Raka di Kereta Bogor

Saat kereta masih parkir di Stasiun Bogor, saya kaget melihat anak kecil yang berlari sendirian di dalam kereta. Setelah menemukan kursi kosong, ia kemudian berhenti dan mengamankan tempat tersebut. Sesaat kemudian saya paham bahwa ia berlari karena sedang berjuang mencari tempat duduk yang kosong untuk kedua orang tuanya.

Saya menyempatkan diri berkenalan dengannya. Namanya Raka. Ia hebat karena anak usia 4 tahun biasanya masih selalu meminta untuk terus dilayani, sedangkan Raka sudah lincah berbuat sesuatu untuk membahagiakan orang tuanya.

Kata Raka, ia mau ke Depok untuk membelikan sepatu kakanya. Wah, biasanya anak se usianya larut dalam ego dirinya. Tak ada waktu untuk memikirkan pihak lain selain dirinya. Apalagi kakak, biasa menjadi “lawan politik” bagi sang adik.

Jika melihat Raka yang cerdas, lincah, friendly, tentu analisisnya, siapa yang telah melakukan sosialisasi nilai pada dirinya?

Foto: infoinfome.blogspot.com

Foto: infoinfome.blogspot.com

Tadi gak terlalu sulit menganalisinya, karena Raka datang bersama kedua orang tuanya. Memperhatikan karakter yang dimiliki Raka, bisa disimpulkan bahwa itu semua tak lepas dari kedua orang tuanya. Mereka bertiga memiliki karakter yang mirip, tentang keramahan, keceriaan dan lainnya.

Kedewasaan Raka dalam berkomunikasi dengan pihak lain juga karena orang tuanya membiasakan memperlakukan Raka seperti orang dewasa. Setiap pertanyaan Raka yang datang bertubi-tubi dan terkadang filosofis dijawab dengan lembut dan memuaskan.

Orang tuanya begitu menjaga pertumbuhan akal Raka. Ia seperti sangat paham bahwa Raka banyak bertanya dan selalu mencoba banyak hal karena perintah alamiah akalnya. Melarang atau memotongnya adalah malapateka bagi masa depan Raka.

Orang tuanya juga menghindari menggunakan vocabulary negatif kepada Raka. Kalimat yang dikeluarkan kepada Raka meskipun berupa teguran diatur sedemikian rupa menjadi kalimat positif.

Tentang hal tersebut, saya teringat dengan anak seusia Raka yang ada di Kampung Bahasa Pare Kediri, namanya Halilintar (Alin). Ia matahari kecil dari Ms. Uun dan Mr. Alan, salah satu tutor dan owners progresif di Pare.  Suatu waktu,  Alin sedang bermain dan kemudian ada yang memberi komentar dengan nada agak bercanda kepadanya “Alin gak boleh nakal”. Ia langsung terdiam dan beberapa saat kemudian menangis. Setelah dianalisa bersama, ternyata kosakata tersebut tak pernah digunakan (diinstall) oleh kedua orang tuanya, makanya Alin kaget ketika ada yang mengucapkannya.

***

 Kembali ke Raka, di sepanjang perjalanan ia hampir tak pernah berhenti mengomentari apapun. Jika ada kereta lain yang lewat, Raka tak pernah lengah untuk memberikan opininya. Dia beberapa kali berpindah tempat duduk untuk mencari perbandingan realitas yang ada di sisi kanan dan kiri kereta.

Ya, perjalanan kereta dari Bogor ke Jakarta tak terasa karena ditemani anak kecil yang lucu, smart dan penuh harapan. Melihat Raka yang selalu semangat mencari pengetahuan baru, mengejar sudut keindahan, dan menyebar senyumnya dengan ringan kepada siapapun, semakin meyakinkan, bahwa memang pada setiap orang telah ditiupkan Ruh Ilahi dalam dirinya.

 

Jika Ruh Ilahi itu sempurna, maka wajarlah setiap orang termasuk Raka selalu merindukan kesempurnaan.

 Bogor-Jakarta, 9 Oktober 2014.

 

Salam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *