Polisinya Manusia

Menurut Gusdur, hanya ada tiga Polisi jujur di Indonesia, yakni patung Polisi, Polisi tidur dan Mantan Kapolri, Hoegeng Iman Santoso. Di Tanah Bone saya mendapatkan cerita dari masyarakat tentang polisi yang unik. Di suatu waktu ada remaja ditangkap karena menonton judi. Pihak keluarga memohon kebijaksanaan sambil menjelaskan konteks persoalan. Akhirnya disepakati, anaknya tidak ditahan, tapi harus ikut program polisi santri. Anaknya akan berkeliling beberapa mesjid bersama polisi. Dengan agenda mengaji, makan, tidur bersama, dan lainnya.

Program ini membuat masyarakat paham tugas polisi untuk memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat; menegakan hukum, dan memberikan perlindungan, pengayoman, dan pelayanan kepada masyarakat. Sang polisi juga mengerti kondisi masyarakat dengan berbagai kompleksitas masalahnya yang kadang membuatnya harus melanggar aturan demi sekedar bertahan hidup, tergoda ikut teman, dll, dsb.

Menemani warga mencari keadilan ke Kapolres Bone

Memaknai Budaya

Bagi Pak Kadarislam, polisi dalam menegakkan aturan harus mempertimbangkan budaya setempat. Ketika dilantik sebagai Kapolres di Bone, ia langsung menangkap pesan dari tagline “Bone Kota Beradat.” Baginya kalimat tersebut sangat penting untuk direnungkan oleh pihak kepolisian yang bertugas di Bone.

Pemahaman atas budaya lokal menjadi urgen bagi aparat karena bangunan hukum negeri ini tidak terlepas dari hukum Eropa, hukum agama dan hukum adat.

Hukum merupakan konkretisasi nilai-nilai sosial yang terbentuk dari kebudayaan  

Citra Polisi

Dulu polisi dikenal cukup berjarak dan ditakuti masyarakat. Ketika melihat polisi, muncul kekhawatirkan karena selalu saja ada yang dipermasalahkan, termasuk pentil ban bagi pemilik kendaraan. Bagi Bapak Kadarislam, Polisi itu sahabat dan keluarga masyarakat, makanya ketika bertemu warga ia selalu mengajak mereka untuk datang jalan-jalan ke kantornya. Bukan hanya datang saat ada masalah. “Datangki, pokoknya kita lapar ke Polres. Janganmiki makan diluar. Di ruang Kapolres banyak makanan.”

Saat saya mudik di momen ramadhan kemarin. Saya ikut menemani warga pergi curhat dengan Kapolres dalam rangka menagih rasa keadilan.  Diantara mereka yang datang, ada yang hanya menggunakan celana pendek dan sendal. Semua diizinkan masuk dan diajak berbicara. Bagi Kapolres termuda di Sul-Sel ini, polisi hadir untuk menjadi pelayan semua golongan. Dalam filsafat Bugis disebut dengan temappasilaingeng. Demikianlah idealnya pejabat, melihat manusia karena kemanusiaannya, bukan pakaiannya. Manusia sejatinya memiliki hakekat yang sama, sebagaimana kalimat Tuhan kepada manusia “Kutiupkan Ruh ku kepadamu”.

Perubahan cara pandang Kapolres dalam menjalankan tugas kepolisiannya terkait dengan pengalamannya saat bertugas di Sumatera. Di suatu waktu, dia dan tim mengejar seorang penjahat. Tim yang turun ke lapangan menemukan penjahat tersebut sering berada di masjid. Awalnya, orang tersebut diduga karena ingin mencuri kas masjid. Namun, setelah dipantau lebih serius, diketahui bahwa penjahat tersebut sudah bertobat.

Ex penjahat tersebut kemudian dibawa ke kantor polisi untuk menceritakan kisahnya. Dia menjelaskan bahwa dulu pernah  ada ustadz yang mengajaknya ke masjid. Di jawab” bagaimana bisa saya ke masjid, saya kan pemabuk. Saya suka sekali minum”. Ustadz tersebut mengatakan bahwa tidak masalah engkau masih peminum, yang penting saat lagi mau minum keluar masjid dulu. Penjahat tersebut heran, karena merasakan perbedaan sikap orang kepadanya. Sejak saat itu, dia mulai sering bergaul di masjid. Ketika orang mengaji di masjid, dia biasa tidur karena sudah oleng habis minum. Sang ustadz memaklumi hal tersebut, karena baginya semua manusia melalui perjalanannya dan akan mendapatkan hidayahnya masing-masing.

Selanjutnya, SOP setelah minum adalah mandi. Dalam satu hari penjahat tersebut bisa mandi berkali-kali. Dia kemudian berpikir bahwa kalau pola hidupnya begitu terus, maka sangat tidak sehat bagi dirinya. Dia bisa masuk angin, dll. Singkat cerita, di suatu malam penjahat tersebut menangis. Dia berjanji untuk secara total meninggalkan kebiasaannya minum, serta berbagai aktivitas buruknya yang lain.

Pak Kadarislam kemudian tersentuh sekali dengan kisah tersebut. Bahwa untuk mengubah seorang penjahat butuh pendekatan komprehensif. Memerlukan kesabaran. Penjahat pun harus dilihat sebagai manusia yang tak bisa luput dari salah dan khilaf. Ketika pendekatan yang dilakukan tepat, maka seorang penjahat bisa berubah menjadi pejuang kebaikan. Penegakan hukum, hanyalah salah satu pendekatan untuk mengubah manusia yang khilaf, banyak pendekatan lain yang bisa saja lebih ampuh seperti kisah penjahat insaf diatas.

Pada beberapa kasus, penjahat yang keluar dari tahanan bukan meningkat kualitas kemanusiaanya, namun semakin sempurna tingkat kejahatannya. Jika dulu ditangkap sebagai pencuri sendal, maka setelah keluar menjadi perampok. Jika seseorang dikurung karena mengonsumsi narkoba, maka setelah keluar, naik kelas menjadi bandar narkoba. Itu semua karena dia bergaul dengan penjahat yang lebih besar di dalam tahanan.

Foto: koransulindo.com (reformasi polisi)

Masjid Sebagai Jantung Masyarakat

Di Kecamatan Tellusiattinge, ada warga yang mendoakan agar Pak Kadarislam bisa lama bertugas di Bone. Sudah puluhan tahun masjid di kampungnya didirikan namun baru kali ini ada Kapolres yang datang dan memberi tausiah. Dengan pendekatan rutin silaturahmi ke masjid dan rumah warga, Kadarislam berhasil memberi gambaran baru tentang polisi di kabupaten yang terkenal dengan adat dan religiusitas warganya. Di sisi internal, polisi juga akan termotivasi untuk ikut menjaga silaturahmi dan aktif shalat di masjid karena pimpinannya telah memberi contoh.

Kapolres Bone ini meyakini bahwa Masjid adalah jantungnya kampung. Kalau jantung kita sakit dan tidak berfungsi dengan baik  maka sangat berpengaruh dengan kesehatan. Begitu juga dengan masjid, jika diramaikan atau dimakmurkan, maka keberkahan akan mendatangi.

Istri Senang Suaminya Ditahan

Ada cerita dari Pak Kapolres, bahwa ia pernah diberitahu ibu-ibu yang senang suaminya ditahan di Polres. Kemudian ditanya, kenapa bisa? Si ibu tersebut menjelaskan bahwa suaminya banyak berubah saat ini. Dulu selalu dekat dengan hal negatif, seperti judi, kekerasan, mabok, dll, namun setelah tinggal di ruang sel Polres Bone ada keajaiban yang terjadi.

Sejak kepemimpinan Pak Kadarislam, Polres Bone banyak berbenah, termasuk tentang bagaimana polisi memaknai tahanan. Umumnya tahanan selalu dipandang negatif, rendah, kotor, keras kepala, makanya pola kekerasan pula yang selalu dijadikan solusi oleh aparat. Di Polres Bone, polisi akan masuk ke dalam sel duduk dan makan bersama tahanan. Polisi akan menjelaskan, bahwa bapak-bapak yang ditahan di sini karena suatu kasus kriminal patut bersyukur. Wah kenapa bisa, pak, menyela salah satu tahanan. Bersyukur karena anda masih diperlihatkan kelemahan kalian oleh Allah swt sehingga ada waktu untuk memperbaikinya. Kalau saya ini belum jelas, kata Pak Polisi.

Foto: http://m.batamtoday.com

Dengan pendekatan dan penjelasan tersebut banyak tahanan yang kemudian mengambil hikmah atas masuknya mereka di tahanan. Mereka kemudian membangun komitmen dalam diri bahwa ke depan harus lebih baik. Kesempatan hidup mereka yang tersisa harus digunakan semaksimal mungkin untuk ibadah individu dan ibadah sosial.

Dimana Mulianya Polisi?

Perilaku oknum polisi yang masih bermental priyayi atau bahkan menjadikan masyarakat sebagai objek eksploitasi sejatinya merupakan peninggalan mental polisi era penjajahan. Pada zaman kolonial Belanda, pembentukan pasukan keamanan diawali oleh pembentukan pasukan-pasukan jaga yang direkrut dari orang-orang pribumi dengan tugas utama menjaga aset dan kekayaan orang-orang Eropa di Hindia Belanda saat itu. Pada tahun 1867 sejumlah warga Eropa di Semarang, merekrut 78 orang pribumi untuk menjaga keamanan mereka. Sejarah tersebut merupakan bagian dari jejak kepolisian kita. Momentum kemerdekaan harusnya mengubah mental polisi untuk menjadi pelayan masyarakat. Segala energi dan hidupnya dibaktikan untuk memuliakan rakyat dan meninggikan NKRI.

Pak Kadarislam meyakini bahwa bekerja sesuai tupoksi kepolisian adalah hakekat seorang polisi. Disitulah letak kemuliaannya. “Kita mulia bukan karena polisinya, tapi kerja atas polisinya”. Kisah Pak KadarIslam memberi optimisme tentang perjuangan reformasi kepolisian, yang pada hari ini, tanggal 1 Juli merayakan kehadirannya untuk NKRI yang ke 72.

Demikian sebagian refleksi saya ketika mudik di kampung, terkhusus saat bertemu dengan kapolres Bone dalam agenda diskusi tentang harapan rakyat atas polisinya serta  menemani warga mencari keadilan atas kasusnya. Mari mendorong hadirnya Polisinya Manusia demi terwujudnya Republiknya Manusia.

Salam

www.republikmanusia.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *