Rismaharini: Politisi Perempuan Dari Surga

Pembangunan itu untuk menyejahterakan masyarakat.  

Kalau malah tidak sejahtera, apa itu masih disebut membangun?  

(Tri Rismaharini)

Bu Rismaharini semakin menjadi bahan pembicaraan saat ini karena muncul isu akan memundurkan diri. Hal tersebut terjadi karena adanya kekecewaan atas pelantikan Wakil Walikota Surabaya yang dianggapnya tidak sesuai dengan mekanisme. Beberapa hari terakhir Bu Risma didatangi massa di kantornya. Mereka datang bukan untuk meminta Bu Risma mempertanggungjawabkan kejahatannya, bukan untuk memintanya cepat turun dari kursi kekuasaan, tapi justru masyarakat Surabaya datang silih berganti untuk meyakinkan Bu Risma bahwa mereka semua ada di belakang Bu Risma. Mereka tak sekedar menganggap Bu Risma sebagai walikota biasa, tapi lebih jauh dan lebih tinggi dari itu, mereka menganggap Bu Risma sebagai ibu atas mimpi-mimpinya.

Saat ini Indonesia dihadapkan pada dua tipe kepemimpinan yang semakin fenomenal. Pertama, kepemimpinan yang hadir karena visi dan dedikasinya terhadap rakyat. Kedua, kepemimpinan yang muncul karena kemampuannya mencitrakan diri serta menyuap rakyat demi jabatan/kekuasaan. Makanya setelah berkuasa mereka menyalahgunakan kekuasaan (Kompas, Kepemimpinan Fenomenal, 10 Desember 2013, Hal 6).

Model kepemimpinan tipe pertama masih sangat langka, salah satunya dicontohkan oleh Walikota Surabaya Tri Rismaharini, termasuk Walikota Bandung Ridwan Kamil, Bupati Bantaeng Nurdin Abdullah, serta Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo. Kehadiran politisi agung tersebut, sedikit menjawab pesimisme banyak pihak terhadap agenda transisi demokrasi, termasuk pilihan sistem pilkada langsung yang sedang berjalan di negeri ini.

Model kepemimpinan Bu Risma juga termasuk model kepemimpinan yang melayani (servant leadership). Ciri servant leadership  adalah “Kepemimpinan bukanlah posisi di mana seorang pemimpin duduk menikmati penghormatan, penghargaan, sanjungan dari umat atau bawahannya, melainkan suatu posisi dimana seseorang harus selalu siap untuk berada di posisi paling rendah dan paling belakang. Pemimpin yang melayani harus bersedia kehilangan ‘hidupnya’ ataupun hak-hak istimewanya demi kesejahteraan hidup orang-orang yang dipimpinnya, dan bukan sebaliknya, mengambil hak-hak, atau memeras tenaga bawahannya demi kesejahteraan hidup sang  pemimpin”. (Ahmad Zulkifli, Stories of The Great Leader, 2012, Hal 8).

foto: www.centroone.com

foto: www.centroone.com

Terobosan politik Bu Rismaharini telah mempermalukan banyak pihak. Salah satunya adalah partai yang menggunakan simbol Tuhan. Rismaharini yang berangkat dari partai non agama ternyata mampu memperlihatkan kinerja nyata dengan mengantar Surabaya meraih 51 penghargaan. Lantas, apa prestasi dari partai yang suka memperdagangkan nama Tuhan untuk meraih pemilih? Jangan sampai kader mereka juga bertumpuk serta antri untuk masuk rutan KPK. Harusnya partai dan politisi yang mengatasnamakan Tuhan (partai agaama), sadar bahwa kalau mereka melakukan dosa politik, maka mereka akan dihukum dua kali oleh Tuhan.

Bagi Bu Risma, Tuhan tak hanya sekedar menjadi pengetahuan, tapi telah menjadi sesuatu yang hidup, yang terefleksikan pada setiap gerak. Ketika ditanya oleh Najwa Shihab dalam tayangan Mata Najwa “Bagaimana dengan anak-anak anda?”  Bu Risma menjawab “anak saya terkandang saya tidak urusi, tapi saya percaya klo saya  urusi warga Surabaya, maka anak saya diurusi oleh Tuhan”. Hal tersebut karena keyakinan beliau atas ucapan Muhammad SAW, bahwa “selesaikanlah urusan orang lain, maka Allah lah yang akan menyelesaikan urusanmu”.

Bu Risma merupakan politisi yang Tauhidnya tak tersangkut di lidah dan membusuk di mulut, tapi Tauhidnya  telah menjalar ke seluruh jiwa dan tubuhnya. Seperti yang diungkapkan oleh Soekarno dalam suatu acara peringatan Nuzulul Quran, bahwa “Ketika Tauhid itu telah menyatu dalam diri seorang muslim, maka dia tidak takut lagi pada mati. Bu Risma pada banyak wawancara selalu mengungkapkan bahwa sudah beberapa kali beliau mendapatkan ancaman pembunuhan dari pihak-pihak yang dirugikan atas berbagai kebijakan progresifnya. Dan dari itu semua, beliau selalu menjawab “Nggak takut diteror karena semua Tuhan yang atur. Kapan lahir, kapan mati”.

Orang yang mau mendalami agama sebenarnya, harusnya belajar agama kepada Bu Risma. Dimana ucapan dan perbuatannya telah menyatu. Dimana keyakinan agama tak membuatnya memilih jalan aman, mau enak sendiri serta mau masuk surga sendiri, tapi beliau memilih mempertaruhkan hidupnya berhadapan dengan para mafia politik dan mafia bisnis yang ada di Surabaya. Semua itu dilakukan karena ingin membahagiakan rakyat Surabaya danTuhan. Sebagaimana penjelasan beliau dalam acara Mata Najwa bahwa “tanggung jawab saya kepada masyarakat Surabaya  dan Tuhan”.

Foto: www.republika.co.id

Foto: www.republika.co.id

Bu Rismaharini mempelihatkan kematangan jiwanya ketika diwawancarai dalam acara Mata Najwa, dengan mengatakan “ Jabatan itu titipan, Klo tidak mampu jangan dipaksa”.  Bu Risma sangat banyak menyebut Tuhan dalam wawancara tersebut. Ketika Bu Risma banyak menyebut Tuhan sebagai spiritnya dalam berpolitik, serta menjadikan  Tuhan sebagai ruh dari segala geraknya menjadi pelayan rakyat Surabaya. Beliau telah memberi teladan bahwa setiap orang yang beriman harusnya mampu memperlihatkan dampak nyata secara sosial atas keimanannya. Bukan banyak bicara Tuhan tapi perilaku edan, bukan fasih bicara nabi tapi kapitalis, bukan jago hafal hadist tapi individualis, bukan banyak jual kalimat suci tapi tanpa aksi.

Fenomena Bu Rismaharini juga telah mempermalukan para penguasa yang tak berhasil berbuat nyata sesuai dengan kelimuannya. Bu Risma yang merupakan walikota perempuan pertama di Indonesia mampu membuktikan bahwa gelar master yang diperoleh di Pascasarjana Jurusan Manajemen Pembangunan Kota Surabaya di Institute Tekhnologi Sepuluh November Surabaya (ITS) berhasil memandunya untuk membuat kebijakan penataan kota, yang kemudian diganjar dengan Piala Adipura dan berbagai penghargaan lainnya.

Hal tersebut sangat berbeda dengan apa dilakukan oleh Susilo Bambang Y (SBY) yang memiliki gelar Doktor Pertanian dari Institut Pertanian Bogor (IPB), tapi petani di Indonesia tetap menjadi salah satu petani termiskin di dunia. Indonesia harus bertahan hidup dari berbagai impor pangan, baik cabe, bawang, kedelai dan lainnya. Seperti yang diungkapkan oleh guru besar IPB, Ahmad Sulaeman, bahwa dari 225 jenis buah-buahan yang dijual di supermarket, 60-80 persen merupakan produk impor. (www.tempo.co).

Bu Risma juga berhasil membawa Surabaya meraih penghargaan “e-Procurement”  dari  Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP), karena menjadi pelopor penerapan sistem lelang elektronik. Prestasi tersebut tak diterima dengan mudah, tapi melalui suatu perjuangan yang panjang. Salah satunya, Bu Risma harus rela menginap di kantor selama enam bulan saat proses pembuatan  “e-Procurement” tersebut.

Satu hal juga yang para politisi perlu pelajari dari pejuang perempuan ini adalah kesukaannya membaca buku. Jadi keberhasilan seorang politisi sangat tergantung juga kapasitas intelektualnya. Karena kebaikan tak cukup dengan niat, tapi juga butuh strategi. Dimana kualitas strategi sangat ditentukan oleh kapasitas intelektual.

Foto: citraindonesia.com

Foto: citraindonesia.com

Bu Risma yang berhasil  membawa Surabaya meraih penghargaan “Indonesia Digital society award 2013”, juga termasuk politisi yang melawan elitisme. Beliau selalu menolak menggunakan vooridjer dengan alasan takut membebani masyarakat.  Justru kalau beliau lagi jalan dan menemukan macet parah, maka beliau tak ragu untuk turun langsung mengatur lalu lintas. Adapun cara beliau agar bisa sampai ke tujuan tepat waktu tanpa bantuan vooridjer yakni dengan berangkat lebih cepat.

Hal menarik lain dari politisi perempuan yang berhasil mengalahkan koalisi raksasa yang dimotori Demokrat dan Golkar pada saat Pilkada ini adalah isi mobilnya yang selalu ada bola untuk dibagi ke anak-anak. Di mobilnya juga selalu ada linggis, sapu dan tempat sampah untuk membersihkan sampah yang ditemukan dalam perjalanan. Semua itu dilakukan karena Bu Risma memiliki keyakinan “Kita tidak boleh hanya ngomong tapi harus beri contoh”. Hal tersebut juga harusnya menggelitik para tokoh agama yang suka bicara “kebersihan adalah bagian dari iman”, tapi tak pernah mencontohkanya, bahkan didepan rumahnya sendiri.

Salah satu prestasi besar Bu Risma sebagai penguasa adalah berhasil mengantarkan anak-anak Surabaya untuk berprestasi dalam bidang pendidikan. Dulu pada tahun 2010  anak-anak Surabaya yang punya prestasi tingkat nasional dan daerah sekitar 200 siswa, tahun 2011 naik menjadi sekitar 400 siswa. Kemudian pada tahun 2012 bertambah sekitar 800 siswa dan pada 2013 mencapai hampir 2000 siswa. (sumber)

Hal unik lain dari politisi perempuan Bu Risma adalah caranya memuliakan Pekerja Seks Komersil (PSK) yang ada di wilayah kekuasaannya. Banyak pihak yang menganggap PSK sebagai sampah kehidupan. Banyak pula penguasa yang membenarkan hadirnya PSK sebagai suatu keniscayaan yang mustahil dihilangkan, karena sudah ada sejak ribuan tahun yang lalu. Tapi Bu Risma dengan jiwa keibuannya dan ditambah dengan kekuasaan besar yang ada ditanganya sesuai dengan UU Otonomi Daerah No 32. 2004, berhasil membuat langkah revolusioner dengan menutup secara manusiawi empat titik lokalisasi.

Foto: www.globalindonesianvoices.com

Foto: www.globalindonesianvoices.com

Bu Risma pernah didemo oleh 23  Kyai karena dianggap membela PSK. Padahal beliau hanya memuliakan PSK sebagai manusia dan juga sebagai rakyatnya yang wajib dia dicintai. Beberapa waktu sebelum penutupan, beliau melakukan survey langsung beberapa kali untuk memahami hakekat persoalan dalam lokalisasi. Sampai beliau menemukan jalan keluar tentang perlu adanya perubahan mental dan perbaikan kondisi ekonomi para PSK. Hal itulah kemudian yang diprogramkan oleh Pemerintah Kota Surabaya sebelum sampai pada agenda penutupan lokalisasi.

Para politisi perlu menjadi murid politik dari Bu Risma. Sebagaimana gagasannya bahwa “Seorang pemimpin harus mampu memberikan kesempatan kepada orang lain untuk meraih suksesnya”. Jadi bukan hanya yang kelas elit atau bukan hanya keluarga dan kerabat yang bisa menikmati fasilitas, tapi semua orang. Seperti yang diungkapkannya dalam acara Mata Najwa, saat diminta memberi pesan kepada anak-anak Surabaya, bahwa “Keberhasilan dan kesuksesan adalah hak semua orang. Kalian tak perlu berpikir darimana asal kalian , orang tua kalian tukang becak, buruh cuci, kalian berhak untuk sukses karena Tuhan itu adil”.

Politisi tertinggi di negeri ini pun sepertinya perlu belajar banyak kepada perempuan yang juga alumni Jurusan Arsitek ITS serta merupakan “Tokoh Tempo 2012” ini,  terkait mimpinya “Surabaya berkembang maju menjadi rumah bagi warga Surabaya dan warga Surabaya bisa menjadi tuan dan nyonya di kotanya”.

Kebijakan banjir impor serta dominasi modal asing akan membuat rakyat yang merupakan pemilik sah negeri ini, berubah menjadi pengungsi atau babu di negeri sendiri. Pada titik itulah visi politik Bu Risma perlu untuk didiskusikan dan diteladankan.

Politisi yang gampang galau ketika kalah dalam kompetisi sepertinya perlu training khusus ke politisi perempuan yang membawa Surabaya meraih penghargaan internasional , “future goverment” tingkat asia pasifik 2013, ini. Dengan prinsipnya “Kenapa harus dipaksakan menang, wong enggak menang ajak enggak apa-apa”(Tempo, 17-23 Feb 2014, Hal 43).  Itulah kondisi politisi yang bergerak atas nama Tuhan. Motif utamanya pada pengabdi. Makanya kalau diruang tertentu beliau tidak diberi, maka pasti dia akan mencari ruang lain untuk mengabdi. Karena hakekat kehidupan menurutnya adalah pada pengabdian. Dimanapun dan kapanpun.

Foto: www.voaindonesia.com

Foto: www.voaindonesia.com

Ketika tujuan bergerak dan berpolitik  pada membahagiakan Tuhan, maka mustahil caranya dengan menginjak-injak nilai Tuhan. Disitulah titik perbedaan pandangan dunianya, yang kemudian akan diturunkan pada level strategi dan taktik.

Para politisi yang suka bagi uang juga perlu nyantri ke Bu Risma. Pernah saat kampanye sebagai calon walikota, ada warga menanyakan amplop. Respon Bu Risma, bukannya memberi, tapi malah marah-marah. Dan kemudian berkata “Aku punya keyakinan bahwa pemimpin tidak boleh beli jabatan”. (Tempo, 17-23 Feb 2014, Hal 43). Seorang politisi yang punya kualitas yang tinggi tidak mungkin mau merendahkan dirinya dengan mengajari masyarakatnya bermental pragmatis.

Kisah politisi perempuan Bu Risma perlu menjadi pembelajaran bagi siapapun mereka yang mengaku beriman.  Dimana keimanan Bu Risma tak sekedar teoritis, tapi mampu memberi manfaat nyata bagi rakyat Surabaya dan menakutkan bagi para mafia. Itulah keimanan yang diteladankan oleh para nabi-nabi.

Indahnya politik ditangan Bu Risma telah menambah jejak kemuliaan politik ketika berada ditangan yang pantas. Bu Risma mengingatkan kita tentang anggungnya politik ditangan Hugo Chavez di Venezuela, bermartabatnya politik ditangan Fidel Castro di Kuba, indahnya politik ditangan Evo Morales di Bolivia, luhurnya politik ditangan Imam Khomeini di Iran, serta tingginya makna politik ditangan Mandela di Afrika Selatan.

Teruslah berjuang politisi perempuan dari surga.

Buatlah para malaikat tersenyum dengan keindahan gerakan politikmu.

 

Pemimpin yang baik harus mampu memahami keinginan warganya.

(Tri Rismaharini)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *