PRO KONTRA PIDATO JOKOWI

Perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata

(WS. Rendra)

Akan celakalah negeri ini kalau kualitas calon presidennya dilihat hanya pada kemampuannya berpidato secara retorik. Kita sedang memilih putra bangsa terbaik yang berkualitas negarawan untuk menjadi penguasa tertinggi, bukan sedang memilih ahli retorika untuk perlombaan pidato. Bukan juga sedang memilih calon tutor Bahasa Inggris yang harus jago English.

Soekarno disegani pidatonya bukan karena pidato itu sendiri, tapi Soekarno berhasil membuktikan bahwa apa yang dipidatokannya sudah dijalankannya. Soekarno berpidato membela rakyat dibuktikan dengan penderitaanya yang panjang demi rakyat. Ia masuk keluar penjara selama bertahun-tahun. Soekarno memasukkan derita rakyat kedalam jiwanya. Ia menolak hidup mewah yang ditawarkankan oleh penjajah Belanda dan Jepang. Ia tak memiliki kuda seharga 3 milyar per ekor. Kuda yang harganya melebihi mobil mewah. Mobil sedan BMW 750Li saja berharga sekitar Rp 2,5 miliar, atau Mercedes Benz terbaru, seri E300, sekitar Rp 1,3 miliar. (sumber)

Kalau kualitas seseorang hanya pada pidato atau kemampuan berbicara, maka sesungguhnya kita telah melupakan realitas sesungguhnya. Bukankah rata-rata para ibu kita tidak memiliki kemampuan berpidato yang canggih, tapi mereka berhasil mendidik anak-anaknya menjadi hebat.

Ketika penulis menonton berita yang membahas bahwa pidato Jokowi kurang bagus, maka kurang layak menjadi presiden, istri penulis yang lagi belajar di pascasarjana kajian gender, nyeletuk, bahwa anggapan itu  termasuk diskrimasi gender, karena pada kemampuan berbicara, secara umum perempuan kalah daripada laki-laki. Makanya tak boleh itu menjadi ukuran kualitas seseorang, tapi pada substansi kebenaran.

Kita juga mudah menyaksikan bahwa semua orang yang masuk di rumah tahanan KPK saat ini adalah orang-orang yang jago bicara, mereka sangat ahli bersilat lidah. Bahkan setelah ditangkap dan menggunakan baju orange KPK, mereka masih mampu berpidato dengan lincah dan indah, seolah mereka adalah utusan dari surga.  Mereka dulu mengatakan akan membela rakyat, bangsa dan negara, tapi ternyata terbukti mencuri uang rakyat. Maka hati-hatilah dengan orang yang terlalu pandai bicara, tapi tak ada bukti.

Begitu juga para politisi di senayan yang katanya hadir sebagai wakil rakyat, mereka begitu hebat berdebat di TV, serta indah sekali saat berkampanye, tapi saat ini sudah hampir selesai periodenya, tak mampu memperlihatkan bukti keberpihakan yang kongkrit. Yang rakyat dapatkan adalah kenaikan BBM, impor cabe, beras, dll.

Penulis masih ingat, ketika suatu waktu pulang kampung di momen Idul Fitri menggunakan angkutan umum. Sang sopir bercerita bahwa beberapa penceramah agama sekarang hanya ceritanya yang besar. Penulis bertanya, apa maksud pak sopir, ia pun menjelaskan bahwa di dekatnya rumahnya ada penceramah agama yang selalu menasehatkan tentang jagalah kebersihan, karena kebersihan adalah sebagian dari iman. Tapi didepan rumah penceramah tersebut sangat kotor, tak pernah dibersihkan. Jadi rakyat saat ini sudah sangat cerdas dan kritis. Bahwa orang baik tak dilihat dari pidato atau ucapannya, tapi pada perbuatannya. Pidato bisa dibuatkan oleh para ahli, kemudian dihafalkan. Makanya pidato bisa saja tampakan dari suatu kepalsuan.

foto: www.kabar24.com

foto: www.kabar24.com

KEUNGGULAN JOKOWI

Justru gaya pidato Pak Jokowi yang sederhana, mudah dicerna, menjadi keunggulan tersendiri. Gaya komunikasi politik tersebut ikut membuatnya mudah masuk ke dalam hati rakyat, sehingga ia menjadi politisi yang fenomenal.  Jokowi menjadi antitesa gaya politisi lama, yang pidatonya high content, banyak menggunakan istilah asing, sehingga tak mampu ditangkap dengan baik oleh rakyat. Makanya yang paham pidato tersebut mungkin hanya pembuat naskah.

Kita juga perlu hati-hati, bukankah para playboy atau playgirl adalah orang-orang yang sangat jago bicara, hebat berjanji. Dengan skill tersebutlah ia mampu melumpuhkan korbannya. Ia mampu memberi janji manis dan memberikan puisi kepada setiap korbannya. Bagi yang polos yang langsung percaya pada kata-kata akan menjadi mangsanya.

***

Inti dari komunikasi adalah pemahaman antara dua pihak yang sedang berkomunikasi (komunikator dan komunikan). Pak Jokowi dengan gaya komunikasinya yang sederhana membuatnya luar biasa, hal tersebut dibuktikan dengan suksesnya ia berbisnis selama 24 tahun di pasar Eropa. Termasuk menang telak 91% suara pada PILKADA Solo 2010. Inti komunikasi Jokowi adalah kejujuran, konsistensi, kesesuaian antara ucapan dan perbuatan.

Kekuatan pidato Jokowi juga adalah ia menggunakan bahasa hati. Itulah yang menyebabkan Jokowi dianggap sebagai ahli diplomasi yang unggul. Bagaimana Jokowi mampu memindahkan ratusan PKL di Solo tanpa ada darah. Bagaimana Jokowi mampu menertibkan preman Tanah Abang serta merapikan beberapa kampung kumuh didekat waduk secara damai.

Dalam ilmu pendidikan anak, dijelaskan bahwa anak tak peduli apa yang orang tua katakan, tapi anak memperhatikan apa yang orang tua lakukan. Jadi bagaimanapun anak diberi pidato tentang kejujuran, kalau orang tua masih sering sembunyi kalau ada tamu, maka anak sulit untuk jujur. Bagaimanapun anak diceramahi tentang etika, kalau orang tua masih sering berdebat bahkan berkelahi didepan anaknya, maka sang anak sulit untuk beretika.

Begituhalnya rakyat DKI yang telah memilih Pak Jokowi pada pilkada kemarin, mereka tak peduli dengan pidato (maaf) Pak Foke, tapi melihat apa yang dilakukan selama 5 tahun sebagai gubernur. Pak Foke tak memperlihatkan bukti kongkrit atas janjinya pada pilkada DKI 2008. Selanjutnya, rakyat DKI juga melihat apa yang Pak Jokowi lakukan selama di Solo. Bahwa Pak Jokowi berhasil memuliakan PKL, berhasil memperindah pasar tradisional, menertibkan PNS nakal, mewujudkan transparansi, mempermudah pengurusan KTP, IMB, bahkan menolak menerima gaji.

TEKS DAN KONTEKS

Secara teoritis teks tak pernah lepas dari konteks. Dimana, teks didefenisikan sebagai suatu kesatuan bahasa yang memiliki isi dan bentuk, baik  lisan  maupun  tulisan  yang  disampaikan  oleh  seorang  pengirim  kepada penerima untuk menyampaikan pesan tertentu. (sumber)

Komunikasi politik sebagai unsur substansial dalam politik, tak boleh lepas dari konteks. Makanya komunikasi politik harusnya sesuai dengan sistem politik yang berlaku. Kalau sistemnya adalah pemilihan langsung dari rakyat, maka komunikasi politik terbaik adalah model komunikasi yang mudah dipahami oleh rakyat. Tentu tipologi rakyat Indonesia yang masih merupakan negara berkembang, berbeda dengan dengan rakyat Amerika yang sudah masuk negara maju.

Kalau mayoritas rakyat Indonesia bukan lulusan pendidikan tinggi, maka keliru kalau ngomong dengan mereka mengandalkan bahasa tinggi, high content. Hal tersebut mungkin hanya cocok untuk merebut hati para mahasiswa, dosen dan para guru besar. Pak Jokowi berhasil melewati popularitas dan elektabilitas para politisi tua karena gaya komunikasinya yang pas dengan kebutuhan rakyat. Apalagi gaya komunikasi yang elitis dipertontonkan oleh (maaf) Pak SBY selama hampir 10 tahun berkuasa. Pak SBY selalu menjawab setiap persoalan dengan pidato dan miskin aksi. Makanya wajar kalau masyarakat sulit menerima gaya politisi yang hanya mengandalkam kemampuan pidato, karena masih trauma dengan kondisi 10 tahun terakhir.

Lebih jauh, kalau kita mempelajari sejarah para nabi-nabi, kita menemukan bahwa satu hal yang khas dari mereka adalah selalu menggunakan bahasa kaum. Ya, bahasa nabi adalah bahasa kaumnya.

Pada titik itulah Jokowi menjadi suatu fenomena politik, bukan hanya di Solo, bukan hanya di DKI, bukan hanya di Indonesia, tapi juga di dunia. Dimana Jokowi dianggap sebagai walikota terbaik ke-3 di dunia. Suatu prestasi anak bangsa yang telah mengharumkan ibu pertiwi. Karya kongkrit seperti itulah yang akan membuat Soekarno, dkk, tersenyum di alam sana.

 

Salam.

Wujudkan Republik Manusia, Tolak Republik Binatang

www.republikmanusia.com

Pin BB: 760bde66

 

A.Zulkarnain

*Penulis Tesis: Fenomena Politik Jokowi

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *