Ryaas Rasyid: Pembela Nasib Daerah

Beberapa waktu yang lalu, saya mendapatkan percikan kebaikan Tuhan. Bisa bertemu dengan aktor utama implementasi otonomi daerah, pasca jatuhnya rezim totaliter Mas Harto.

Selalu ada hal yang menggelitik akal ketika berdiskusi dengan Prof. Dr. M. Ryaas Rasyid.

Pemikir politik pemerintahan dari tanah Gowa ini, memiliki kemampuan menjelaskan realitas politik, menghubungkannya dengan teori, bahkan sampe pada resiko di akhirat atas pilihan politik yang diambil. Hehee

Pemikir yang pernah diajak Gusdur menjadi Menteri Negara Otonomi Daerah dan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara ini masih sibuk sebagai penasehat/teman diskusi para kepala daerah di organisasi Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia (APKASI) dan Asosiasi Pemerintah Provinsi Seluruh Indonesia (APPSI). Ia juga sangat aktif dalam memperjuangkan Judicial Review atas UU Pemda yang baru, yang dianggapnya sebagai bentuk dari resentralisasi dan bahkan pengkhianatan atas spirit otonomi daerah yang sudah ada, bukan saja pada era reformasi, tapi bahkan jauh sebelum negeri ini merdeka.

Foto: https://encrypted-tbn3.gstatic.com

Foto: https://encrypted-tbn3.gstatic.com

Dalam kacamata beliau, teori dan praktek membuktikan bahwa tidak ada kreativitas tanpa kewenangan yang cukup. Makanya Prof. Riyas meyakini bahwa perlu ada pembagian job yang jelas antara pusat dan daerah. Pemerintah pusat harus juga fokus urus global. Apalagi era globalisasi semakin rumit dan menantang. Olehnya itu, pemerintah pusat jangan terlalu dipusingi hal kecil terkait daerah, tapi biarkanlah daerah yang menyelesaikan sendiri masalahnya. Tentu tetap dengan supervisi dari pusat.

Arsitek otonomi daerah yang meraih gelar doktor dari Universitas Hawaii, Amerika Serikat, pada tahun 1994 ini selalu total membela nasib daerah. Ia tidak suka jika pusat seenaknya mendikte daerah, karena menganggap bahwa hanya pusatlah yang mengerti daerah. Disisi lain ia juga akan marah kalau ada daerah yang kebablasan sehingga ingin keluar dari NKRI.

“Kita harus hidup bersama. Gak ada supremasi pusat terhadap daerah. Itu diharamkan. Sebaliknya, daerah merasa hebat dari pusat dan mau pisah itu juga diharamkan”.

IMG_20160904_151627

Intelelektual yang juga pernah menjadi politisi dengan mendirikan Partai Persatuan Demokrasi Kebangsaan (PPDK) pada tahun 2002, bersama juniornya, Andi Mallarangeng juga sering menekankan bahwa harus ada kombinasi antara pengetahuan dan kekuasaan. “Kekusaan tanpa ilmu bahaya.
Ilmu cukup tapi tak punya kekusaan itu frustasi”.

Sebagai intelektual yang pernah menetap dan mencicipi ilmu di negeri Paman Sam. Ryaas melihat begitu penting fungsi senator untuk membela nasib daerah. Makanya, Professor yang juga mantan lurah di Makassar tahun 70 an ini, selalu meminta agar Dewan Perwakilan Daerah (DPD RI) diberi wewenang lebih agar bisa lebih maksimal dalam memperjuangkan pembangunan daerah.

***

Ada satu tema yang cukup dikuasainya sekarang, selain soal politik pemerintahan, yakni soal kesehatan. Katanya, kalau orang tua berkumpul, kesehatan pasti selalu dibahas. Saat itu, beliau berbagi tips, sebelum tidur, beliau punya ritual minum madu 2 sendok. Tentu masih banyak lagi tips hidup sehat yang beliau jelaskan. Untuk lebih lengkapnya, silahkan menemuinya. Dia selalu menarik diajak berdiskusi. Karena selalu ada fakta baru dan kosakata baru yang beliau keluarkan.
Salam manusia dan kemanusiaan

Salam
www.republikmanusia.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *