PILPRES DAN EMPAT NEGARAWAN

  “My loyalty to my party ends when my loyalty to my country begins”

( Manuel L Quezon Presiden Filipina, 1935-1944)

Mari mengirimkan doa yang tinggi kepada empat manusia besar anak kandung ibu pertiwi, Bapak Joko Widodo dan Bapak Yusuf Kalla serta Bapak Prabowo dan Bapak Hattarajasa. Mereka berempat telah berjuang dan berkorban materi dan non materi untuk membangun negeri ini.

 Tingginya partisipasi politik rakyat pada pilpres kali ini menjadi saksi kuat bahwa mereka telah berhasil menyentuh hati rakyat agar mau ikut membangun negeri ini.

Karena ini dunia, bukan SURGA, maka mungkin ke empat tokoh tersebut memiliki beberapa kelemaham dalam proses tersebut. Tapi secara umum mereka harus kita muliakan dan doakan karena telah berhasil menggoda rakyat untuk ikut dalam kegembiraan politik.

Ramainya media sosial, aktifnya relawan, massifnya pemberian donasi adalah tanda bahwa tuduhan penyakit individualisme telah ganas di negeri ini adalah kesimpulan yang keliru. Rakyat masih punya cinta, rakyat masih punya mimpi, rakyat masih punya harapan agar negaranya menjadi besar dan di hitung oleh masyarakat global dan TUHAN.

Kebesaran nama Pak Jokowi JK dan Pak Probowo Hattarajasa telah dicatat oleh sejarah. Mereka berhasil membuat slogan “golput itu keren” menjadi slogan kadaluarsa. Mereka berhasil menenggalamkan anggapan politik sebagai sesuatu yang tak penting, menjadi suatu perjuangan yang strategis.

Foto: www.keepcalmandposters.com

Foto: www.keepcalmandposters.com

Mereka mungkin tak suci 100%, karena mereka memang tak pernah mengklaim sebagai utusan langsung dari surga. Tapi minimal mereka telah mendakwahkan bahwa surga di dunia harus di wujudkan.

Ke emapat tokoh tersebut telah mempertegas ungkapan seorang pernyair dan dramawan Jerman, Bertolt Brecht “Buta terburuk adalah buta politik. Orang yang buta politik tak sadar bahwa biaya hidup, harga makanan, harga rumah, harga obat, semuanya tergantung keputusan politik. Dia membanaggakan sikap anti politiknya, membusungkan dada dan berkoar ‘Aku benci politik’. Sungguh bodoh dia, yang tak mengetahui bahwa karena dia tak mau tahu politik, akibatnya adalah pelacuran, anak terlantar, perampokan, dan yang terburuk, korupsi dan perusahaan multinasional yang menguras kekayaan negeri”.

Menang dan kalah adalah salah satu ciri dunia. Setiap orang dalam hidupnya pernah pernah mencicipi menang dan kalah, termasuk para nabi-nabi.

Makanya yang paling utama dalam kompetisi adalah bahwa kita sedang memperjuangkan sesuatu yang halal dngan cara yang halal. Itulah yang dicontohkan oleh para nabi. Makanya, mereka tak pernah larut dalam kesedihan ketika kalah dan mereka juga tak sombong ketika menang.

Tentu kita sebagai rakyat, sangat paham bahwa ke empat manusia besar dalam pilpres saat ini adalah orang-orang yang mengerti sejarah dan falsafah kenabian tersebut.

Mari kita berdoa, semoga para malaikat selalu setia menjaga ke empat manusia besar tersebut.

Kita juga yakin bahwa mereka berempat memiliki sifat pengasih dan penyayang, karena Ruh Ilahiah dalam dirinya. Sebab, pengasih dan penyang adalah salah satu indikator masih aktif atau tidaknya Ruh Ilahiah pada diri manusia.

Kita berdoa dengan sangat agar ke empat manusia besar tersebut tetap menjadikan derita rakyat sebagai derita peminpin. Makanya, apapun sikap mereka atas hasil pilpres adalah yang paling besar maslahatnya bagi rakyat dan NKRI.

Perbedaan pendapat, pro kontra adalah ciri-ciri dunia. Semua nabi mengalami dealektika tersebut. Maka setelah pemilu dan pengumuman hasil oleh KPU, bukan lagi membahas kemuliaan tim no 1 atau tim no 2  tapi kemuliaan Indonesia. Bahwa keringat  darah dan nyawa para pejuang kemerdekaan harus menjadi akar pijakan kita berpolitik dan berkompetisi. Para pendiri negeri telah mengajarkan dengan indah, bahwa mereka boleh berdebat sangat panjang, tapi semua itu tak boleh meruntuhkan NKRI.

Foto: bandung.bisnis.com

Foto: bandung.bisnis.com

Kemenangan dalam pemilu bukanlah kemewahan, karena hal tersebut bisa menjadi kutukan ketika segala ekspektasi rakyat sang pemberi mandat tak mampu dijalankan. Kekalahan juga bukanlah kehancuran dan kehinaan. Ia hanya menjadi keniscayaan kompetisi yang memberi legitimasi bahwa kalau ada pihak pemenang, maka harus ada pihak kalah. Olehnya itu, kebesaran jiwa menerima kekalahan adalah bentuk kekuatan dan kemuliaan yang tinggi nilainya.

Keempat aktor besar tersebut akan ada dua yang dikenang sebagai pemenang pilpres 2014, tapi kita berharap dan berdoa keempatnya bisa dikenang sebagai negarawan. Dimana mereka berucap dan bertindak bukan hanya untuk kepentingan diri, keluarga dan kelompoknya, tapi untuk kepentingan besar negaranya.

Kita yakin bahwa keempat tokoh sentral tersebut bersepakat dengan KH Hasyim Muzadi bahwa partai untuk Indonesia, bukan Indonesia untuk partai. Begitu halnya, demokrasi untuk Indonesia, bukan mengorbankan Indonesia untuk demokrasi.

Maka, mari kita berdoa, semoga Tuhan pecinta senantiasa menusukkan cintanya kepada empat anak kandung ibu pertiwi tersebut. Semoga mereka selalu mendapatkan kebaikan terbaik, menurut Tuhan. Amin.

Salam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *