Tarian Politik Ahok

Ahok akhirnya memilih partai politik sebagai kendaraannya untuk kembali duduk sebagai DKI 1. Kehebohan pun terjadi, ada yang melihat sikap tersebut sebagai pengkhianatan, gugurnya sebuah integritas yang selama ini melekat kepada sosok politisi muda tersebut. (Tentu tanpa melupakan isu kontroversial, terkait reklamasi, dan lainnya). Ahok dinilai telah menipu sekitar satu juta warga DKI yang telah menyetor KTP-nya. Dan tentu telah mengecewakan dan menyepelekan kucuran keringat dari teman Ahok yang bekerja siang malam untuk melakukan pemenuhan syarat agar Ahok bisa menjadi calon independen yang diamini oleh Undang-undang.

Saya justru melihat, Ahok dan tim intelektualnya sudah sangat paham pilihan yang akan diambilnya saat ini, maju melalui partai politik. Ahok justru sukses menghabiskan energi lawannya untuk menghadapi sekitar 10 penggerak teman Ahok yang berumur rata-rata dibawah 30 tahun. Lawan Ahok dari berbagai partai dan faksi cukup kewalahan merespon gerakan anak muda tersebut. Setelah satu tahun berdialektika di dunia nyata dan dunia maya, barulah Ahok menyampaikan sikap untuk maju melalui partai politik.

Foto: temanahok.com

Foto: temanahok.com

Teman Ahok tidak sia-sia.

Disaat lawan politik Ahok belum menjalankan mesin politiknya secara terukur, mesin Ahok justru sudah bekerja, terbukti 1 juta KTP terkumpul sebagai bukti loyalitas. Gerakan teman Ahok telah menjadi gerakan relawan yang bekerja jauh lebih dini dibanding gerakan lawan politik Ahok yang masih bingung, harus mengusung siapa untuk menghadapi Ahok.

Jadi kalo ada yang mengira bahwa kerja teman Ahok sia-sia, itu merupakan kesimpulan yang terlalu dangkal. Teman Ahok adalah wajah dari sebuah gerakan sosial politik yang menginginkan pemimpin lahir dari permintaan rakyat, bukan hanya olahan tukang olah di level elit yang membaca realitas dari langit, dan selalu takut, ragu, dan jijik menginjak bumi.

Pengumpulan KTP juga sejatinya hanya untuk memastikan Ahok bisa maju dalam pilkada DKI, bukan bermaksud untuk melawan partai. Langkah tersebut penting, agar disaat menjelang pendaftaran bakal calon, Ahok sudah punya kendaraan yang sudah pasti, bukan katanya atau nantinya. Maklum, dalam dunia politik, hitungan detik pun sangat berpengaruh.

Bagi warga yang merelakan KTP-nya digunakan sebagai dukungan untuk Ahok tentu sudah sangat memahami karakter Ahok. Bahwa Ahok rela keluar dari Gerindra demi penghormatannya pada prinsip pemilihan kepala daerah secara langsung, dan melawan sikap Gerindra yang ingin menerapkan sistem pemilihan melalui DPRD. Ahok juga kelihatan berani melawan keinginan politisi di Kebon Sirih  yang bertentangan dengan etika dan aturan hukum. Dari jejak Ahok tersebut, fans Ahok yang terkumpul dalam teman Ahok, bisa menilai bahwa Ahok maju secara independen maupun partai politik bukan dua hal yang saling menegasi,  tapi keduanya bisa saling memperkuat.

foto: jakarta.bisnis.com

foto: jakarta.bisnis.com

Membaca Peta Lawan dan Kawan

Strategi dari teman Ahok juga berhasil membuka siapa lawan dan kawan Ahok yang sebenarnya. Lawan dan pembenci Ahok telah memperlihatkan dirinya dengan serangan habis-habisan melalui isu Sumber Waras, reklamasi, isu Ras, dan sentimen agama. Ahok juga bisa mengukur bagaimana kesiapan publik jakarta atas berbagai isu tersebut.

Proses panjang kemarin, juga membuat Ahok dan tim bisa menilai, siapa yang layak dimasukkan ke dalam ring 1, ring 2, ring 3 dan masuk dalam ring tinju. Jadi kalau ini suatu balapan, maka Ahok telah melalui sesi kualifikasi dan sesi pemanasan dengan sempurna, sehingga paham betul arena dan kualitas lawan-lawannya. Bahkan Ahok berhasil mengambil posisi start dengan pole position. Sebagaimana hasil survei Lembaga Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) yang menunjukkan bahwa 58 persen warga DKI Jakarta menginginkan Ahok kembali menjadi gubernur DKI periode 2017-2022.

Ahok dan ring 1 sudah belajar banyak pada proses politik di Indonesia, bahwa ketika skenario inti terlalu cepat diumumkan ke publik, maka lawan akan segera membangun kekuatan untuk menghancurkannya. Makanya, perlu beberapa skenario yang dibuka untuk mengetes sekaligus memusingkan lawan. Kesuksesan ini, juga terbukti ampuh, ketika Jokowi diumumkan maju capres pada detik-detik terakhir. Lawan politik bingung menghadapi waktu yang terlalu sempit, dan kesimpulannya KPU mengumumkan Jokowi-JK sebagai presiden terpilih.

foto: www.ributrukun.com

foto: www.ributrukun.com

Bargaining Ahok

Dengan hadirnya organisasi sosial politik bernama Teman Ahok, dan beberapa organ lainnya. Ahok tidak perlu datang ke parpol dengan kepala menunduk. Ia bisa datang sebagai seorang politisi muda dengan 1 juta pemilih loyal, serta mesin politik yang siap bertarung tanpa perlu dilegitimasi oleh SK.

Ahok tentu paham bahwa ada banyak karakter dan faksi di elit partai. Ketika datang dengan tangan kosong, maka tentu akan dipeloncoh dan dikerjai dengan berbagai permintaan yang lebih mirip pemerasan. Dengan adanya dua kesempatan untuk maju, jalur independen dan parpol, maka Ahok telah jauh lebih maju dibanding lawannya yang masih sibuk memperdebatkan agama dan ras Ahok.

Kerjasama relawan dan partai dalam proses politik DKI kedepan merupakan suatu racikan yang sangat sempurna yang sangat sulit dilakukan oleh politisi yang lain. Kedua mesin tersebut bisa saling melengkapi dan juga saling mengawasi untuk meminimalisir terjadinya abuse of power.

salam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *