SURAT UNTUK ROSSI cc Marquez-Lorenzo

Terima kasih Rossi telah membuka topeng Marquez.

Marquez dikenal sebagai baby alien, tapi ternyata dia hanya baby. Mentalnya masih sangat rapuh untuk menjadi legenda sepertimu.

Setelah lama menganalisis, apa penyebab Marquez rela menyakitimu pada detik-detik penentuan juara dunia Moto GP 2015. Padahal Marquez adalah pembalap yang engkau seperti buatkan pengkaderan khusus. Engkau memanggilnya ke sirkuit pribadimu di Italy. Mengajaknya balap bareng bersama teman-temanmu yang lain. Tentu di sana tak hanya balap, tapi juga ada acara makan, ngobrol dan berbagi ilmu balap. Di kampung kami siapapun orang yang pernah mengajak atau memberi makan harus dimuliakan, apalagi orang yang pernah menurunkan ilmunya,maka ia harus ditinggikan.

Dari beberapa ucapanmu di depan wartawan, seolah engkau telah mempersiapkan Marquez untuk menjadi penggantimu. Engkau memujinya bahwa Marquez akan menjadi pembalap masa depan yang melegenda, bahkan melebihi dirimu.

Engkau juga selalu memberi selamat dan motivasi di saat Marquez meraih podium. Bahkan disaat dia menyalipmu di seri Amerika dengan cara yang persis dulu engkau lakukan kepada Stonner, engkau tidak marah tapi justru mendatanginya dan memeluknya. Seolah engkau ingin menjelaskan kepada para jamaah Moto GP bahwa satu ilmumu sudah turun atau dikuasai dengan sempurna oleh Marquez.

Marquez harusnya mengingat bahwa disaat dia diserang oleh pembalap senior seperti Lorenzo, di awal dia naik kelas Moto GP karena gaya balapnya yang dianggap berbahaya, maka engkau adalah pembelanya. Engkau pasang badan atas gaya agresif dan berbahaya Marquez, kepada para pembalap senior, panitia serta publik dengan mengatakan bahwa Marquez akan lebih hebat dari saya.

Foto: motomatters.com

Foto: motomatters.com

Pujianmu yang rutin kepada Marquez membuat banyak pecinta Moto GP kemudian secara perlahan mengidolakan Marquez. Bahkan ada yang mulai mengidolakanmu secara bersamaan dengan membuat tagline Marquez-Rossi (Maros), ada pula yang mulai berpikir bahwa mereka sudah punya idola baru saat nanti engkau pensiun dari kelas Moto GP, bahkan ada pula yang sudah pindah mengidolakan Marquez karena beberapa tahun terakhir dia cukup mendominasi Moto GP. Tapi karena kebodohan Marquez di Sepang serta di Valencia 2015 membuat fansmu dan banyak fans berat Moto GP yang mengutuknya serta fansnya banyak menyesal. Mereka sadar bahwa mereka telah salah mengidolakan seseorang.

Nasionalisme Spanyol Yang Tak Konteks

Sikap Marquez di 3 seri terakhir ini kepadamu juga memperlihatkan kebohongannya, seperti yang pernah engkau tanyakan langsung kepadanya, apakah betul ia adalah fans beratmu, apakah ia pasang postermu di kamarnya, benarkah ia banggakan foto barengnya denganmu. Atau semua itu hanya skenario untuk merebut hati fansmu, serta mengambil hatimu agar mau menurunkan ilmu balapmu kepadanya. Karena sekiranya ia betul fans beratmu, maka mustahil ia akan melukaimu seperti yang ia lakukan saat ini. Sikap marquez saat ini, dan persekongkolannya dengan Lorenzo menjadi bukti kuat bahwa memang dia tak pernah benar-benar hormat dan kagum kepadamu. Sebagaimana pengakuan Lorenzo tentang konspirasi Spanyol, “Mereka tahu apa yang sedang saya hadapi. Faktanya mereka adalah orang Spanyol seperti saya, membantu saya…Itu membantu saya karena pastinya di balapan lainnya, mereka bakal mencoba menyalip, yang mana mereka tidak lakukan kali ini…Jika Valentino ada di posisi saya dan ada para pebalap Italia di belakang mereka, mereka akan melakukan hal yang sama. Titel ini sepatutnya untuk Spanyol,” tandas pebalap 28 tahun ini.(sumber)

Foto: aripitstop.com

Foto: aripitstop.com

Karakter balapnya yang berubah drastis di tiga seri terakhir, terlihat dengan Lorenzo begitu mudah melambungnya, sedangkan engkau begitu dipersulit, bahkan terus diganggui. Di Sepang, ia mempertontonkan gaya balap yang sangat jorok untuk kelas Moto GP. Setiap habis melambungmu, dia segera memperlambat kecepatan. Dan setiap engkau berusaha melambungnya, segala tenaga dikerahkan untuk menghadangmu, bahkan dengan manuver yang sangat berbahaya.

Kalau alasanya Marquez dendam kepadamu karena bersenggolan denganmu dan jatuh di seri Argentina, kemudian engkau kalahkan di tikungan terakhir di Assen Belanda, serta ucapan (peringatan) kerasmu tentangnya saat konferensi pers pasca seri Philip Islands, maka langkah dia untuk membatalkanmu juara dunia dengan berbagai intriknya bersama Lorenzo merupakan sikap yang sangat berlebihan.

Di usiamu yang ke-36 dan keterlibatanmu sekitar 20 tahun di Moto GP, dan mimpimu untuk juara dunia ke 10 kali sebelum pensiun, harusnya tidak dirusak oleh Marquez hanya karena persoalan tersebut. Bayaran (balas dendam) Marquez terlalu mahal (berlebihan), sehingga ia harus membayar ulang utangnya tersebut seumur hidupnya.

Ya, sekiranya semua manusia pernah melakukan kebodohan besar dalam hidupnya, maka Marquez melakukan itu dengan sempurna di akhir musim 2015 ini.

Engkau mengajarkan bahwa Moto GP adalah milik dunia, bukan milik satu negara. Makanya, tema nasionalisme tidak tepat dibahas dalam Moto GP, karena justru akan mengotori olahraga ini. Engkau dulu bertarung habis-habisan dengan Max Biaggi padahal dia se-negara denganmu. Ianone juga adalah juniormu dari Italy tapi engkau tak pernah meminta dia untuk amankan posisimu, sehingga di Philip Ilands Ianone bertarung full untuk mengalahkanmu dan membuatmu batal naik podiam. Dan engkau menghargai itu sebagai balapan. Makanya, apa yang dilpertontonkan Lorenzo dan Marquez tidak mencerminkan sebagai sebuah olahraga balap, tetapi hanya sebuah opera sabun.

Foto: twitter.com

Foto: twitter.com

Marquez Syirik Kepadamu?

Setelah Mateo (pengamat Moto GP Indonesia) menjelaskan di acara khusus Sepang Clash di salah satu stasiun TV, bahwa penyebab Marquez melakukan itu adalah SYIRIK.

Saya cukup lama merenungkan makna dari kalimat Mateo tersebut. Terakhir saya harus mengiyakan itu, karena sejatinya, hanya Syirik-lah yang bisa membutakan dan merusak akal sehat.  Karena syirik, maka Marquez bisa melupakan segala kebaikan yang telah engkau berikan kepadanya, bahkan ia siap menerima untuk dicaci dan dikutuk oleh para fansmu dan fans Moto GP lannya.

Mateo menjelaskan bahwa syiriknya Marquez karena dia ingin sekali mengalahkan rekormu. Jika engkau kembali juara dunia di musim 2015 ini, maka Marquez akan semakin kesulitan mengalahkanmu, karena engkau juara dunia ke 10 kali, sedangkan dia baru 4 kali untuk semua kelas.

Foto: weheartit.com

Foto: weheartit.com

Tentu sangat manusiawi orang bermimpi dan berjuang menjadi legenda, tapi kalau cara yang digunakannya kotor, maka itu akan membatalkan semuanya. Ketika Marquez terbukti kuat di Philip Islands, Sepang, dan Valencia untuk menjadi bodyguard Lorenzo, berdasarkan data komputer tentang kecepatan motornya yang bisa dilihat di web resmi Moto GP, bahkan terlihat secara kasat mata, maka Marquez telah menghancurkan dirinya sendiri.

Gaya balap Marquez tidak lagi keras dan agresif di saat tiga seri terakhir balapan musim ini. Dia tidak lagi membalap untuk posisi juara, tapi dia menggunakan skill agresifnya itu hanya ketika berhadapan denganmu agar engkau terganggu dan tidak bisa mendahului Lorenzo. Sebaliknya, gaya balap Marquez menjadi sangat sopan ketika berhadapan dengan Lorenzo.

Saya kurang tahu, apakah ia sadar bahwa penonton sangat paham atas permainan kotornya di tiga seri terakhir. Sekiranya ia tidak sadar, berarti Marquez berpikir bahwa yang paham balapan hanyalah dirinya, sehingga penonton dan para penikmat Moto GP bisa dengan mudah dibodohi.

Memang wajar kalau ada orang yang syirik kepadamu (Rossi), karena engkau sudah terlalu besar dalam olahraga ini. Mungkin Marquez merasa bahwa saat ini dia memiliki kemampuan balap yang lebih baik karena masih muda, tapi kenapa para jamaah/ fans Moto GP masih saja ada bersamamu.

Foto: iyaora.blogspot.com

Foto: iyaora.blogspot.com

Sekiranya begitu, maka Marquez lupa bahwa Moto GP sejatinya bukan hanya persoalan kecepatan gas, ketepatan pengereman, keberanian menikung, dan kekuatan mesin, tapi yang lebih penting dari itu adalah hubungan kemanusiaan antara pembalap dengan para penonton. Itu yang Lorenzo dan Marquez lupa. Mereka memang pembalap yang hebat dibuktikan dengan Lorenzo juara dunia 5 kali dan Marquez 4 kali untuk semua kelas, tapi mereka selalu merayakan kemenangan hanya untuk dirinya, mereka tidak memberikan kemenangan itu kepada para fansnya dan seluruh penonton. Itulah perbedaaan mereka denganmu. Mereka minta dicintai oleh para fans, sedangkan engkau justru selalu memberikan cinta kepada para fans. Memang kualitas kemanusiaan diukur pada kemampuan memberi, bukan pada kemampuan meminta.  Seperti yang pernah diucapkan oleh  Erich Fromm bahwa penyakit manusia modern adalah selalu minta dicintai, dan lupa untuk mencintai. Mereka sesungguhnya sedang dihinggapi penyakit itu.

Mesin vs Manusia

Engkau adalah pembalap yang tidak menjadikan Moto GP hanya sekedar arena persaingan mesin tercepat dan tercanggih, tapi juga ruang untuk merefleksikan kemanusiaan. Engkau pernah mengkritik sistem Moto GP belakangan ini yang dipenuhi dengan sistem komputerisasi dan terlalu banyak aturan sehingga mengurangi peran manusia dalam dunia Moto GP. Yang terjadi hanyalah sekedar pertarungan mesin vs mesin.

Foto: www.pinterest.com

Foto: www.pinterest.com

Dulu dimasa jayamu bersama Tim Honda, engkau memilih keluar karena tidak terima dengan ucapan salah satu petinggi Honda bahwa motorlah yang membuatmu jadi juara, bukan kualitas manusia (skill balap mu). Kemudian di saat engkau pindah ke Tim underdog Yamaha, ditahun pertama engkau langsung juara dunia. Disana engkau membantah dengan elegan dan kongrit bahwa manusia lebih tinggi dari mesin.

Engkau juga begitu peduli pada kamera, karena engkau sadar bahwa dengan alat itulah para fans mu bisa melihat dan mendoakanmu. Dengan kameralah engkau bisa menyapa jutaan manusia yang sedang menikmati tarianmu di lintasan. Engkau juara bukan hanya karena skill balapmu, tapi juga karena ketinggian akhlakmu. Engkau memaknai Moto GP bukan sekedar adu kehebatan mesin, tapi juga interaksi antara manusia. Interaksi antara pembalap dengan pembalap, mekanik dan juga penonton di seluruh dunia. Sungguh ini yang belum dipahami oleh Marquez dan Lorenzo. Mereka adalah juara dunia yang kesepian. Yang berbahagia atas kemenangannya, hanyalah dirinya, keluarga dan timnya, bukan kebahagiaan manusia secara universal.

Engkau begitu memuliakan motormu, sebelum balapan dimulai engkau duduk disamping, seperti sedang mengajaknya berdialog untuk suatu balapan yang selalu  penting. Engkau juga sangat meninggikan angka “46”, engkau selalu menolak memakai nomor berapa pun kecuali angka “46”. Ketika engkau juara dunia dan punya hak menggunakan  angka “1”, engkau tak menggunakan hak mu itu. Di sana engkau mengajarkan bahwa untuk menjadi terbaik dan dihargai orang, tidak harus angka “1” terpasang di motor. Yang lebih penting dari angka “1”adalah menciptakan tarian indah pada setiap balapan agar penonton terhibur dan bahagia.

Foto: en.wikipedia.org

Foto: en.wikipedia.org

Makna Tragedi Sepang

Saya sepakat dengan apa yang diungkapkan oleh mantan rival terberatmu Nicky Hayden, bahwa engkau bukan orang munafik. “Vale bukan orang munafik. Dengan saya, ia selalu tepat dan jujur. Kami menjalani banyak pertarungan hebat tapi kami tidak pernah mengalami peristiwa aneh macam ini. Tak ada yang menyangka ia akan menyerang Marc (Marquez) secara verbal sebelum race di Sepang. Tapi, jika Vale mengatakan sesuatu, pasti ada alasannya. Saya tidak ragu soal ini,” celoteh Hayden. (sumber)

Ketika engkau marah kepada Marquez di Sepang, itu memang karena Marquez telah melakukan sesuatu yang merusak kemuliaan dan kemurniaan dunia balap Moto GP. Ia membalap sebagai bodyguard. Ia membalap untuk menghalangimu menuju juara dunia, bukan membalap untuk meraih posisi terbaik pada seri itu.

Maka engkau sebagai pembalap yang paling senior di Moto GP sangat wajar ketika melakukan suatu keputusan yang tegas kepada Marquez dengan memberinya pelajaran bahwa tidak boleh ada permainan kotor dalam Moto GP. Itu penting sekali, bukan hanya untuk Marquez tapi untuk Moto GP dan para pembalap lainnya di masa depan. Itu pun sekiranya Moto GP masih berlanjut karena masih ada yang mau menontonnya.

Apa yang engkau lakukan, mirip dengan kisah para legenda lainnya, seperti Zidane yang tidak ingin dalam sepakbola ada isu rasisme. Tyson yang tidak mau tinju menjadi arena merangkul untuk terus bertahan, dan lupa untuk bertarung. Mereka semua hanya ingin menjaga marwah olahraga yang mereka geluti dan pahami filosofinya.

Foto: www.fanpop.com

Foto: www.fanpop.com

Pindah ke Superbike?

Itu keputusannya ada padamu. Jutaan orang menunggu keputusanmu. Apakah Moto GP masih perlu ditonton, atau ada liga balap lain yang menarik untuk dinikmati karena pihak penyelenggara lebih fair, misalnya superbike, dll.

Beberapa pihak khawatir jika engkau pindah ke Superbike maka banyak pecinta Moto GP juga akan pindah. Karena konteksnya engkau pindah karena merasa dizalimi oleh pihak penyelenggara Moto GP (Dorna) yang dipimpin oleh orang Spanyol dan berkantor di Spanyol. Engkau diberi sanksi, tapi pembalap Spanyol yang juga bermasalah dan menjadi penyebab masalah diloloskan.

Sebagaimana yang diucapkan oleh ayahmu tentang adanya konspirasi Spanyol dalam Moto GP. “Penyelenggara olahraga ini (Dorna) adalah orang Spanyol, dan mereka membiarkan Marquez terus menghalangi Valentino seperti yang dia lakukan di Australia. Ini masalah yang sangat serius…Anak saya telah melaporkan tindakan Marquez (di sesi interview hari Kamis di GP Malaysia), tetapi penyelenggara (MotoGP) mengabaikannya.” (lihat)

Juara sejati  versi Masyarakat Moto GP

Berbagai spanduk di arena dan komentar di media sosial oleh pecinta Moto GP, tentang Marquez dan Lorenzo, seperti, Dog and his owner, The moment when you win the race but at the same time people lose respect at you @marcmarquez93 @lorenzo99, you’re just a bad imitation of Valentino Rossi , I think the biggest loser of this season is @marcmarquez93 By his actions, he has lost many his own fans as well as respect of the rest, Shame on both of you @marcmarquez93 @lorenzo99. Such a dirty tactic, The moment when you win the race but at the same time people lose respect at you @marcmarquez93 @lorenzo99, Do you need a bodyguard or want a hand to win a GP? Call @marcmarquez93. Semua ucapan tersebut menjadi bukti bahwa Marquez dan Lorenzo kalah dan agak terhina di hati publik Moto GP.

Dan komentar tentangmu di media sosial, seperti Marq tidak pernah bisa menjadi Rossi, Rossi people champion, untuk mengalahkan rossi…..butuh tiga jawara spanyol….ditambah panitia, hakim, dan organisasi yg terkait, Lorenzo wins the race but Rossi wins our heart, Juara dunia tanpa mahkota dan banyak lagi, menjadi bukti bahwa untuk saat ini, ucapan, Moto GP adalah Rossi dan Rossi adalah Moto GP adalah masih sangat relevan.

Engkau juga telah mengajarkan bahwa yang paling utama dalam hidup adalah merebut hati masyarakat (penonton). Bukan sekedar kemenangan pada tiap race dan musim. Karena apa guna kemenangan, tapi dipenuhi dengan kutukan publik.

Marquez lupa atau sengaja ingin lupa bahwa dengan melukaimu sebagai maha guru Moto GP, maka sama dengan ia melukai pecinta Moto GP di seluruh dunia. Marquez berusaha merusak karirmu, ternyata dia lupa bahwa ia sedang merusak dirinya. Marquez, Lorenzo dan Dorna lupa bahwa masih banyak orang yang berprinsip “menyakiti Rossi adalah menyakiti diriku”.

Foto: www.pinterest.com

Foto: www.pinterest.com

Salam Duka untuk Marquez

Saya juga ingin mengucapkan salam duka kepada Marquez, selama ini saya cukup intens mempromosikan kehebatan dan kemuliaannya. Saya beberapa kali menulis tentang fenomena dan teori barunya di Moto GP, maka melalui surat ini, saya juga ingin mengatakan bahwa inilah citra Marquez saat ini. Saya kurang tahu bagaimana cara terbaik baginya meminta maaf kepadamu, kepada para fans mu dan pecinta Moto GP agar namanya bisa baik kembali. Itupun sekiranya kesempatan itu masih ada.

 

Selamat Valentino Rossi

Terima kasih telah mengiringi dan memeriahkan hidup generasi kami

Terima kasih telah menghibur akhir pekan kami.

Engkaulah sang juara tanpa trophy.

Ditanganmulah Moto GP bukan hanya tentang mesin, tapi juga tentang manusia dan kemanusiaan.

 

Salam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *