Surga Buku di BBW Book Sale

Untuk sampai ke surga buku ini di ICE BCD Tangerang, kami harus berjalan jauh (meminjam diksi yang hak patennya sama kaka Fauzan Mukrim), sekitar 41 km dengan melewati dua pintu tol. Agar bisa terbebas dari antrian masuk dan kasir yang mengular, maka kami mentaktisi dengan berangkat jam 2 dini hari. Jam 3 sampai langsung belanja sampai panggilan subuh menyapa. Setelah itu, bergegas ke parkiran lagi untuk segera meninggalkan lokasi. Itu adalah taktik terbaik untuk bisa terbebas dari derita macet. (Oh ia, jika anda sulit ke sana, apalagi besok sudah penutupan, maka bisa minta tolong sama ka fauzan dan tim yang membuka jasa titip)

Dengan jumlah buku 5,5 juta, maka kita bisa memanjakan selera intelektual. Menurut panitia ini adalah bazar buku terbesar di dunia. Saya teringat ucapan Jim Rome : ‘Orang miskin punya TV Besar, tapi Orang kaya punya perpustakaan Besar’. Berbagai genre bisa kita temui di event ini. Di cover belakang buku, masih ada keterangan tentang harga dalam bentuk rupiah, dollar sampai poundsterling. Itu menjelaskan bahwa buku-buku tersebut dipasarkan dan dikonsumsi dimana saja sebelumnya.

Di sana, kita akan temui ada beberapa orang yang datang dengan membawa koper. Itu untuk memudahkan proses pengangkutan buku dari kasir ke titik parkir. Sebab, keranjang hanya direstui sampai pintu keluar hall.

Agenda ini memang selalu menghipnotis banyak kalangan karena di desain secara profesional. Dengan fasilitas tempat yang cukup mewah dan parkiran yang sangat luas

KOLEKSI BUKU ANAK

Buku untuk kategori anak cukup banyak dengan derajat kualitas yang biasa sampai excelent. Pada sekolah parenting, kami diberitahukan bahwa buku yang bermutu dicirikan dengan warna yang jelas karena anak usia dini masih proses mengenal warna. Makanya, ketika kita memperlihatkan warna merah kepada bayi, maka ia harus merah sebagaimana merah. Bukan merah yang kabur sehingga seperti pink, dan lainnya. Poin lainnya, buku yang baik adalah yang bahannya aman ketika digigit. Menurut ilmuan, bayi belajar dengan menggunakan tubuh, makanya apapun yang ada di dekatnya selalu ingin dimasukkan ke mulut.

Yang menyedihkan karena buku dengan standar mutu tersebut hampir semua impor. Beberapa buku luar juga mencantumkan usia pembaca sehingga konten bacaan sesuai dengan hasil riset tentang tahap perkembangan. Hal tersebut membantu orang tua untuk memberikan makanan jiwa yang sesuai untuk anaknya. Seperti yang pernah saya ulas di tulisan sebelumnya bahwa memberi anak nasi itu bagus, tapi bagi bayi yang belum punya gigi itu namanya menyakiti. Demikian juga bacaan. Niat baik tak cukup, harus ada pengetahuan tentang derajat kemampuan anak mencerna informasi sesuai tahap perkembangannnya.

Makanya, orang tua yang katanya mencintai anaknya, tapi malas membaca hasil riset, buku, jurnal tentang anak, maka perlu dicek tafsir cinta apa yang beliau maksud? Peternak ayam saja rajin membaca hasil riset tentang dunia ayam agar proses tumbuh kembang ayamnya sesuai dengan tahap perkembangannya.

MENCARI BUKU BERKUALITAS

Anak tumbuh dengan asupan buku berkualitas. Tanpa itu, maka jadinya seperti saat ini, ketajaman jempol lebih tinggi daripada ketajaman berpikir dan menganalisis. Orang hari ini hidup tanpa kebiasaan penting bertanya, mana datanya, apa faktanya. Padahal dua pertanyaan tersebut menuntun kita pada keselamatan.

Di suatu forum sekolah parenting saya pernah bertanya, kenapa buku anak yang berkualitas tinggi, baik konten dan bahannya sulit ditemui di Indonesia. Katanya, karena di sini karya begitu mudah untuk di plagiat atau di fotocopy. Makanya, orang-orang kreatif sulit tumbuh. Perlindungan hukum atas suatu karya belum menjadi tema penting.

Jadi yang suka plagiat atau fotocopy karya orang, Selamat telah menjadi bagian dari sepinya buku berkualitas.

***
Mari ciptakan buku berkualitas karena buku adalah syarat menuju republiknya manusia.

salam

www.republikmanusia.com

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *