Buku dan Perjalanan Hidup

Tulisan ini digoreskan karena seorang kawan lama saat di kampus yang sekarang menjadi staf ahli seorang politisi ternama di Senayan menyampaikan di grup WhatsApp, setelah saya share buku terbaru kami di KBRI Astana yang dilaunching di momen malam tahun baru 2025 oleh Bung Dubes Fadjroel Rachman. Buku tersebut berjudul “Bisikan Stepa dan Pamir: Kisah WNI sebagai Duta Bangsa di Kazakhstan dan Tajikistan” (2024). Kawan tad mengatakan “Saya kagum sama Kang Zul sangat produktif”. 

Sejak dulu, saya selalu melatih diri untuk menafsir teks dengan segala konteks dan gradasi interest-nya. Salah satu caranya adalah apakah teks tersebut ada rujukan faktanya atau tidak. Jika tidak, maka cukup saya catat sebagai pujian (golla/kompa: istilah di kampung saya) pertama di tahun 2025. 

Ingatan saya kemudian berlari ke belakang sebelum 2025 tiba, bahkan puluhan tahun lalu, ketika pertama kali menulis buku. 

Waktu masih di kampus, saya terlibat menulis “Buku Putih Pengkaderan Lembaga Mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Hasanuddin (2005). Buku ini dilahirkan dengan harapan pengkaderan mahasiswa punya visi yang lebih terukur sehingga perlu ada aturan terkait materi, target materi dan siapa yang harus mengisi materi. Termasuk buku apa yang harus dikonsumsi oleh pemateri sebelum dia berdiri di depan para peserta pengkaderan. Buku tersebut juga berupaya merumuskan korelasi antara Latihan Kepemimpinan (LK) 1, LK 2 sampai LK 3. 

Saat belajar Bahasa Inggris di Kampung Bahasa Pare Kediri Jawa Timur, saya menulis buku “Pare dan Catatan Tak Usai: Pergolakan Mahasiswa dan Spirit Kampung Bahasa Pare” (2012). Buku ini sebagai catatan saya ketika melihat konsep pendidikan ala Pare Kediri yang murah, merakyat, humanis dan berkualitas. Buku ini juga berisi beberapa refleksi saya saat aktif di organisasi mahasiswa dalam mengurus pengkaderan di internal kampus sampai mengadvokasi kasus penggusuran tanah rakyat di luar kampus. 

Saat momen menikah saya dan (calon) istri menulis buku “Mozaik Cinta” (2013) untuk souvenir kepada para tamu yang hadir saat kami resepsi. Di buku tersebut, dibahas juga konsep cinta dari BJ Habibie sampai Plato.

Selanjutnya, ketika mendirikan dan menjalankan program pendidikan di Forum Kampung Bahasa Sulawesi (FKBS), saya ikut menulis dan menginisiasi pembuatan buku “Pendidikan Tanpa Kasta” (2015). Suatu catatan bahwa pendidikan untuk semua golongan, bukan hanya harus dikerjakan, namun bisa kami lakukan dengan segala suka dan duka di dalamnya. 

Ketika merefleksikan pengkaderan di komunitas HMI Makassar Timur, saya ikut menulis buku “Dari Tamalanrea Untuk Indonesia” (2017). Coretan dari para kader yang telah menyebar di berbagai tempat dalam membaca republik dengan tumpukan mimpi-mimpi besar di dalamnya. 

Ketika aktif meneliti dan mendiskusikan fenomena politik Jokowi, saya ikut merumuskan buku “Indonesia Pasca Jawa (Hasil-hasil Simposium Peneliti Jokowi I, II & III)” (2019). Catatan dari para peneliti dalam membaca seorang politisi yang tidak pernah kalah dari semua pilkada/pemilu yang diikutinya. Juga dengan segala kontroversinya. 

Ketika melihat anak pertama lahir dan menemaninya tumbuh, saya menulis dan menghadiahkannya buku tentang perjalanan hidupnya. Buku itu dilaunching di momen perayaan 3 tahunnya,  “Mozaik to Moza” (2021). Karya tersebut merupakan buku parenting dengan studi kasus tahap perkembangan putri kami yang bernama Andi Mozaik Qiana Avanezka. 

Di penghujung tahun 2024, setelah 3 tahun bergiat di perwakilan RI di KBRI Astana, saya ikut menginisiasi dan menjadi editor buku “Bisikan Stepa dan Pamir: Kisah WNI sebagai Duta Bangsa di Kazakhstan dan Tajikistan” (2024). Karya tulis tersebut merupakan buku pertama yang ditulis bersama oleh WNI  di Kazakhstan dan Tajikistan. Yang juga untuk memperingati 14 Tahun berdirinya Kedutaan Besar Republik Indonesia di Astana pada tanggal 29 Desember; 79 tahun Kemerdekaan Republik Indonesia serta 31 tahun hubungan diplomatik Indonesia – Kazakhstan dan 30 tahun hubungan diplomatik Indonesia – Tajikistan.

***

Dalam menafsir hidup. Kita tidak pernah tahu, sampai kapan akan dijalani. Namun, ada satu yang bisa dipastikan karena masuk dalam internal variabel yaitu mengabadikan pikirkan, refleksi dan harapan melalui tulisan dan buku. Bisa pribadi, bisa komunitas. 

Target saya sangat sederhana, ketika kelak cucu-cucu saya ingin berdialog dengan saya. Sedangkan saya sudah melanjutkan perjalanan di fase kehidupan yang lain, setidaknya saya telah meninggalkan beberapa catatan untuk mereka baca.  Sebagaimana nasehat Pramoedya Ananta Toer “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.” 

Tentu mereka tak harus sepakat dengan pikiran saya. Sebab mereka memiliki pikirannya sendiri. Juga setiap teks tak bisa berjarak terlalu jauh dengan konteks. Saya hidup di era sekarang, mereka hidup di era yang lain. Namun, setidaknya saya telah ikut menawarkan referensi, tentang apa itu Tuhan, manusia, masyarakat, Indonesia, anak, dunia kerja, diplomasi, politik, filsafat, cinta, dan segala tema yang pernah saya tulis. 

Salam

Astana, Kazakhstan 1 Januari 2025

Andi Zulkarnain 

Leave a Reply

Your email address will not be published.