Pak Ari: PNS Senior Yang Menolak Senioritas

Empat hari kedepan Pak Ari Hermawan (Pak Ari) akan kembali ke Indonesia setelah 3 tahun mengabdi di KBRI Astana sebagai Atase/Pranata Informasi Diplomatik. Kepulangan Pak Ari merupakan suatu siklus normal yang ada di perwakilan, namun sejatinya, manusia bukan hanya menjalani rutinitas, tapi juga memberi makna atas setiap proses dalam hidupnya. Pada titik itu, catatan ini akan berangkat. 

Saya dan Pak Ari hampir bersamaan tiba di Astana, hanya berbeda dua bulan. Olehnya itu, banyak sekali momen bersama kami dalam ikhtiar ikut memajukan KBRI Astana sesuai visi Presiden, Menteri Luar Negeri (Menlu) dan Bung Dubes Fadjroel Rachman. 

Pak Ari selalu menafsir realitas melalui pendekatan common sense yaitu suatu cara penilaian yang masuk akal terhadap suatu situasi. Kadang ketika Pak Ari memaparkan pemikirannya atas sesuatu, saya sampaikan bahwa pikiran Pak Ari itu mirip yang pernah disampaikan oleh  filsuf x pada sekian abad lalu. Pak Ari kemudian akan menjawab “oh begitu ya.” 

Bersama Pak Ari setelah selesai makan malam bersama di suatu resto di jantung Astana

Menafsir Kemanusiaan Manusia

Dalam konsepsi saya, untuk mengetahui kualitas kemanusiaan seorang manusia, lihatlah seberapa banyak manusia yang merasakan derita kemanusiaan ketika manusia itu pergi meninggalkan manusia lainnya.  Testimoni tim KBRI saat acara dinner perpisahan (11/02/2025), serta pesan dan kesan tim yang ditulis kemudian diberikan ke Pak Ari menggambarkan bahwa begitu banyak orang yang bersedih atas kepulangan Pak Ari. 

Jika ada orang yang berpamitan di tempat kerja atau ditarik dari penempatan tugas, kemudian mayoritas teman kerja atau orang yang mengenalnya mengatakan Alhamdulillah, akhirnya dia pulang, akhirnya dia ditarik, maka sejatinya ada persoalan atas karakter orang yang ditarik tersebut. Sebab fitrah manusia adalah menjauhi kegelapan derita dan mendekati cahaya kebahagiaan.  

Hal lain yang saya ingat dari Pak Ari adalah tentang kepedulian. Jika ada lokal staf yang baru datang, beliau selalu menanyakan ke rekan kerja yang lain, dia nanti tinggal dimana sebagai transisi sebelum menyewa apartemen sendiri. Demikian juga ketika ada teman kantor yang pergi jauh, seperti ke Indonesia dan membawa banyak anggota keluarga, termasuk anak kecil, Pak Ari akan berusaha ikut mengantar ke bandara, walaupun itu staf biasa. 

Pak Ari menerima cendera mata perpisahan dari Tim KBRI Astana yang diserahkan oleh Dubes Fadjroel Rachman dan Ibu Dubes Popy Rachman (11/02/2025)

Di suatu momen, Pak Ari pernah menjelaskan ke saya bahwa dulu beliau pernah merasakan begitu sulitnya melakukan penerbangan dengan membawa anak kecil, juga menenteng banyak barang. Itulah sebabnya, beliau tidak ingin derita tersebut terjadi kepada orang lain. 

Derajat kesadaran Pak Ari tersebut mengingatkan saya pada apa yang pernah disampaikan oleh sosiolog progresif Ali syariati “Jika kamu mampu merasakan derita, berarti kamu hidup. Jika kamu bisa merasakan derita orang lain, berarti kamu manusia.” 

Tim KBRI di momen makan malam perpisahan juga banyak yang menarasikan Ayah Raihan dan Chika sebagai teman ngobrol yang asik. Pandangan tersebut cukup kuat karena Moza saja yang usia 6 tahun bisa betah berlama-lama di ruangan Pak Ari jika dia ikut dengan saya ke kantor. Ketika saya selesai mengerjakan suatu hal, kemudian kembali ke ruang kerja, namun ternyata Moza tidak ada, maka saya bisa tebak, Moza sedang berada di ruangan Pak Ari. Mereka sedang berdiskusi berdua. Dari jauh kadang saya berpikir, mereka sedang membahas isu apa ya, kelihatannya cukup serius, hehe. 

Saya meyakini bahwa orang yang mampu berteman dengan anak kecil dengan baik, maka dia bisa berteman dengan seluruh manusia. Sebab berbicara dengan anak kecil perlu fokus, penghormatan dan bahasa yang sesuai dengan tahap perkembangan mereka. Dan sejatinya, semua manusia, baik profesor maupun orang biasa, pejabat maupun rakyat, termasuk anak muda sampai sesepuh “merindukan” hal tersebut. 

Kenyamanan pihak lain, apalagi junior atau staf biasa untuk berdiskusi atau curhat menandakan bahwa orang tersebut menerapkan prinsip egaliter. Orang merasa tidak digurui ketika berbicara. Kemampuan mendengar dengan seksama lawan bicara yang posisinya dibawah kita juga merupakan suatu kemampuan yang tidak mudah. Sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) Kementerian Luar Negeri (Kemlu) yang paling senior di KBRI Astana, Pak Ari mampu menempatkan diri sesuai dengan situasi yang ada. Sikap egaliternya, bukan melemahkannya, tapi justru membuat orang lain memberi hormat lebih padanya. Bahkan suatu penghormatan yang diselimuti oleh ketulusan yang tinggi. 

Di suatu waktu saat saya lembur di kantor bersama Pak Ari. Kami membahas suatu tema yang agak berat tentang manusia dan derita. Pak Ari kemudian menyampaikan “setelah kematian istri saya, semua penderitaan itu biasa saja. Saya sudah melewati puncak penderitaan”, katanya sambil berkaca-kaca. Dari situ saya kemudian berkesimpulan bahwa Pak Ari adalah orang sudah selesai dengan dirinya. Makanya, beliau tidak ada beban ketika menilai atau mengambil keputusan atas sesuatu, termasuk ketika menghadapi pro-kontra atas pemikirannya. 

Bagi orang yang suka berdialektika seperti saya, Pak Ari sangat menyenangkan. Jika kita menyampaikan suatu ide (tesa), beliau akan “melempar” ide tandingan (antitesa) sehingga akhirnya akan melahirkan ide baru yang lebih fresh (sintesa). Saya beberapa kali termotivasi membaca ulang buku atau referensi yang pernah saya baca sekian tahun lalu, pasca berdiskusi dengan Pak Ari. 

Saya memberikan testimoni saat perpisahan Pak Ari

Pak Ari memiliki ciri khas sebagai orang yang suka berbicara dengan apa adanya. Dalam teori antar budaya yang diperkenalkan oleh seorang antropolog ternama asal Amerika Serikat, Edward Twitchell Hall mengatakan bahwa ada dua karakter komunikasi yaitu high context communication dan low context communication. Komunikasi konteks  tinggi (High context communication) merupakan bentuk komunikasi antarbudaya yang diutarakan secara implisit atau tidak langsung, seperti basa-basi atau gestur tubuh. Adapun, komunikasi konteks rendah (low context communication) yakni gaya komunikasi yang apa adanya, lugas tanpa berbelit-belit, atau bicara blak-blakan. Karakter komunikasi semacam ini umumnya tumbuh di negara barat, juga ada di beberapa wilayah di Indonesia termasuk di tanah kelahiran Pak Ari, Betawi.   

Sebagai sekretaris Dubes yang salah satu tugasnya mengumpulkan data sebanyak mungkin sebagai bahan pengambilan keputusan pimpinan, tentu saya sangat terbantu dengan karakter komunikasi Pak Ari. Dengan format khas orang low context communication, “They say what they mean and they mean what they say (mereka mengatakan apa yang mereka maksud dan mereka memaksudkan apa yang mereka katakan) membuat saya lebih mudah dalam mengambil kesimpulan atas suatu teks yang Pak Ari uraikan. Apalagi sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) yang sudah mengabdi lebih dari 30 tahun dan sudah bertugas di beberapa perwakilan (KBRI), Pak Ari “kaya raya” dengan pengalaman.

Pak Ari biasa muncul dengan pikirannya yang out of the box. Orang yang mendengarnya bisa setuju, bisa tidak, bisa juga mengambil sebagian dari idenya. Sejatinya, karakter Pak Ari yang berani menyampaikan pikirannya dengan apa adanya sangat dibutuhkan disetiap organisasi untuk menutup celah, orang berpikir yang sama karena ternyata berada dalam ‘kotak” yang sama. Pak Ari bisa membuat orang untuk berhenti sejenak, kemudian menarik nafas untuk mengecek apakah yang dilakukan atau akan dilakukan sudah benar, belum benar, atau masih setengah benar.

Pada konteks tersebut diatas, Pak Ari mengingatkan saya pada seorang pemikir yang sangat berpengaruh, Bertrand Russell yang mengatakan “jangan takut untuk memiliki pendapat yang tidak biasa, karena setiap pendapat yang sekarang diterima dulunya dianggap tidak biasa.”

Selamat melanjutkan perjalanan hidup Pak Ari. Selamat berkumpul kembali dengan keluarga di Jakarta. Terimakasih yang tinggi atas perhatiannya kepada saya dan Moza. Salah satu hikmah besar saya bekerja di negeri eurasia Kazakhstan adalah bisa mengenal seorang PNS senior Kemlu yang menolak sistem senioritas, bernama Pak Ari. 

Astana, 24 Februari 2025

Salam

Andi Zulkarnain

Leave a Reply

Your email address will not be published.