Menjemputmu

Selalu ada bahagia ketika menjemputmu, Nak. Walaupun untuk itu, ayah harus melewati sekitar 2 pintu tol, dan derita kemacetan khas Jakarta. 

Banyak warga Jakarta atau Jabodetabek yang tua di jalan. Ada kisah seorang ayah yang demi menghindari macet, ia ke kantor di subuh hari, sebelum anaknya bangun, dan ia pulang kembali di rumah setelah anaknya tidur. 

Dalam teori parenting, pola hidup demikian sangat tidak sehat. Sebab anak yang besar tanpa sentuhan maskulin dan feminim yang seimbang akan memiliki mental yang tak stabil di masa dewasanya. Ia mudah baper, menghujat, dan menghalalkan segala cara untuk menjumpai harapannya. 

Kemacetan yang parah akan membatalkan mimpi terwujudnya SDM unggul yang ingar diulas media belakangan ini. Pada konteks tersebut, pemindahan ibu kota ada benarnya (tentu tak melupakan kritik atasnya). Ini menguntungkan bagi anak sepertimu, yang merindukan orangtuanya bisa datang lebih cepat di rumah demi mendapatkan quality time. 

Negara yang maju adalah negara yang terlibat aktif mendesain parenting. Sebab parenting tak bisa hanya menjadi urusan kedua orangtua. Parenting yang buruk akan menciptakan manusia yang kelak akan menjadi beban negara. Sebaliknya, parenting bermutu akan melahirkan manusia produktif di segala dimensi. 


Nak, sejak usia 4 bulan kamu sudah dikader di sekolah bayi. Di sekolah ini ada banyak profesi yang terlibat ‘membesarkanmu’. Ada dokter, psikolog, guru musik, agamawan, dan bidang lainnya.

Demi memasukkanmu di sekolah terbaik di negeri ini, saya bersama mamamu dan nenekmu (Omi) sepakat melakukan riset terlebih dahulu ke beberapa sekolah, dan keputusannya jatuh di sekolahmu saat ini.  Proses ini menjadi lebih terukur karena nenekmu merupakan praktisi serta mendalami dunia PAUD sampai di level magister. Prof Rhenald Kasali baru saja merampungkan buku tentang sekolahmu, Nak. Judulnya “Sentra”. Mengupas sejarah pendirian sekolah, sistem, dan visinya. 

Nak, setiap ayah menjemputmu di sekolah. Ketika kita pertama bertatap mata, di sana ayah melihat ada bulir kebahagiaan. Ayah tahu kamu begitu gembira. Kamu berteriak histeris, menepuk tangan, dan kemudian berlari ke arah ayah. 


Tetehmu, bahkan pernah bercanda, bahwa ketika ayah datang, kamu seketika melupakannya. Tentu, Teteh dan kami semua bisa memahami hal tersebut, karena itulah tahap perkembanganmu, sebagaimana diulas dalam sekolah parenting. 

Ayah akan terus berupaya agar bisa hadir dalam tiap detik perkembanganmu. Sebab, tiap fase anak adalah suatu kisah yang unik. Orang tua yang melewatkannya berarti melewatkan suatu momen emas. Terutama di usia 0-6 tahun. 


Ketika saat ini kamu selalu minta digendong, maka itu adalah momen yang indah, sebab ada suatu fase dimana kamu tidak mau digendong lagi. Demikian juga diantar, akan ada waktunya kamu ingin berangkat sendiri. 

Suatu hari kelak, kamu akan meninggalkan rumah untuk tinggal bersama suamimu. Membangun keluargamu sendiri. Itulah hukumnya sejarah, Nak. Semua manusia melewati fase tersebut. Makanya, sejatinya, menemanimu pada tiap detiknya adalah kemewahan. 

Fase datang dan pergi tersebut tak perlu ditangisi, Nak. Hanya butuh dipahami hakekatnya atau “lise”nya, dalam bahasa orang di kampung kita. Itulah maknanya kita belajar, mengumpulkan banyak teori di kepala, merefleksikan ayat dan hadist, mengaji local genius, dan lainnya. Semua itu adalah pisau untuk membedah dan menafsir realitas sebagaimana adanya dan sebagaimana mestinya. Termasuk menginterpretasi fase-fase hidupmu sekarang dan esok. 

Ayah dan Mama akan berusaha untuk hadir dalam setiap tahap perkembanganmu. Menjadi teman diskusi, bermain dan berjalan bersama menuju Tuhan. 

Parentingnya manusia adalah koenci menuju republiknya manusia. 

Salam

www.republikmanusia.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *