelumnya, Moza (murid kelas II Al Falah BCCT) sudah mulai mempersiapkan jualannya, termasuk meminta dibelikan kotak pendingin karena ingin menjual produk yang paling nikmat dikonsumsi saat dingin. Secara mandiri, ia juga menghitung sendiri modal yang dikeluarkan beserta keuntungan yang diperolehnya.

Pada Kegiatan Bakti Sosial yang dirangkaikan dengan Bazar Sekolah (10/10/2026), murid juga diajak memaknai fitrah manusia sebagai Homo economicus. Bahwa manusia adalah makhluk rasional yang selalu mengejar kepentingan pribadi, dan berupaya memaksimalkan keuntungan dari sumber daya yang terbatas.

Jauh lebih dalam, anak-anak diajak memaknai salah satu pencapaian terbaik manusia modern: transaksi. Melalui pertukaran yang adil, manusia belajar menyelesaikan kebutuhan tanpa paksaan, tanpa perselisihan, tanpa pertumpahan darah, melainkan berpijak pada rasionalitas dan kesepakatan yang saling memuliakan kedua belah pihak.

Pada jenjang usia dini, sentuhan pedagogis para guru terasa begitu hangat. Kehadiran guru yang berkeliling menjadi pembeli bukan sekadar transaksi biasa, melainkan pemberian pijakan bermakna untuk mengamati kelancaran pelafalan angka serta pemahaman dasar logika hitung mereka.

Program kidspreneur memegang peran yang sangat strategis bagi masa depan bangsa. Saat ini, rasio kewirausahaan di Indonesia baru berkisar tiga persen, padahal setiap negara membutuhkan sedikitnya 10 hingga 14 persen pengusaha untuk dapat melompat menjadi negara maju.

Sebagai langkah pengayaan kedepan, kegiatan ini akan kian kokoh jika menghadirkan alumni maupun orang tua murid yang telah menekuni dunia usaha untuk berbagi pengalaman nyata sebelum hari pelaksanaan. Dengan demikian, lingkaran belajar menjadi utuh: fondasi teori diletakkan oleh guru, perspektif praktis diperkaya oleh para praktisi, lalu seluruh pemahaman murid tersebut diuji di lapangan.

Proses belajar di Bazar Sekolah ini bergerak melalui dialektika yang matang: anak menerima tesis berupa pemahaman awal dari kelas, menjumpai antitesis dari dinamika nyata di lapangan, lalu mencapai sintesis melalui refleksi mendalam pasca acara. Dari pergulatan pengalaman itulah murid mampu merumuskan sendiri makna dari penjualan, pemasaran, pelayanan, keuntungan, transaksi, serta ragam dimensi manusia sebagai homo economicus.

Terima kasih kepada Bapak dan Ibu guru.

Terima kasih, Al Falah BCCT.

Salam

Andi Zulkarnain

Ayah Moza

Penulis buku parenting: Mozaik to Moza (2021)

Leave a Reply

Your email address will not be published.