Politik Merangkul Pak Jokowi

Nak, hari ini pelantikan beberapa menteri dan wakil menteri. Banyak orang yang membahas tentang Pak Sandiaga Uno yang kini juga menjadi menteri. Jadi dua tokoh (Pak Prabowo dan Pak Sandi) yang dulu menjadi rival Pak Jokowi di momen Pilpres 2019 kini resmi menjadi timnya di kabinet. 

Demikianlah Pak Jokowi Nak, padanya kita belajar tentang suatu prinsip bahwa satu musuh itu terlalu banyak, dan seribu kawan terlalu sedikit. 

Jika Pak Jokowi ingin dendam kepada orang, baik lawan politik di masa walikota Solo, Gubernur DKI, serta Presiden, maka dengan kewenangannya saat ini, itu bisa dilakukan. Namun, kita melihat beliau merangkul semua pihak, termasuk yang banyak mengkritik dan menyerangnya di masa pilpres. 

Foto: cnnindonesia.com

Di masa pandemi seperti ini, Presiden beberapa kali menyampaikan bahwa tujuan besar hanya bisa dicapai melalui kerjasama seluruh komponen bangsa dengan gotong royong, saling membantu, dan saling mengingatkan dalam kebaikan dan tujuan mulia.  Untuk itu semua, beliau senantiasa meneladankannya. 

Sikapnya yang memuliakan semua orang, termasuk yang pernah menyerangnya secara terbuka, bukan hal baru, Nak. Ingatan ayah berlari pada suatu kisahnya yang ayah juga kutip di dalam tesis, saat masih sebagai Walikota Solo, beliau sempat berselisih perspektif dengan Gubernur Jawa Tengah (Jateng) saat itu, Bapak Bibit Waluyo. Akar masalahnya  pada penolakan Pemerintah Kota Solo atas ide Pemprov Jateng terkait pendirian mal di lokasi bekas pabrik es Saripetojo di Solo. Pak Jokowi waktu itu berupaya membatasi maraknya pasar modern agar eksistensi pasar tradisional tetap terjaga. (Andi Zulkarnain, 2016, hal 114-115).

Foto: detik.com

Pak Bibit, di depan wartawan kemudian menyampaikan bahwa Walikota Solo, Pak Jokowi merupakan pribadi bodoh karena berani menentang gubernur dalam pembangunan mal di Solo. Yang membuat publik kaget karena Pak Jokowi memberi respon yang sangat tenang dan tetap memberi hormat kepada Pak Gubernur Jateng dengan mengatakan bahwa memang dirinya masih bodoh dan masih perlu untuk terus belajar. “Iya, saya itu memang masih bodoh. Masih harus banyak belajar ke banyak orang. Dibilang begitu ya nggak apa-apa”. (Detik.com, 27/06/2011)

Kehebohan juga sempat terjadi ketika dulu Presiden Jokowi memberikan penghargaan Bintang Mahaputera Nararya kepada dua politisi yang sangat kritis kepadanya, yakni Pak Fadli Zon dan Pak Fahri Hamzah, Nak. Pak Jokowi kemudian menjelaskan di depan wartawan bahwa perbedaan dalam politik adalah hal biasa dalam iklim demokrasi. “Ya berlawanan dalam politik kemudian berbeda dalam politik ini bukan berarti kita ini bermusuhan dalam berbangsa dan bernegara. Ini lah yang namanya negara demokrasi. Jadi saya berkawan baik dengan pak Fahri Hamzah, berteman baik dengan pak Fadli zon. Ini lah Indonesia,” katanya. (Tirto.id, 13/08/2020).

Pak Jokowi membuat kita semakin mengerti nasehat dari seorang penulis besar, Leo Tolstoy, Nak bahwa dua pejuang yang paling berkuasa adalah kesabaran dan waktu. Yang membuat Pak Jokowi menjadi suatu fenomena di dalam dunia politik Indonesia kontemporer karena kesabaran dan caranya menafsir lawan politik. Itu sebagian yang ayah temukan dalam rumus politik Pak Jokowi, setelah sekian tahun menelitinya, Nak. Dan hari ini, di istana negara beliau kembali menampilkan itu. 

Selamat kepada menteri dan wakil menteri yang dilantik

Salam

www.republikmanusia.com

#MozaNote

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *