AYO Mengutuk Jokowi

Setelah sekitar satu tahun mengkaji fenomena politik Jokowi, untuk kepentingan TESIS, maka penulis takut dikutuk oleh Tuhan, kalau tidak ikut bersaksi tentang siapa itu Jokowi.

Maka melalui tulisan ini, penulis menyampaikan kepada seluruh rakyat Indonesia untuk sama-sama mengutuk Jokowi kalau setelah jadi presiden ia tak lagi merakyat, ia tak mau lagi blusukan menyentuh tangan dan hati rakyatnya secara langsung.

Jokowi akan kita kutuk, kalau ia tak bersepakat lagi dengan Michel Foucault bahwa kekuasaan itu sifatnya menyebar. Kekuasaan tidak hanya ada pada negara, tapi juga ada pada partai, ormas, LSM, kampus, maupun masyarakat miskin yang ia sering datangi. Sebagaimana yang dibahasakan Foucault, dalam Steven Best dan Douglas Kellner: “Modernitas dicirikan dengan suatu fakta yang tidak pernah memunculkan keterpusatan kekuasaan…kontak yang lebih melingkar dan hubungan…pada banyak tempat dimana intensitas kesenangan dan determinasi kekuasaan dipertahankan, hanya untuk disebar-sebarkan”. (Steven Best dan Douglas Kellner, Teori Posmodern; Interogasi Kritis, 2003. Hal 55)

Jokowi akan kita kutuk, kalau ia tak lagi menjalankan model kepemimpinan horizontal-nya, yakni seni memimpin tanpa mengandalkan titel dan jabatan (Ardhi Ridwansyah, Leadership. 3.0, 2013. Hal 29). Gaya kepemimpinan tersebut terlibat banyak dalam membuatnya menjadi politisi fenomenal.

Foto: plus.google.com

Foto: plus.google.com

Jokowi akan kita kutuk kalau setelah menjadi pemimpin tertinggi, ia tak lagi mengharamkan keluarganya untuk hidup mewah. Sebagaimana yang ia tegaskan selama ini.

Jokowi akan kita kutuk kalau ia tak lagi memuliakan PKL. Memberikannya ruang berjualan, melatihnya tentang manajemen bisnis, standar kebersihan,dll. Itu yang dilakukan di Solo dan DKI. Makanya kalau ia tiba-tiba berhenti melakukannya saat telah menjadi presiden, kita akan mengutuknya.

Jokowi akan kita kutuk. Kalau ia tak melanjutkan perjuangan mobil nasional. Sebagaimana kisah mobil Esemka. Saat ini kita maklumi kalau proyek Esemka tidak jelas. Karena Jokowi tak punya wewenang terkait industri nasional, karena hanya kepala daerah. Tapi setelah jadi presiden, maka menteri koordinator perekonomian, menteri perindustrian, dan menteri lain adalah bawahannya, yang ia bisa pecat kalau tak sejalan dengan ide Esemka Jokowi.

Jokowi akan kita kutuk kalau setelah jadi presiden ia tak lagi membela nasib minoritas. Kita kagum ia membela nasib lurah Suzan. Yang hanya berbeda agama dengan mayoritas warga setempat, kemudian didemo dan diminta pindah oleh oknum yang mengatasnamakan agama tertentu. Jokowi terbukti pasang badan, dengan mengatakan bahwa pejabat akan dirotasi atau dipecat kalau tak menjalankan fungsinya atau melanggar aturan saja. Tak boleh alasan lain.

Sungguh, kalau negara hanya mampu melayani dan melindungi mayoritas, maka tak perlu ada negara. Cukup kita kembali ke ribuan tahun yang lalu dengan hukum rimba, siapa yang kuat, maka dia yang menang.

Jokowi akan kita kutuk . Kalau setelah jadi presiden ia tak memaafkan pihak-pihak yang telah menyerang atau menfitnahnya. Kita kagum ke Jokowi karena selama ini ia tetap mampu mencium tangan Bibit Waluyo, menyanjung Rhoma Irama,  dan memuliakan berbagai pihak yang pernah menyerangnya dengan berbagai macam cara.

Karena sungguh celakalah suatu negeri yang pemimpinnya emosional dan pendendam.

Foto: lipsus.kompas.com

Foto: lipsus.kompas.com

Kita akan mengutuk Jokowi kalau ia menjadi budak partai (dalam makna negatif) bukan menjadi budak rakyat dan Tuhan. Selama ini tak ada bukti Jokowi membuat kebijakan yang menguntungkan partainya. Bahkan sistem lelang jabatan yang diterapkan Pemrov DKI, membuat sakit hati orang partai atau tim suksesnya yang dulu membantu murni karena motif jabatan dan proyek. Bukan motif kerinduan atas kebenaran.

Kita akan mengutuk Jokowi kalau agenda transparansi ia tak lakukan secara nasional saat menjadi orang nomor satu di negeri ini. Kita melihat nyali dan kecerdasannya saat jadi Gubernur DKI, membuat sistem online untuk pajak, IMB, dll. Sistem tersebutlah yang menyebabkan APBD DKI Jakarta bertambah hampir dua kali lipat, yang dulu ketika Pak Jokowi masuk, sebesar Rp 41 triliun, dan sekarang sudah Rp 72 triliun. (sumber).

Kita akan megutuk Jokowi kalau setelah ia jadi presiden tak lagi rendah hati. Saat ini, hampir tidak ada pejabat publik yang sukses dan memiliki kerendahan hati seperti Jokowi. Setiap mendapatkan penghargaan nasional maupun internasional. (Lihat) Selalu dijawab “BIASA AJA”. Dia juga tulus mendengar apapun yang rakyat keluhkan kepadanya. Tanpa pernah membuat kalimat yang menyakiti rakyatnya, bahkan sulit mendapatkan kalimat yang menyakiti lawan politiknya.

Jokowi kita kutuk kalau setelah menjadi presiden mulai menggunakan fasilitas mewah di saat rakyatnya masih banyak yang kelaparan, sulit sekolah, sulit menikah, dll. Saat ini kita kagum, karena hampir 10 tahun Jokowi masuk dunia politik, ia selalu menggunakan fasilitas secukupnya dan penuh kesederhanaan. Misalnya mengunakan mobil Kijang Innova untuk aktivitas hariannya. Jokowi juga melarang penggunaan biaya mahal dalam setiap kegiatan pemprov. Makanya ia melantik walikota di daerah kumuh supaya lebih murah dan merakyat.

Jokowi kita kutuk kalau uang yang lebih 100 miliar, yang terkumpul dari sumbangan rakyat untuk kesuksesan Jokowi jadi presiden, tak digunakan untuk menjadi pelayan rakyat yang baik. Sebagaimana yang ditampilkan di Solo dan DKI.  Secara hakiki, Jokowi telah digaji duluan oleh rakyat dengan uang lebih 100miliar tersebut. Belum lagi pajak, retribusi rakyat akan menjadi pendapatan negara yang digunakan Jokowi mengatur pemerintahan dan mengeksekusi programnya.

Jadi Jokowi akan kita kutuk, kalau ia berhenti menjadi budak rakyat dan kebenaran.

***

Begitulah kalau Jokowi menjadi presiden. Kita gampang mengutuknya. Karena yang jadi ukuran evaluasi tak terjebak pada visi misi yang terkadang utopis dan gampang dilupakan rakyat secara umum. Tapi yang kita jadikan ukuran adalah perbuatannya sejak awal masuk dunia politik, bahkan jauh sebelumnya, yakni kesederhanaan, kejujuran, akhlak, ketegasan,dll. Nilai tinggi politik Jokowi sangat menonjol dibanding politisi dominan, maka gampang ketahuan kalau ia berubah.

Dengan ukuran perbuatannya itu, tidak sulit mengajak massa rakyat untuk melawan atau mengutuk  Jokowi kalau ia mengingkari atau berubah dari perbuatannya yang telah dianggap sebagai cermin dari karakternya.

j jj

***

(Dengan hormat) Adapun kalau kandidat sebelah yang jadi presiden, tentu sulit menentukan sikap kapan kita mengutuknya. Kalau kita mau mengutuk ia karena hidup mewah. Bukankah hal itu telah dijalani jauh sebelum ia menjadi presiden. Bukankah kudanya seharga 3 miliar per ekor. Dan rumahnya begitu mewah di Hambalang, Desa Bojong Koneng, Sentul, Bogor. (sumber). Maka sulit kita cari alasan marah kalau ia hidup mewah.

Kalau ke depan ia melakukan kekerasan atau penculikan terhadap para pengkritik, kita juga sulit mengajak rakyat untuk mengutuk, karena ia memang pernah dipecat dari organisasi militer karena bertindak tanpa perintah dan melanggar sapta marga. Ia dianggap terlibat dalam penculikan aktivis 1998.

Selanjutnya, cawapres sebelah juga sulit kita kutuk kalau hidup mewah, karena dulu ia  menikahkan anaknya dengan putra presiden, dengan pesta yang sangat mewah.

Sulit juga kita kutuk kalau tak menjadikan hukum sebagai panglima, karena ia diduga pernah menggunakan kekuasaannya untuk meringankan hukuman anaknya pada kasus tabrakan maut.

Jadi untuk kandidat sebelah, sulit memberi ukuran tegas kalau mereka terpilih. Kapan harus mengkritik, melawan dan mengutuknya.

Sedangkan Jokowi berada di titik ekstrim politisi saat ini. Ia sangat menonjol dalam akhlak, kesederhanaan, kejujuran, keterbukaan, kesabaran, dan kerakyatan. Jokowi tak punya dosa masa lalu. Ia seperti kertas yang masih putih, makanya akan mudah diketahui kalau suatu saat ia ternoda. Tak perlu analisis rumit, sehingga semakin mudah meyakinkan massa rakyat untuk bangkit melawan dan mengutuknya.

Olehnya itu, kita berharap kelompok relawan Jokowi-JK yang begitu banyak tersebar di negeri ini, tidak bubar pasca Pilpres. Mereka sangat penting tetap ada untuk mengawal perjuangan dan mengontrol kerja-kerja politik Jokowi. Sehingga kalau suatu hari kelak (semoga tidak) Jokowi khilaf, maka kelompok relawan tersebut bisa segera bangkit mengkritik, melawan, dan mengutuknya.

Jadi AYO mengutuk Jokowi, ketika suatu saat terpenuhi syarat-syaratnya untuk dikutuk.

***

Setiap huruf  yang dirangkai, pasti akan bersaksi kelak diakhirat. Dari akar kesadaran itulah, tulisan ini dibuat.

Salam

a.zulkarnain

Jakarta, 8/7/14.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *