VIRUS BESAR JOKOWI-MARC MARQUEZ

Kesamaan Marquez dan Jokowi adalah sama-sama menjadi fenomenal. Marquez mendapatkan banyak pengakuan atas prestasinya menjadi juara dunia di momentum pertamanya masuk Moto Gp 2013. Begitu halnya Jokowi yang menjadi fenomenal dalam dunia perpolitikan Indonesia. Bahkan kalau dicermati lebih jauh, sesungguhnya tidak ada orang yang paling sering dibicarakan di Indonesia, terutama dalam dua tahun terakhir selain Jokowi. Jokowi bukan hanya mengalahkan popularitas politisi yang lain, termasuk kepala negara, Pak SBY, tapi bahkan Jokowi lebih terkenal dari pada artis ternama yang ada dibangsa ini.

Dimesin pencari google kata Jokowi, ada  23,400,000 hasil, mengalahkan artis seperti Agnes: 5,350,000, Iwan fals: 4,640,000. Bahkan mengalahkan Pak SBY: 23,400,000. Padahal Pak SBY sudah hampir 10 tahun menjadi orang no 1 di negeri ini, sedangkan Pak Jokowi baru sekitar 2 tahun terakhir menjadi pembicaraan nasional.  (di cek pada 24 Mei 2014)

Marquez menjadi juara dunia Moto Gp dipenampilan perdananya dalam turnamen tersebut, bukanlah suatu kebetulan. Semuanya dicapai melalui kerja keras. Marquez sejak kecil terus berusaha menjadi yang terbaik dalam setiap turnamen. Menurut Jokowi pada sekolah lanjutan Jokowi lebih rajin belajar di rumah.” Di SD jarang belajar, tapi selalu juara. Tapi kalau SMP jadi lebih rajin dan sering juara kelas”. Saat berada di kelas 2 SMA, Jokowi menunjukan prestasi yang terbaik. Hasilnya, pada saat kelulusan Jokowi menjadi juara umum dan menjadi pelajar dengan nilai terbaik. (sumber ). Prestasi sekolah tersebutlah yang mengantar Jokowi bisa lulus di Universitas bergengsi UGM.

Marquez kecil dididik dengan derita. Dari orang tua yang hidupnya pas-pasan, dimana ayahnya sebagai pengemudi alat berat dan ibunya bekerja di perusahaan bidang logistik. Jadi orang tuanya tak ada yang berlatar belakang pembalap. Begitu halnya Jokowi yang dididik dengan derita. Jokowi menyaksikan orang tuanya dihina tetangga karena kemiskinannya. Jokowi kecil merasakan penihnya digusur dan ditelantarkan oleh negara. Itulah sebab Jokowi mampu bersabar atas segala fitnah dan serangan lain dari lawan politiknya, bahkan tentang fitnah atas ibunya sekalipun.

foto: forum.wscc.co.uk

foto: forum.wscc.co.uk

Yang menarik, ketika Jokowi telah sukses sebagai pengusaha, ia tidak dendam kepada para penghinanya dulu, tapi justru mengajak mereka untuk sukses bersama. Kita teringat kisah tokoh besar di abad ini, Nelson Mandela yang mampu memaafkan para pembencinya. Jokowi bersama pengrajin mebel lain di Solo mendirikan organisasi untuk bisa berjuang bersama agar sukses dan tembus pasar Eropa yang lebih luas.

Jadi kalau Jokowi mampu spontan dalam mengambil keputusan, termasuk mampu mengambil solusi yang terkesan out of the box. Itu bukan suatu kebetulan adanya, tapi karena Jokowi telah melatih dirinya berpikir logis, sistematis dan bersikap tulus sejak kecil. Hal itu pulalah yang mengantarkan Jokowi bisa tembus pasar Eropa dalam bisnis mebelnya.

Kemampuan Jokowi tembus dalam pasar Eropa membuktikan bahwa ia bukanlah pengusaha sembarangan. Beliau mampu membaca pasar Eropa dengan baik, beliau mampu membangun kepercayaan yang tinggi kepada para usernya. Ia juga berhasil menciptakan brand usahanya, yang membuatnya diterima di pasar Eropa tersebut. Jokowi tampil ditengah pasar Eropa yang sangat kompetitif. Dimana hampir semua pengusaha mebel berkelas di dunia bertarung disana.

Aturan (standar ISO) yang ketat di pasar Eropa dapat ditembus Jokowi karena ketekunanya yang tinggi. Misalnya, ketentuan data kayu yang dibuat menjadi mebel, siapa yang memotongnya, kapan di potong, apakah ada penanaman kembali, dan lainnya. Semua ketentuan tersebut Jokowi mampu penuhi, sehingga lolos di pasar Eropa yang terkenal sangat rumit.

foto: www.kabar24.com

foto: www.kabar24.com

Keberhasilan Marquez menjadi juara dunia 2013, termasuk kemampuanya mencapai poll position dan juga juara untuk 5 seri Moto GP 2014 secara beruntun membuatnya semakin diperhatikan oleh para lawan-lawannya. Akhirnya sekarang para pembalap Moto Gp beramai-ramai mencoba mempelajari dan mengikuti gaya balap Marquez. Karena mereka yakin bahwa untuk mengalahkan Marquez tak ada jalan lain, selain mengikuti gaya balapnya  .

Para pembalap mengakui bahwa adanya aturan balapan yang baru, termasuk masuknya banyak tekhnologi baru pada motor Moto Gp mengubah banyak hal dalam kompetisi Moto GP. Yang menarik karena dari banyaknya hal baru tersebut, Marquez yang paling cepat menyesuaikan diri dan menemukan rumus balapan baru. Hal tersebut terbukti dengan prestasinya yang spektakuler pada setiap race.

Marc Marquez fenomenal karena setiap balapan selalu menempel lutut dan sikunya di aspal saat menikung, termasuk gaya one wheel-nya. Yakni gaya mengerem yang membuat ban belakang terangkat untuk mengendalikan keliaran motornya saat akan memasuki belokan. ( lihat). Semua itu dianggap sebagai strategi brilian yang ditemukan oleh Marquez.

Adapun Jokowi menjadi fenomenal dalam dunia politik Indonesia karena blusukannya. Jokowi berhasil memberi makna yang utuh dan original atas blusukan. Ia mampu memasukkan unsur hati pada setiap blusukannya, sehingga menjadi efektif dan efisien  dalam menyukseskan program-programnya. Dengan blusukan Jokowi belanja masalah. Ia bertemu dengan masyarakat, mendengar keluhan, dan keinginan. Jokowi berkeliling untuk mendengar ceramah rakyatnya, bukan rakyatnya yang datang melapor dan kemudian diceramahi, sebagaimana umumnya pejabat dan politisi lakukan.

Jokowi spektakuler karena keberhasilannya menang dengan suara 91% pada pilkada periode keduanya di Solo. Termasuk menang mengalahkan  incumbent yang sangat diunggulkan, karena ditopang oleh mesin birokrasi dan dukungan parpol yang besar pada pilkada DKI Jakarta. Semua prestasi tersebut membuat Jokowi dilirik banyak pihak. Bukan hanya dalam negeri tapi juga politisi, pers dan peneliti luar negeri.

Gaya Jokowi yang apa adanya, mudah bergaul dengan siapa saja membuat semakin dicintai. Bahkan Jokowi tak segan untuk bergaul bersama dengan para wartawan. Makanya tidak heran kalau Jokowi menjadi media darling. Jadi selain karena ada perbuatan dan sikap Jokowi yang memang bernilai berita, juga karena jokowi berhasil memberi rasa penghormatan yang tinggi kepada wartawan. Sikap Jokowi yang santun dan hormat kepada siapapun merupakan prinsip kemanusiaan yang paling dasar. Tidak mesti berpikir rumit untuk memahaminya.

marc-marquez (1)

 Banyak Julukan

Kalau Marquez dikenal dengan julukan Baby Alien, titisan “The Doctor”, “The Rookie”,  ”The Record Breaker” karena prestasi spekatkulernya  dalam dunia balap (lihat). Termasuk bisa menjadi juara dunia MotoGP saat usianya baru menginjak 20 tahun pada musim balap 2013. Maka Jokowi dikenal dengan julukan “the street democracy”. Julukan tersebut muncul karena Jokowi lebih banyak menggunakan waktu di jalan melalui blusukannya. Jokowi berkekliling bertemu dengan rakyat, mendengar segala macam harapan dan gugatan rakyat. Semua input tersebut yang diolah menjadi output/ kebijakan.

Julukan lain Jokowi adalah Obama dari Jakarta. Kantor Berita Inggris BBC menyebut Jokowi sebagai Obama dari Jakarta. Artikel itu dimuat dalam BBC Asia, Rabu (23/1). Judulnya Flooding tests ‘Jakarta’s. Selanjutnya Jokowi diberi predikat sebagai “Mr Fix” dari majalah The Economist edisi Asia. Maknaya sangat luas,  bisa memperbaiki atau merapikan. Jokowi juga memperoleh label sebagai “The man in the Madras Shirt” dari majalah terkemuka, TIME. Hal itu karena Sukses Jokowi menggunakan baju kotak-kotak saat kampanye dalam Pilgub Jakarta. (lihat)

Gaya Jokowi Dan Marquez Dicontek

Sebagaimana Marquez yang dicontek gaya balapnya oleh rider lain, termasuk pembalap sekelas Valentino Rossi. Maka Jokowi juga ditiru gaya politiknya. Bahkan orang sekelas presiden SBY pun mencontoh gaya blusukan Jokowi. Meskipun terakhir terjadi pro kontra, karena ada pihak yang melihat blusukan SBY murni untuk pencitraan atas gagalnya SBY menciptakan kesejahteraan rakyat. (Lihat).

Kalau di Moto GP terjadi demam Marquez, maka di dunia politik Indonesia terjadi demam Jokowi. Kita menyaksikan hampir setiap pilkada, ada yang menggunakan atribut yang terkait Jokowi. Misalnya, baju kotak-kotak. Bahkan di Manado ada tagline: Di Jakarta Ada Jokowi, di Manado Ada GSVL (Dr GS Vicky Lumentut ) yang juga merupakan Walikota Manado saat ini.

Gaya Refleks Jokowi juga semakin banyak ditiru. Seperti yang dilakukannya saat mendampingi Presiden dalam acara Pembukaan Trade Expo Indonesia ke-27 di Jakarta International Expo Kemayoran, Jakarta. Aksi Jokowi itu berawal saat SBY melihat gong yang ingin dipukulnya berada pada posisi miring, tidak menghadap podium. Melihat hal tersebut, Jokowiyang berada di panggung bersama SBY, langsung sigap menggeser dan mengangkat gong agar mengarah ke podium. Kesigapan Jokowi itu mengalahkan ajudan SBY, yang akhirnya ikut membantu. (sumber).

Dulu pejabat merasa malu melakukan hal seperti itu, karena dianggap pekerjaan yang bisa menjatuhkan wibawahnya. Tapi ketika sering dilakukan Jokowi, dan mendapat apresiasi yang luar biasa dari rakyat yang merupakan pemilik suara sah dalam tiap pemilu, maka semakin banyak pejabat yang suka melakukannya. Contoh terbaru adalah saat Pak Hattarajasa menggeser sendiri mimbar yang menghalanginya bersama Pak Prabowo, saat akan berfoto bersama di gedung KPU pasca pendaftaran.

Jokowi-Capres-050913-Ak-1

Virus positif lain yang Jokowi telah sebar dalam perpolitikan di negeri ini adalah kebisaannya mengumumkan momen politik di tempat yang bersejarah, yang terkait dengan nilai-nilai kepahlawanan. Beliau  mengumumkan mandat pencapresannya di rumah si pitung yang dianggap sebagai pembela rakyat kecil. Begitupula saat pengumaman cawapresnya Pak JK diadakan di gedung juang 45 yang sarat akan makna perjuangan Soekarno, dkk.

Beberapa analis mengatakan bahwa strategi capres lain saat ini adalah mengikuti strategi yang dilakukan Jokowi. Misalnya meggunakan baju putih, pelekatan simbol Soekarno, pemilihan tempat serta momen bersejarah.

Kalau mengikuti logika di Moto GP bahwa hanya dengan menyontek gaya Marquez maka bisa bersaing dengan Marquez. Kalau di perpolitikan Indonesia, hanya dengan dengan menyontek gaya Jokowilah maka dapat bersaing dengan Jokowi. Meskipun perlu ada catatan bahwa Marquez juga terus mengupgrade dirinya untuk mencapai kemenangan yang lebih spektakuler. Begitupula dengan Jokowi.

Masyarakat Indonesia juga semakin cerdas setelah melewati tiga kali pemilihan langsung. Masyarakat paham, siapa kandidat yang sudah mengerjakan idealitas, dan siapa yang masih menjanjikan idealitas.

Salam.

TOLAK Politik SARA

Pemilu untuk keutuhan dan kebesaran NKRI, bukan sebaliknya.

* Penulis sedang menulis Tesis tentang: Fenomena Politik Jokowi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *