Politik Bawang ala SBY

Bukan lautan hanya kolam susu,kail dan jala cukup menghidupimu
Tiada badai tiada topan kau temui, ikan dan udang menghampirimu
Orang bilang tanah kita tanah surga Tongkat kayu dan batu jadi tanaman.
(Koes Plus)
Salah satu tanah Allah tersubur adalah bumi Indonesia.

Tapi sekarang sedang mengalami krisis bawang merah dan bawang putih. Presiden katanya marah kepada menteri yang terkait dengan bidang tersebut. Tapi apakah cukup dengan marah kepada menteri? Kemudian apakah marah tersebut murni atau marah tersebut adalah marah acting seperti yang sering dilakukan selama ini. Pertanyaan selanjutnya, apakah manajemen negeri sebesar ini harus menggunakan manajemen tukang sate, ketika ada masalah, baru sibuk.

foto: http://gumun.deviantart.com

foto: http://gumun.deviantart.com


SBY beserta para loyalis dan mesin politiknya (yang didepan layar maupun yang dibelakang layar) yang telah menguasai dan memerintah negeri ini sekitar 9 tahun lamanya, pastinya sudah sangat paham peta persoalan. Olehnya itu bawang merah dan bawah putih harusnya bisa diatur sedemikian rupa, sehingga tidak perlu menciptakan kericuhan disetiap dapur rakyat negeri ini.

Yang menarik juga untuk dicermati adalah keluhan petani bawang di beberapa daerah yang tidak berminat lagi menanam bawang karena harga jual selalu mengecewakan. Setiap terjadi kenaikan harga, maka hanya pedaganglah yang merasakan manfaatnya. Petani tetap dalam derita lamanya, bertani hanya untuk sekedar tidak mati kelaparan.

Dari kekecewaan petani tersebut, terlihat bahwa negara terlibat banyak dalam kelangkaan tersebut. Salah satunya adalah negara tidak mampu memberi jaminan pasar kepada petani bawang, serta negara jauh lebih memuliakan para mafia impor yang hidup nikmat di negeri ini. Perilaku negara dibawah kendali SBY dan groupnya seolah menghidupkan kembali Karl Marx dari kuburnya, yang pernah mengatakan bahwa negara tidak hanya berpihak, tapi juga menjadi alat kelas dominan, yakni kelas berjuis.

foto: http://www.rimanews.com

foto: http://www.rimanews.com


Kekecewaan, kejengkelan dan kemarahan petani bawang atas tidak adanya perlindungan negara kepadanya, memperkuat pula tesis tentang negara gagal, yakni ketika negara tidak mampu berbuat apa-apa atas kekuatan modal yang dikendalikan oleh para kapitalis atau para borjuis lokal maupun internasional.

Jadi, apakah salah kalau rakyat mempertanyakan gelar doktor pertanian yang disandang dan sering dibanggakan oleh SBY. Apakah salah kalau rakyat mempertanyakan kinerja para staf ahli SBY, kinerja para menteri dan wakil menteri terkait yang dibayar penuh perbulan dari hasil keringat para petani bawang dan rakyat seluruhnya.

Salam untukmu Bapak SBY

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *