Politik: Jalan Tol Menuju Surga (Kasus Jokowi)

Saat ini beberapa pejabat dan politisi berusaha tampil semakin merakyat. Hal itu salah satunya karena pejabat ingin dicintai rakyat , sedangkan rakyat telah menggunakan indikator Jokowi dalam cinta. Bahwa mencintai pejabat harus merakyat, tak boleh arogan, tak boleh feodal, dan tak boleh elitis.

Jokowi saat menjadi Walikota Solo telah merubah budaya politik , telah membuka mata rakyat tentang apa sebenarnya dunia politik, tentang apa fungsi politisi, bahkan tentang apa tugas negara. Ketika Jokowi menjadi gubernur ibu kota negara (DKI Jakarta). Jokowi semakin menjadi virus positif dalam dunia polik. Hampir setiap pilkada ada yang mendekatkan diri mereka pada citra Jokowi.  Misalnya: menggunakan baju kotak-kotak serta slogan yang berbau Jokowi.

Saat ini, banyak pejabat dan politisi yang mengubah gaya mereka yang elitis menjadi merakyat. Hal tersebut karena (1) mereka ikut tersadar oleh nasehat tindakan Jokowi (2) mereka sedang berusaha meraih atau menjaga kekuasaan.

foto: www.cvp-bs.ch

foto: www.cvp-bs.ch

Apapun itu, yang pasti Jokowi telah membuat pelajaran ilmu politik menjadi sangat simpel di mata masyarakat. Jokowi telah berhasil melakukan revolusi kecil  tanpa konflik, tanpa darah. Jokowi tak berbicara tentang konflik besar antara ideologi kapitalisme, sosialisme. Jokowi tak berteriak tentang lawan imprealisme. Jokowi tak berpidato lawan kaum borjuis, hidup proletar.  Jokowi hanya bertindak nyata untuk kesejahteraan masyarakat.  Bagaimana pengusaha tetap bisa untung tapi jangan terlalu banyak, dan bagaimana mereka jangan menipu masyarakat, termasuk merusak negara.  Jokowi berusaha agar semua rakyat bisa makan, bisa punya tempat tinggal yang layak, pendidikan yang memadai,  serta kesehatan yang terjamin.

Jokowi tak pernah bicara tentang apa teori ilmiah yang melandasi tindakannya. Jokowi tak menggunakan istilah tinggi untuk memperindah pidatonya, tapi Jokowi hanya menggunakan bahasa kaumnnya. Sungguh ada begitu banyak orang yang jago bahasa ilmiah di negeri ini, tapi tak banyak yang bisa membumikan idealitas ilmiahnya. Begitu banyak orang kampus yang ahli di bidang pertanian, tapi apa yang mereka lakukan untuk memperbaiki nasib petani? Begitu banyak orang yang fasih bicara masalah ekonomi dan kemiskinan, tapi apa yang mereka kerjakan untuk menyelesaikan masalah kaum miskin? Begitu banyak ahli ceramah yang berkata bahwa membantu sesama, mendorong kebaikan dan menghentikan kezaliman adalah perintah Tuhan, tapi apa aksi nyata mereka? Semua hanya menjadi permainan bahasa yang angkuh yang tak memberi manfaat bagi massa rakyat.

Jokowi adalah cermin rakyat.

Jokowi begitu mudah bernegosisasi dengan rakyat.  Rakyat pun begitu cepat percaya dengan ungkapan atau nasehat Jokowi , karena bagi mereka Jokowi bukan orang yang jauh dari langit, tapi Jokowi secara penampilan, cara bicara, cara makan, pilihan jenis makanan, dan lainnya mirip dengan mereka.

Para politisi yang ingin menjokowikan diri dengan motif menipu rakyat pasti akan kesulitan. Karena hal tersebut tak cukup dengan skenario dari konsultan politik.  Tapi harus ditopang oleh karakter. Kalau tidak maka penderitaanlah yang akan dialami, bahkan lebih jauh, ketika kelak ketahuan bahwa merakyat hanyalah topeng, maka sang politisi akan mendapatkan kutukan yang bertubi-tubi dari massa rakyat.

foto: irianirianiii.blogspot.com

foto: irianirianiii.blogspot.com

Hal lain yang para pejabat dan politisi perlu pelajari dari Jokowi adalah caranya merespon kritik serta fitnah. Misalnya: ketika masih menjabat sebagai Walikota Solo, dikatakan bodoh oleh seorang gubernur. Jokowi menjawab saya memang bodoh makanya hanya jadi walikota. Ketika ditanya oleh wartawan tentang adanya fitnah dari seorang penyanyi dangdut terkenal terhadap ibunya yang katanya seorang non muslim. Jokowi menjawab kepada wartawan, beliau (raja dangdut) adalah idola saya. Saya hafal banyak lagunya beliau. Jawaban spontan Jokowi menjawab pertanyaan wartawan terkait hal tersebut sangat sulit direkayasa. Ungkapan spontan tersebut adalah ungkapan jiwa. Dimana untuk mencapainya harus ada usaha membersihkan jiwa dan merawat jiwa beberapa tahun, bahkan puluhan tahun sebelum pertanyaan wartawan tersebut muncul.

Ketenangan Jokowi merespon kritik dan fitnah menjadi tanda bahwa Jokowi sudah selesai dalam dirinya. Jokowi berpolitik karena ingin mengurus orang lain. Ya’ itulah sejatinya politik “seni mengurus orang lain”. Hal tersebut bisa semakin terang ketika membaca kebiasaan Jokowi kalau pulang ke Solo masih sering membagi beras kepada kaum miskin. Padahal secara kekuasaan politik, Jokowi tak lagi bertanggung jawab untuk warga Solo, tapi hanya warga DKI Jakarta.

Hal itu mempertegas bahwa Jokowi berbuat untuk rakyat bukan lagi strategi politik untuk mendapatkan suara, tapi kebaikan itu telah menjadi visi hidup. Kekuasaan politik hanyalah supaya kebaikan itu semakin besar dan mudah dilakukan.  Karena dengan jalur politik ada tim besar yang membantu yakni birokrasi yang jumlahnya ribuan, serta berbagai fasilitas negara untuk memaksimalkan kerja-kerja kebaikan.   Ya’ itulah keindahan politik ditangan Jokowi.

Jokowi mempertegas bahwa politik adalah jalan tol menuju surga, bukan jalan tol menuju neraka, sebagaimana 311 kepala  daerah yang sedang dirawat oleh KPK.

***

Hentikan republik binatang, wujudkan republik  manusia

Salam

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *