Ulama-Ku dan BBM ku

Ulama-ku saat ini bangsa kita sedang berpolemik tentang kenaikan harga BBM

Ulama-ku saat ini banyak mahasiswa, buruh, wartawan, dll menjadi korban, ada yang terkena busur, ada yang dipenjara, dan ada yang tertembak.

Ulama-ku tadi aku begitu menanti khotbah jumatmu. Aku mengira engkau akan menjelaskan analisamu tentang polemik harga BBM dalam perspektif Islam.

Bukankah Islam adalah agama yang kaya, agama yang komprehensif. Lantas bisakah Islam memberi pencerahan atas polemik besar yang melanda elit & grass root bangsa ini.

Tapi ternyata aku dan banyak jamaah jumat kembali harus pulang dengan kesedihan yang dalam. Engkau kembali menakut-nakuti kami tentang neraka yang jauh diakhirat kelak. Padahal kenaikan harga BBM yang didahului oleh kenaikan Sembilan Bahan Pokok (Sembako), termasuk rencana naiknya biaya transportasi, ancaman PHK terhadap buruh, dll adalah neraka yang sangat dekat. Neraka yang sudah nyata.

Ya, memang semua nabi membahas tentang masalah eskatologi, tapi kan mereka juga membahas dan melawan kezaliman didepan matanya.

Islam begitu mantap menjelaskan hari esok yang begitu abstrak. Lantas, kenapa engkau tidak menggunakan Islam untuk menjelaskan realitas hari ini yang begitu empirik.

Ulama-ku, aku galau denganmu. Disatu sisi aku begitu cinta dan fans kepadamu, tapi disisi yang lain engkau selalu saja diam atas masalah nyata ummatmu.

Dari tema ceramahmu, seolah engkau sedang tinggal di langit sehingga tidak paham apa masalah dan apa kebutuhan tematis dari ummatmu yang menetap di bumi.

Berminggu-minggu jumatan berlalu dengan pilihan tema yang jauh dari realitas sosial. Itulah penyebab kenapa hampir semua ceramahmu tidak meresap dalam jiwa ummatmu. Sehingga kelelahanmu dalam berceramah tidak memberi efek riil dalam kehidupan pribadi dan bermasyarakat.

Ummat yang mendengar ceramahmu tak bisa menjadi rahmatan lil alamin (rahmat bagi seluruh semesta alam), justru mereka banyak yang ditangkap KPK, banyak yang menipu satu sama lain, banyak yang hanya ingin menang sendiri. Mereka melanggar semua aturan, mulai dari aturan berumah tangga, aturan berlalulintas, aturan bertetangga, dan berbagai aturan lainnya.

Ulama-ku, ini bukan nasehat bagimu. Bagaimana mungkin aku yang kotor dan hina ini, bisa memberi nasehat dan pencerahan kepadamu.

Ulama-ku, Engkau begitu tinggi bagiku, engkau memiliki banyak jamaah, engkau punya ribuan bahkan jutaan fans. Sedangkan aku tak punya satu pun fans. Olehnya itu, tulisan ini, hanyalah ungkapan kegalauan, dari seseorang yang mengidolakanmu.

Sangatlah wajar kalau fans memiliki cinta dan harapan kepada idolanya.

Nah, pada posisi itulah penulis mengabadikan kegalauan ini.

Salam kemuliaan kepadamu wahai ulama-ku.

Mohon doa dan nasehatmu selalu.

Sungguh engkau jauh lebih mulia daripada para politisi busuk yang mendiami negeri ini. Yang terus menipu rakyat dengan berbagai dagelan politiknya, termasuk dalam episode polemik harga BBM saat ini.

Salam Hari Jumat

Hari untuk mengevaluasi nilai-nilai perjuangan (kebenaran, keadilan dan kemanusiaan) para nabi-nabi diatas bumi Allah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *