Pilkada Sulsel (Besok), Damai atau Ricuh?

Beberapa jam lagi (tepat 22/1/13) Sulawesi Selatan akan melaksanakan kompetisi politik untuk posisi gubernur dan wakil gubernur. Proses tersebut adalah sebagai suatu syarat di era demokrasi. Bahwa kekuasaan tidak lagi turun temurun, bukan juga pemilihan oleh sekolompok elit, tapi kedaulatan ada di tangan rakyat. Semua pasangan kandidat telah memasang jurus terbaik agar dapat menang dalam kompetisi politik tersebut. Bagaimana menggoda masyarakat agar rela memberi cintanya kepada mereka.

Proses pemilihan bisa diibaratkan suatu proses relasi antara sang pecinta dan sang kekasih. Jadi, sang pecinta adalah kandidat yang telah memberi tawaran kesetiaan, program hidup bersama, dan lainnya. Sedangkan sang kekasih adalah rakyat yang harus menentukan kepada siapa cintanya diberikan.

foto: http://news.detik.com

foto: http://news.detik.com


Setiap cinta selalu memiliki risiko perselingkuhan, olehnya itu setiap cinta butuh keberanian dan kecerdasan untuk memutuskan agar sang kekasih tidak mudah menjadi korban atas rayuan palsu. Sang kekasih harus memiliki analisa yang tajam dalam menilai sang pecinta yang datang membawa cinta.

Analisa bukan hanya berdasar pada penampilan fisik, tapi juga kualitas jiwa sang pecinta. Untuk konteks pilkada, berarti bukan hanya melihat tampilan baliho, poster, dll. Tapi juga pada track record masing-masing kandidat, termasuk bagaimana mencermati karakter berpikir kandidat, serta program yang ditawarkannya.

Peran elit dan tagline politik

Peran elit yang terlibat dalam kompetisi politik lokal tersebut sangat penting dalam membimbing massa agar tetap bisa bersikap secara fair dalam segala prosesnya. Menurut Vilfredo Pareto (dalam SP Varma, teori politik modern, 2001) ketika menjelaskan tentang elit bahwa mereka yang bisa menjangkau pusat kekuasaan merupakan yang terbaik, mereka mempunyai kualitas yang diperlukan bagi kehadiran mereka pada kekuasaan sosial dan politik yang penuh. Sedangkan menurut Gaetano Mosca (dalam buku yang sama), stabilitas organisme politik, selalu tergantung pada tingkat moralitas, kepandaian, dan aktivitas yang diusahakan oleh keduanya.

Kita berharap dengan moralitas dan kepandaian elit politik yang berkompetisi bisa mendorong proses politik tersebut berjalan dengan baik, sehingga chaos antara pendukung kandidat pasca debat kandidat putaran pertama tidak terjadi lagi.

Kandidat no urut 1 Bapak Ilham Arif Sirajuddin dan Bapak Azis Kahar Muzakkar hadir dengan tagline IA Semangat Baru Sulawesi Selatan. Dari hal tersebut kita dapat memetik makna bahwa semangat baru yang dimaksud pastilah suatu cahaya baru bagi rakyat Sulawesi Selatan. Dimana dengan semangat baru tersebut masyarakat akan lebih sejahtera, lebih bahagia. Olehnya itu, janji tersebut harusnya sudah mampu dibuktikan dari sekarang bahwa semangat baru itu bukanlah kekerasan, bukanlah membuat masyarakat semakin galau dengan banyaknya konflik terkait momentum pilkada ini. Hal lain terkait kandidat pertama ini adalah munculnya figur ustad, yakni bapak Azis Kahar Muzakkar. Harapan besar kita hal tersebut bisa dipertanggungjawabkan dengan munculnya komitmen besar dari pasangan kandidat tersebut untuk senantiasa menjadi rahmatan lil alamin.

Kandidat no urut 2 Bapak Syahrul Yasin Limpo bersama Bapak Agus Arifin Nu’mang dengan tagline Don’t Stop Komandan, Tiada Kata Berhenti untuk Perjuangan Kesejahteraan Rakyat. Harusnya tagline tersebut dipertanggungjawabkan dengan selalu mengutamakan kepentingan rakyat diatas kepentingan kelompok. Sejatinya, tidak ada satupun komandan yang merelakan nyawa rakyatnya jatuh sia-sia. Olehnya itu, komandan yang baik adalah siap menjadi pembela rakyatnya, bahkan siap menderita demi kepentigan rakyatnya. Maka harapan besar kita, ketika Bapak Syahrul dan Bapak Arifin Nu’mang (SAYANG) bisa memberi arahan serta ketegasan kepada semua tim di lapangan bahwa tak boleh ada pilihan settingan yang bisa merusak rasa sayang menyangi antara rakyat Sul-Sel.

Begitu halnya dengan kandidat no urut 3 Bapak Andi Rudiyanto Asapa yang berpasangan dengan Bapak Andi Nawir Pasinringi yang muncul dengan tagline Garuda-Na. Harapan kita kandidat tersebut mengharumkan nama Garuda. Bahwa Garuda adalah simbol persatuan, Garuda adalah simbol dari progresivitas membangun negeri. Olehnya itu, semoga beliau pun bisa bersikap tegas kepada semua timnya di lapangan bahwa persatuan dan kebahagiaan rakyat adalah segalanya.

Dari semua hal tersebut, kita optimis bahwa pilkada damai di Sul-sel bisa terwujud dengan adanya konsistensi semua tim kepada nama dan isu politik yang telah diproduksi. Pilkada damai yang menghasilkan pemimpin yang terbaik, itulah yang kita harapkan, sehingga seperti yang dibahasakan oleh Aristoteles dan Plato maka politik akan menjadi en dam onia, usaha untuk menggapai kehidupan yang lebih baik.

Agenda demokratisasi di Indonesia yang sudah berjalan sejak jatuhnya Orde Baru harus terus dilanjutkan. Olehnya itu, budaya politik yang sehat harus terus ditumbuhkan. Elit Politik Sul-Sel bisa belajar bagaimana pidato kekalahan Romney dan ucapan selamatnya kepada Obama pasca pengumuman hasil pemilu. Pidato tersebut memperlihatkan kedewasaan berpolitik Romney dan matangnya budaya politik yang ada di Amerika Serikat. Begitu pun pidato kekalahan Foke beserta kandidat lain pada saat pilkada DKI beberapa waktu yang lalu. Ucapan kemenangan kepada sang pemenang adalah wujud kualitas sang politisi. Mereka justru akan tersimpan dalam memori para pecintanya. Mereka akan menjadi guru dalam masyarakat. Mereka akan menjadi inspirasi jauh melampaui umurnya.

Perilaku mulia hanya bisa dilakukan oleh orang yang memiliki kemuliaan.

Selamat, Pak Ilham, Pak Sahrul, Pak Rudi, sejarah akan mencatat anda sebagai manusia terbaik yang pernah lahir, besar dan berdialektik di tanah Sulawesi-Selatan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *