Resensi Buku: Pare dan Catatan Tak Usai; Pergolakan Mahasiswa & Spririt Kampung Bahasa Pare

Oleh: Maman Suratman (Mahasiswa Filsafat Ushuluddin dan Pemikiran Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta)

***

Judul      : Pare dan Catatan Tak Usai; Pergolakan Mahasiswa & Spririt Kampung Bahasa Pare

Penulis   : A. Zulkarnain

Penerbit : Philosophia Press, Makassar, Indonesia

Cet. I     : 2012

Tebal      :246 halaman

ISBN     : 978-602-18177-0-4

Kita tidak bisa berhenti bergerak.

Kita adalah generasi yang dilahirkan untuk menjadi pejuang.”

 A. Zulkarnain (2012).

Kutipan di atas merupakan kutipan dalam buku Pare dan Catatan Tak Usai: Pergolakan Mahasiswa & Spirit Kampung Bahasa Pare karya A. Zulkarnain (2012). Zul, sapaan akrab penulis, adalah Ketua Senat Mahasiswa Ekonomi Unhas (2006 – 2007) dan penggiat komunitas Rumah Anak Bangsa (RAB) Pare, Kediri Jawa Timur. Pengalaman akan realitas yang dialaminya dalam bangsa yang berkondisi “merdeka” ini, memungkinkan karya inspiratif tersebut lahir dan menjadi salah satu bacaan “wajib” setiap kalangan, terkhusus mahasiswa dan dosen di kampus dan pelajar atau pengajar (tutor) di dunia pendidikan, salah satunya di kampung bahasa Pare.

Bermula dari hasil bacaan, renungan, kejengkelan, serta rasa kesal yang teramat membludak atas realitas hari ini, memicu Zul untuk lebih berani tampil ke depan, menantang arus yang tidak hanya mengangkat kepalan tangan, tetapi juga mengajak semua pihak untuk bersatu melawan segala bentuk ketidak-adilan dari para “penguasa” di bangsa ini. Tentunya, apa yang coba diungkap penulis, sudah semestinya menjadi renungan kita bersama. Kita semua memang berbeda, tetapi sungguh ketika bersatu dalam perbedaan, akan membuahkan hasil yang tidak akan sia-sia.

Perjuangannya yang tak kunjung redup, kerap menghembuskan nafas “belajar dan berjuang”, menggugah kita untuk memahami hidup dalam arti yang sepantasnya. Hal tersebut juga senantiasa mengajak segenap kalangan tanpa terkecuali untuk berkata “tidak” dan “lawan” segala bentuk ketidakadilan itu. Olehnya, bersatu-padu dalam perjuangan, sungguh perjuangan mulia yang tentunya sangat besar pengaruhnya.

Pare, Surga Para Pencari Ilmu

Sesuai dengan judulnya, penulis berupaya menyajikan makna yang lebih jauh tentang Tamansari Pendidikan, Kampung Bahasa Pare. Mencoba memberikan pemahaman akan eksistensi Pare sebagai tempat pendidikan (mendidik atau dididik) alternatif di saat banyak pendidikan yang elitis, kaku, dan terpisah dari realitas bangsa ini. Ya, Pare adalah model pendidikan alternatif atas gagalnya Negara menciptakan pendidikan yang murah, humanis, dan berkualitas (hlm. 5).

buku pare

Lebih jauh lagi, realitas Pare yang memiliki lima kemuliaan: murah, merakyat, berkarakter, berkualitas, dan religius, menjadikan Pare sering disebut-sebut sebagai “Surga” di bumi ini. “Sekiranya surga pernah bocor, maka di Pare-lah tempatnya,” (hlm. 26). Bahwa bukan saja para anak “pejabat tinggi” yang bisa cerdas, tetapi anak tukang becak, anak pedagang kaki lima, anak PNS rendahan, dan anak-anak jalanan lainnya pun bisa demikian, dan itu bisa dirasakan ketika berkunjung, dalam artian belajar dan berjuang di Pare.

Pergolakan Mahasiswa

Agenda perjuangan bangsa harus diyakini bahwa ia bertitik pada sosok mahasiswa yang senantiasa menjiwai peran kenabian, sebagai khalifah fil ardh. Bayangkan, ketika ada segelintir mahasiswa yang sadar akan peran dan fungsinya sebagai agen perubahan bangsa ini, maka tak perlu menunggu waktu lama, bahwa “perubahan” secepat kilat akan terjadi. Ini dikarenakan mahasiswa adalah kaum intelektual yang mampu berpikir dan meretas nilai-nilai kebenaran bangsanya. Terlebih lagi bahwa mereka (mahasiswa) adalah kaum muda harapan bangsa yang secara pasti memiliki jiwa idealis, revolusioner, ketimbang mereka (kaum tua) yang hanya duduk santai menikmati hasil “rampokannya”.

Zul melihat kenyataan ini bahwa mahasiswa adalah motor penggerak perubahan bangsa ke ranah yang lebih layak. Bahwa mahasiswa hendaknya tidak hanya menumpuk ilmu yang didapatkannya, baik di lingkungan kampus atau di masyarakat, tetapi hendak mendiskusikannya, dan jauh lebih penting adalah mau terlibat penuh memperbaiki realitas bangsa yang penuh “perampok” ini. Dengan begitu, ilmu tidak akan menjadi sampah dalam tengkorak kepala dan diskusi tidak hanya menjadi “onani intelektual” belaka.

Bahwa refleksi atas hidup yang dijalani sungguh penting menjadi kerja-kerja intelektual mahasiswa, paling tidak realitas kehidupan kampusnya. “Hidup yang tak pernah terperiksa secara filosofis adalah hidup yang tak layak untuk dijalani,” demikianlah Socrates pernah beranggapan. Hal inilah yang dilihat oleh penulis bahwa merefleksikan hidup adalah memungkinkan hidup menjadi pantas untuk dijalani. Kalau hidup sekadar hidup, babi di hutan juga hidup. Kalau kerja sekedar bekerja, kera juga bekerja (hlm. 81).

Lebih jauh lagi, penulis memberi arti akan hidup yang sebenarnya. Keyakinan bahwa hidup adalah perjuangan harus senantiasa ditumbuh-suburkan dalam pijakan sebagai seorang pelajar-pejuang. Meyakini hidup adalah perjuangan, berarti senantiasa menganggap bahwa apapun masalah itu, sebesar apapun yang dihadapi, sungguh tidaklah untuk ditinggalkan, tetapi untuk diselesaikan; meyakini hidup adalah perjuangan, senantiasa membangkitkan kesadaran kritis kita dan mau terlibat dalam penyelesaian masalah sesuai dengan kapasitas yang kita miliki; dan meyakini hidup adalah perjuangan, senantiasa membuat kita optimis dengan hidup, bahwa ada cahaya di hari esok yang harus direbut agar tercipta keadilan dan kedamaian (hlm 187 – 190). Maka, masih pentingkah kita memikirkan visi hidup selain belajar dan berjuang? Semoga ke depannya bangsa ini melahirkan generasi-generasi pelajar dan pejuang progresssif, seperti yang pernah dimilikinya: Soe Hok Gie, Ahmad Wahib, Pramoedya Ananta Toer, dan pelajar-pejuang lainnya yang senantiasa berkata “tidak” dan “lawan” segala bentuk pembodohan di bangsa ini.

Islam Bukan Simbol Formalitas

Menilik realitas tersebut, kita harus yakin bahwa Islam yang ada sekarang bukanlah Islam yang dibawa rasul-Nya, tetapi Islam yang telah terkontaminasi oleh banyak kepentingan “kotor”.

Ulasan penulis dalam Bab Islam: Iman dan Keadilan Sosial, menunjukkan bagaimana keresahan penulis melihat Islam yang sejatinya sebagai rahmatan lil alamin, kini dipermainkan semena-mena oleh para penguasa kapitalistik. Ini jugalah yang dimaksudkan oleh Marx, agama adalah candu masyarakat, dimana ia berfungsi hanya untuk meredam perlawanan terhadap kaum borjuis atau perlawanan terhadap kezaliman.

Keresahan penulis bertambah membludak mengingat para tokoh agamanya yang ditopang dalam naungan para penguasa, sebagai legitimator mempertahankan tahta penguasa. Agama hadir untuk mempertahankan tahta penguasa dan menciptakan idiom-idiom kepatuhan kepada penguasa. Bahwa siapa yang melakukan perlawanan atau pemberontakan terhadap penguasa, maka akan masuk neraka (hlm. 193). Parahnya lagi, tokoh agama terkadang menumbuhkan jiwa individualistik, yang hanya mengajarkan bagaimana beriman sendiri dan masuk surga sendiri, tanpa hendak memikirkan realitas lingkungannya, seperti penggusuran terhadap pedagang kaki lima dan pedagang kecil lainnya di pasar-pasar tradisional lantaran ingin membangun mall.

Masih banyak lagi yang penulis rasakan sebagai sebuah masalah yang melanda umat Islam di bangsa ini. Salah satunya, Indonesia dianggap sebagai negara yang terbesar umat Islamnya, tetapi ternyata sekaligus negara terkorup di dunia. Ini yang menjadi ironis, bahwa tidak dapat dipungkiri, dengan jumlah umat Islam yang sangat besar secara kuantitas terkadang tidak menjamin adanya relasi positif terhadap kualitas (hlm. 194).

Melihat realitas ini, maka wajar kiranya penulis kemudian beranggapan bahwa andaikan Rasulullah masih hidup, sungguh akan menangis dan teriris hatinya melihat para ulama dan kaum muslim lainnya yang punya kesehatan, ilmu, dan harta, tetapi berdiam melihat kenyataan di sekelilingnya.

demo-4

sumber gambar: bem.politekniktelkom.ac.id

 

Sudah saatnyalah kita berlomba dalam kebaikan karena sungguh masyarakat tidak butuh janji, mereka butuh nasi. Sebagai seorang muslim, kita harus sadar, sebagaimana penulis meyakinkan bahwa Islam sebagai rahmatan lil alamin bukanlah sekedar dongeng, tapi sebuah ajaran ideologis yang logis dan membumi (hlm. 199).

Pada akhirnya, belajar dan berjuang adalah kunci utama menjadi bangsa yang beradab. “Bahwa siapa yang tahu tetapi enggan melakukan adalah munafik,” (Pram). Sekali lagi, semoga di bangsa ini akan lahir para pejuang revolusioner, pelajar progressif, serta guru-guru masa depan yang senantiasa menjadikan pendidikan sebagai medium perlawanan yang sesungguhnya, dan selalu berkata “tidak” dan “lawan” terhadap bentuk ketidakadilan.

Maka ketika ada orang yang bertanya, dimana kita bisa menumbuhkan sikap dan tingkah laku semacam itu (sebagai seorang pelajar dan pejuang), maka sungguh nyata dan jelas untuk dikatakan bahwa di Pare-lah, tempat pembelajaran yang hari ini lebih “sehat”. Pare adalah tempat alternatif pendidikan di bangsa ini. Di saat banyak pendidikan yang elitis, kaku, dan terpisah dari realitas masyarakat, maka di Pare sungguh berbeda, yakni murah, merakyat, berkarakter, berkualitas, dan religius, sebagai lima kemuliaannya.

***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *