Gibran dan Ayahnya

By: Andi Zulkarnain

Nak, salah satu isu yang lagi ramai saat ini adalah tentang kisah ayah dan anak. Seorang anak diisukan ikut bermain proyek pemerintah, dalam hal ini dana bantuan sosial (bansos) yang beberapa waktu lalu, menterinya ditangkap KPK karena kasus korupsi.  

Karena diskursus tersebut, maka ingatan ayah kemudian berlari sekitar 6 tahun silam, saat ayah sempat menetap beberapa saat di Solo untuk meneliti fenomena seorang ayah yang juga politisi yang tak pernah kalah dalam semua kontestasi politik yang diikutinya. 

Saat ayah berkunjung ke kantor Mas Gibran di Chili Pari Catering, yang saat itu belum terlalu terkenal seperti saat ini, ayah sedikit kaget karena beliau menolak untuk diwawancarai, demikian kata stafnya. Mas Gibran tidak mau terlibat dalam urusan politik ayahnya, begitu pesan lanjutannya, Nak. 

Ayah cukup kecewa saat itu, sebab ayah melewati perjalanan yang panjang, sekitar 553 kilometer dari Jakarta ke Solo dengan catatan lengkap siapa saja yang ayah akan wawancarai. Ada mantan staf Pak Jokowi di Pemkot Solo, partai pengusung, pihak oposisi, masyarakat sipil, dan juga wakil keluarga. 

Namun, beberapa saat kemudian, ayah kembali pada bacaan sejarah, bukankah keterlibatan aktif keluarga dalam urusan politik seorang pejabat juga menjadi masalah. Itu yang menjadi penyebab, visi orde baru untuk mempercepat penunaian janji kemerdekaan hanya sempurna diatas kertas. 

Oh iya, kemarin Mas Gibran juga sudah mengklarifikasi bahwa berita tersebut tidak benar, Nak. “Itu enggak bener. Saya tidak pernah merekomendasikan atau memerintahkan, ikut campur dalam urusan Bansos. Apalagi mereka merekomendasikan goodie bag, nggak pernah seperti itu”. (Kompas TV, 21/12/2020).

Ayah Jan Ethes tersebut juga meminta semua pihak untuk bisa mengecek persoalan itu ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan mengecek PT Sritex. Beliau juga mengatakan di depan wartawan bahwa kalau mau korupsi kok kenapa korupsinya baru sekarang, kenapa bukan dari dulu. Juga kenapa pada proyek tas jinjing yang nilainya kecil, padahal banyak proyek yang lebih strategis, seperti PLN, Pertamina, senjata, jalan tol, dan lainnya. 

Foto: cnnindonesia.com

Pagar Menangkal Abuse of Power

Dari kisah ayah dengan Mas Gibran pada tahun 2014 tersebut, ayah menilai bahwa Pak Jokowi tidak memiliki kebiasaan untuk memberi karpet merah kepada keluarganya. Beliau memasang banyak pagar agar keluarga tidak menjadi variabel terjadinya abuse of power.  

Jika anaknya juga ingin menjadi pejabat, beliau tidak memberikannya secara gratis sebagaimana pemimpin orde baru yang hanya butuh sesi pelantikan untuk meresmikan anaknya sebagai menteri. 

Pak Jokowi meminta anaknya untuk mencari restu rakyat jika ingin menjadi pejabat, sebagaimana jalan yang dulu beliau lalui. Dalam era politik modern, jabatan politik diraih melalui proses panjang, karena berbasis pada filosofi one man, one vote, one value. 

Ayah juga mengingat wawancara dengan Pak Rachmat Sutomo yang pernah menjabat sebagai Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Dispora) Solo di era Pak Jokowi sebagai walikota. Disaat melihat nilai anak Pak Jokowi agak kurang sehingga tidak bisa lolos di SMA favorit, segera Pak Kadis menghadap Pak Walikota untuk meminta petunjuk. (Ini kebiasaan birokrasi kita, Nak. Jika terkait keluarga pimpinan, harus sangat hati-hati, sebab salah langkah, maka posisi bisa hilang, bahkan kadang dimutasi di tempat terjauh atau “dibuang” ke dinas yang sangat tidak strategis).

Kadis Pendidikan itu bercerita ke ayah, bahwa ia cukup kaget ketika mendengar jawaban Pak Jokowi, bahwa hasil tes disesuaikan dengan kemampuan anaknya saja. “Anaknya juga tidak diterima di sekolah favorit. Ini gimana. ini lewat belakang, lewat jalur khusus. Kata Pak Jokowi, gak. Biarkan saja sesuai kemampuannya…Apa adanya aja”. (A.Zulkarnain, 2016, hal 117-118). Akhirnya saat masa pengumuman tiba, anak Pak Jokowi dinyatakan tidak lulus di SMA favorit di Solo tersebut. 

Pak Kadis menceritakan ke ayah, bahwa itulah alasan mereka semangat bersih-bersih di birokrasi saat Pak Jokowi memimpin, karena Pak Jokowi memberi teladan tentang pentingnya integritas dan profesionalisme. Kata kepala dinas lain, yang ayah juga jadikan narasumber untuk riset tesis, bahwa selama menjabat, Pak Jokowi melarang keras keluarganya untuk memasukkan proyek kerja sama dengan pemerintah kota Solo. Peringatan tersebut juga disampaikan ke semua bawahan bahwa kalau mau pesan catering, jangan sama anaknya yang bisnis cateringnya saat itu lagi naik daun. 

Saat anak Pak Jokowi mendaftar PNS, kita kembali mendapat berita Nak bahwa, anak beliau tidak lolos. Padahal posisi beliau saat itu sudah berkantor di Jalan Medan Merdeka Utara. Suatu tempat dimana nasib 267 juta rakyat didiskusikan dan diputuskan. Saat itu, Pak Jokowi meminta Pak Yuddy Chrisnandi sebagai Menteri PanRB yang mengadakan seleksi CPNS untuk tetap tegak lurus pada aturan. “Presiden bilang enggak usah Mas, kan beliau panggil saya Mas. Kalau anaknya enggak lulus ya sudah biarkan enggak lulus,” kata Yuddy menirukan Presiden Jokowi”. (Merdeka.com, 13/02/2015).

***

Kita masih akan menunggu proses hukum terkait Bansos ini Nak, namun dari kisah tersebut, kita bisa menemukan benang merah, bagaimana Pak Jokowi membatasi keluarganya untuk mengambil keuntungan melalui kekuasaanya untuk diri dan kelompoknya. Gagasan tersebut, ayah temukan dari semua bawahan Pak Jokowi yang ayah wawancarai, baik di Pemkot Solo, Pemda DKI Jakarta, maupun di istana.

Demikianlah dunia politik Nak, seni mengelola persepsi publik. Makanya, setiap hari harus ada isu yang dilempar ke publik. Benar salah itu bisa menjadi urusan belakangan. Soal tersebut ditambah dengan masuknya kita di era media sosial, dimana semua orang adalah owner dan  pimred bagi medsosnya sendiri. Repotnya lagi tidak semua orang pernah mendapatkan materi logika dan analisis kritis dengan baik agar fasih membedakan berita benar, sedikit benar dan tanpa kebenaran.  

Ayah sangat senang, di usiamu yang belum cukup 3 tahun, kamu begitu gandrung pada buku. Kamu juga melarang ayah tidur, sebelum kita membaca buku bersama. Jalan untuk kamu terhindari dari propaganda berbasis hoaks sudah ada, Nak. Jagalah kebiasaanmu itu. Dan kami akan menemanimu melalui proses esensial tersebut. 

Jakarta, 22/12/2020

Salam

www.republikmanusia.com

#MozaNote

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *