Membaca Diplomasi  Pasha Ungu di Negeri Eurasia Kazakhstan

Pasha Ungu dan komisi 8 DPR RI berkunjung ke Kazakhstan dalam rangka melobi pihak Kazakhstan agar kuota haji yang tidak terpakai setiap tahunnya bisa digunakan oleh jamaah haji Indonesia. Catatan pada pertemuan tersebut juga akan menjadi bahan penting dalam perumusan revisi Undang-Undang Penyelenggaraan Haji dan Umroh. 

Di sela-sela agenda resmi, saya mengajak politisi PAN yang bernama lengkap Bapak Sigit Purnomo Syamsuddin Said tersebut untuk menikmati sister city Ibu Kota Nusantara (IKN), Astana. Anak kelima dari Syamsuddin Said dan Andi Bumbeng tersebut cukup tertarik dengan kota yang dikembangkan dari tanah kosong (stepa), dan kini menjadi kota yang tertata rapi dan terus tumbuh. Olehnya itu, kedepan, ia akan mengajak anak dan istrinya untuk datang menikmati dan mempelajari lebih jauh tentang kota ini. 

Di momen tersebut, kami juga mendiskusikan fenomena artis dan politik. Menurutnya,, kenapa hanya artis yang selalu dipertanyakan ketika masuk dunia politik. Padahal ada banyak latar profesi yang masuk ke politik, ada pengusaha, birokrat, militer, polisi, petani, guru dan sebagainya. 

Ketika mereka masuk dunia politik, misalnya di parlemen, tentu ada yang bekerja dengan baik dan ada juga yang kurang. Namun, kenapa hanya artis yang kinerjanya kurang yang selalu disoroti? Padahal, ada juga anggota dewan dengan latar artis yang punya kinerja cukup baik. Yang mampu memaksimalkan segala tupoksi anggota parlemen untuk memperjuangkan kepentingan rakyat dan kebaikan republik. Selanjutnya, ada juga anggota parlemen dari latar profesi lain yang bekerja tidak maksimal, tapi tidak terlalu disoroti publik. 

Di akhir diskusi, seniman junto politisi yang pernah juara dua lomba adzan se-Sulawesi Tengah tersebut menantang saya, ayo dong Bung Andi, menulis buku tentang “Artis dan Politik”. Saya jawab, siap, akan masuk dalam list buku yang perlu saya kerjakan, selagi Yang Maha Hidup memberi izin untuk menjalani dan menafsir hidup. 

Pasca bersama beberapa hari, saya merefleksikan bahwa menjadi Pasha tidaklah mudah. Lahir di Donggala Sulawesi Tengah, kemudian pindah ke Palu, selanjutnya merantau ke ibu kota Jakarta. Masuk ke dunia model dan film sambil kuliah. Kemudian bergabung ke group band. Membuat lagu yang bisa jadi hits, kemudian diapresiasi dengan berbagai penghargaan. Juga bagaimana menggelar konser selalu berakhir dengan kepuasan semua yang hadir. Tentu butuh pemahaman yang utuh pada tipologi penonton dan fans di tiap daerah. Begitu pula dengan usaha menjaga kekompakan band agar tetap berada dalam satu visi yang sama. Demikian pula menjadi wakil walikota, dan saat ini menjadi anggota DPR RI. Berbagai peran tersebut membutuhkan kecakapan diatas rata-rata. 

Menang di “dapil neraka” Jakarta III tentu bukan suatu kebetulan, tapi hasil dari persiapan yang matang dan manajemen tim yang baik. Menjaga nama baik agar dipercaya publik di dapil tersebut tentu juga bukan hal yang mudah. Apalagi berkompetisi dengan caleg lain yang punya dana besar, pesohor, dan petahana. 

Tim kami yang terlibat mendampingi Pasha Ungu dan rombongan selama di Kazakhstan merasa surprise. Mereka belajar dari sosok Pasha bahwa ketenaran tidak selalu mengubah orang menjadi elitis. Pasha selalu menyapa orang dengan memanggil namanya, termasuk anak magang yang ikut membantu delegasi. 

Staf Kazakhstan yang membuka akun media sosial Pasha, kaget dengan followers yang berjumlah jutaan. Di setiap akan berpisah, Pasha akan mengajak seluruh tim yang mendampingi untuk wefie kemudian menyebarkan foto tersebut di akun media sosialnya. Mungkin itu cara Pasha berterimakasih atas kebaikan orang yang terlibat dalam pekerjaannya. 

Setelah Pasha pulang ke Indonesia, saya surprise karena beberapa staf kazakhstan di kantor memutar lagu Band Ungu di komputer mereka. Pada titik itu bisa dimaknai bahwa Pasha Ungu ke Kazakhstan tidak hanya menjalankan diplomasi politik, tapi juga menunaikan diplomasi budaya. 

Jika segala syarat–syarat sebab terpenuhi, tahun ini Band Ungu akan konser di Kazakhstan sebagai bagian dari perayaan 32 tahun hubungan diplomatik Indonesia dan kazakhstan. Konser tersebut akan menjadi simbol penting atas persahabatan kedua negara. 

Terakhir, ciri utama seorang seniman adalah kemampuan merasakan suatu fenomena secara mendalam. Jika selama ini, Pasha menggunakan kemampuan tersebut untuk menciptakan hits, maka semoga kedepan keunggulan tersebut juga bisa digunakan untuk merumuskan legislasi serta berbagai kerja-kerja parlemen yang senafas dengan kebutuhan rakyat.

Astana Kazakhstan, Mei 2025

Salam

Andi Zulkarnain

Leave a Reply

Your email address will not be published.