SAMANTHA dan MATINYA SARA

Samantha Editsho mencuri perhatian dunia karena menjadi yang terbaik pada kejuaraan catur kadet dunia 2018 yang diadakan di Spanyol. Anak pertama dari dua bersaudara, pasangan Larry Edith dengan So Siau Sian ini diprediksi beberapa kalangan sebagai calon Grand Master termuda di dunia dari Indonesia. Samantha melengkapi atlet besar Indonesia yang berdarah Tionghoa, seperti Liem Swie King, Haryanto Arbi, Lilyana Nasir, Susi Susanti, Rudy Hartono, Tan Tjoe Hok, Susyana Tjhan, Lindswell Kwok, Rio Haryanto dan lainnya.

“Saya gembira dapat menjadi juara dunia. Gelar juara ini saya persembahkan bagi bangsa Indonesia” kata Samatha yang masih berumur 10 tahun (Kompas, 17/11/18).  Semoga yang lebih tua dari gadis cilik ini bisa belajar banyak, bahwa perlombaan kita sejatinya, yang lahir, cari makan, buang air dan akan dikubur di bumi Indonesia adalah perlombaan menciptakan karya dan membahagiakan ibu pertiwi.

Ketika keragaman etnis, agama, golongan yang dimiliki bangsa ini dimaknai sebagai kekayaan dan masing-masing berlomba dalam karya, maka pada banyak lomba kita akan mendengar lagu Indonesia Raya berkumandang dan Sang Dwi Warna dikibarkan. Semua energi digunakan untuk berlomba dalam kebaikan, bukan saling menjatuhkan dan merendahkan satu sama lain.

foto: https://parlementaria.asatunews.co.id

Perbedaan pada Suku, Agama, Ras dan Antar golongan (SARA), pemikiran, tafsir dan selera politik harus dibingkai dalam semangat membuat ibu pertiwi tersenyum. Prinsip tersebut telah dibuktikan Perancis, pada 2018 kemarin, yang berhasil menjadi Tim Sepakbola terbaik di muka bumi. Perancis melompati perdebatan SARA dalam meracik tim nasionalnya. Pengambil kebijakan tidak mau terjebak dalam perdebatan pribumi dan imigran. Yang ada adalah evaluasi pada kualitas dan prestasi masing-masing pemain. Di lapangan kita melihat pemain kulit hitam dan putih, pengagum Isa, Muhammad saw, dan lainnya, menari dan saling memberi serta menerima bola untuk kemudian mengonversinya menjadi gol.

Perihnya derita jika sesuatu diukur berbasis garis SARA telah dirasakan oleh penggagas negeri. Perlawanan mereka melawan penjajah dan masterplan membangun negeri selalu gagal karena keributan berbasis SARA. Apalagi jika SARA ini dijadikan senjata non konvensional oleh penjajah. Politik pecah belah atau politik adu domba (devide et impera) merupakan kombinasi strategi politik, militer, dan ekonomi yang bertujuan mendapatkan dan menjaga kekuasaan dengan cara memecah kelompok besar menjadi kelompok-kelompok kecil yang lebih mudah ditaklukkan. Pada dimensi yang lain, politik pecah belah juga bermakna menghalangi kelompok-kelompok kecil untuk bermetamorfosis menjadi sebuah kelompok besar yang lebih kuat.

foto: https://newonenew.wordpress.com

Makanya, para penggagas negeri membangun gerakan “Sumpah Pemuda” pada 1928 silam. Dimana kesadaran atas bangsa yang satu, tanah air yang satu dan bahasa yang satu menjadi perekat atas berbagai warna SARA. Olehnya itu, jika di abad digital ini masih ada orang yang menjadikan aspek SARA sebagai ukuran utama dalam menilai sesuatu, sungguh pemikirannya tertinggal 90 tahun. Dia perlu dibisiki, bahwa anda hidup di abad yang salah.

Dengan Spirit Samantha, 1928, dan Vive la diversite, maka kelak kita akan mendapati suatu negeri yang manusianya saling memanusiakan. Itulah republiknya manusia.

Salam

www.republikmanusia.com
a.zulkarnain

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *