Ketidakmerdekaan di Hari Kemerdekaan

Tadi pagi, saat keluar rumah, saya lama muter-muter karena hampir semua jalan ditutup untuk lomba 17 Agustus-an. Acara tersebut tentu bagus untuk berbahagia bersama antar warga di momen kemerdekaan.

Penutupan jalan yang sebagian tanpa tanda di perempatan sebelumnya membuat kemacetan semakin parah. Warga lain yang mau keluar dengan membawa kendaraan kebingungan mencari jalan yang tidak ditutup. Jangankan mobil, motor saja kesulitan, karena ruas jalan ditutup sepenuhnya. Sesuatu yang patut disesalkan karena terjadi di kota, dimana proklamasi dikumandangkan.

Idealnya dua hal tersebut, kelancaran aktivitas warga dan kegiatan lomba bisa berjalan bersama. Sebab semua pihak tersebut membayar pajak sebagai tanda dukungan dan pemuliaan pada negara. Olehnya itu, perlu ada pengaturan yang jelas. Koordinasi dilakukan dengan baik diantara semua pihak. Sejatinya itulah fungsi negara. Dia sebagai polisi raksasa yang memiliki wibawa tertentu karena diberikan wewenang untuk mengatur. Keputusannya bersifat mutlak dan mengikat semua pihak.

Kejadian tadi, meyakinkan kita pada ucapan James madison “Jika orang-orang adalah sekumpulan malaikat. Tidak ada pemerintah yang dibutuhkan”. Manusia itu mau gampangnya aja. Tidak mau repot. Makanya, butuh diatur, dan pada beberapa hal perlu dijelaskan di awal bahwa ini sanksi kalau melakukan pelanggaran ini. Demikianlah dalam undang-undang dan peraturan lainnya, selalu ada penjelasan terkait konsekuensi hukum.

Kemerdekaan bagi sebagian, ketidakmerdekaan bagi yang lain. Ketidakmerdekaan untuk menjalankan agama yang diyakini, ketidakmerdekaan mencari kepastian nasib keluarga yang dihilangkan rezim, termasuk tidak merdeka untuk beraktivitas di peringatan hari kemerdekaan. Tentu ini adalah paradoks di hari kemerdekaan.

Foto: https://www.idntimes.com

Menuju Republik Manusia

Pendiri bangsa bersusah payah mengusir penjajah karena lelah atas derita. Derita ketika ada kebijakan yang tidak digodok bersama, tapi wajib dipatuhi oleh semua. Derita karena yang kuat seenaknya memperlakukan yang lemah. Derita karena masyarakat tidak didengar aspirasinya, bahkan tidak diakui kemanusiaanya.

Hajatan 17an ini adalah momen terbaik untuk merefleksikan Republik Indonesia terkait Republiknya Manusia. Republik manusia adalah suatu konsepsi bahwa ke depan watak kebinatangan dikerdilkan dan watak kemanusiaan ditinggikan.

Suatu republik, dimana buku yang tidak disukai, tidak dibakar, tapi dikritik dengan menulis buku yang lain. Suatu republik yang menghilangkan mekanisme penggusuran dalam penataan kota. Republik yang menjadikan agama sebagai vitamin utama dalam merekatkan semangat bernegara. Negara dan agama menjadi satu tarikan nafas karena sejatinya tujuan keduanya sama, yakni merawat dan menumbuhkan manusia, masyarakat dan alam semesta.

Terakhir, atas kesadaran dan mimpi itulah www.republikmanusia.com dilahirkan.

Salam

Andi Zulkarnain ZL

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *