Perempuan adalah nafas Revolusi

…janganlah masyarakat laki-laki mengira,

 bahwa ia dapat maju subur, kalau tidak dibarengi oleh kemajuan masyarakat perempuan pula.

(Soekarno)

HATI-HATILAH dalam memilih pasangan hidup karena tak dapat dipungkiri begitu banyak realitas (1) seseorang jatuh secara spiritual, (2) gagal dalam bermasyarakat, (3) bersikap inkonsisten terhadap cita-cita awalnya dengan menjadi koruptor atau penindas, karena calon istri/istri yang menjadi penyebabnya.

Perempuan yang baik bisa dilihat pada konsistensinya menjalankan perintah agama, baik substansi nilai (kebenaran, keadilan, dan kemanusiaan), maupun syariatnya, seperti salat , dan lainnya (bagi yang muslim). Ketika teman dekat (calon istri/istri) menjauhi hal tersebut, maka segeralah bantu dia untuk sadar–membelikannya buku, selalu mengajak ikut kajian–baik tema keagamaan maupun tema umum. Setelah beberapa waktu (misalnya satu tahun) ternyata tidak berubah, bahkan semakin parah–dimana cara berpikir dan perilakunya bertentangan dengan anjuran agama, maka atas nama ideologi dan Tuhan yang kita yakini, carilah perempuan lain untuk menjadi teman dekat. Itu adalah pilihan yang jauh lebih mulia, karena begitu banyak orang yang sudah menikah, tapi di dalam rumah tangganya dipenuhi dengan konflik, dipenuhi dengan pera-saan sakit dan ketersiksaan. Karena ada dua jiwa yang berbeda dalam rumah tersebut.

Ummu Kalsum (ibunda tempat belajar ttg hidup, yg april 2012 lebih dulu menuju kehidupan yg lebih tinggi) InsyaAllah

 Ibu Ummu Kalsum (ibunda, tempat penulis belajar tentang hidup, yang pada april 2012 lebih dulu menuju  kehidupan yang lebih tinggi).

Ketika harus dibenturkan antara kepentingan satu perempuan dengan ideologi, maka yang wajib kita pilih adalah kepentingan Tuhan atau ideologi, karena istri kita niatkan menjadi teman seperjalanan dalam hidup yang akan sama-sama membangun generasi yang revolusioner. Ketika kita salah melakukan pilihan, dia tidak menemani kita menuju Tuhan, tapi justru menemani kita menuju neraka. Janganlah kita terjebak pada kesalahan fatal atas nama cinta.

Cinta sejati adalah cinta yang mengantarkan kita untuk menemukan pemilik cinta (Tuhan), bukan menjauhi-nya. Dan untuk menemukannya, kita perlu melakukan amalan ibadah individu dan ibadah sosial secara bersama, sebagaimana yang dicontohkan oleh para nabi dan para pemberontak agung yang lain.

Muthmainnah/ iin (Ibu Mertua yg juga anti SBY. Puji syukur Tuhan atas kebaikannya mempertemukan banyak teman berjuang)

 Ibu Muthmainnah/ iin (Ibu Mertua yang juga anti SBY dan anti uang mahar yang memberatkan (Lihat prolog beliau di Mozaik Cinta). Puji syukur yang tinggi kepada Tuhan atas kebaikannya mempertemukan banyak teman berjuang)

Jadi, yang menjadi aturan main bagi orang yang sedang berproses untuk menentukan pilihan hidup maupun yang telah memilih (menikah) adalah konsistensi pada nilai kebenaran, keadilan, dan kemanusiaan. Jadi, setiap pihak dibolehkan meminta perpisahan kapan pun, ketika mendapatkan beberapa fakta pasangannya melanggar ideal-isme atau visi ketuhanan dalam rumah tangga dan tidak bisa atau tidak mau lagi berusaha mengubahnya. Ketika memaksakan hidup yang bertentangan dengan ideologi, maka itulah hidup yang penuh penderitaan. Fitrah manusia adalah senantiasa merindukan kebenaran, keindahan, dan kebaikan. Siapa pun yang menolak hukum (undang-undang) Tuhan tersebut, maka penderitaan (ketersiksaan) yang sempurnalah yang akan dihadapi dalam menjalani hidup-nya.

Cinta sejati bukanlah penjara yang menghalangi kita untuk merasakan fitrah Ilahiah. Cinta sejati tidaklah mem-buat kita terjebak pada ego diri, ego rumah tangga atau ego kelompok, tapi justru melempar kita jauh untuk sampai pada ego semesta/ego nilai/ego Tuhan (lebih jauh tentang ego semesta, lihat di tema curhat kemanusiaan).

Hati-hatilah dengan perempuan yang hanya selalu mempercantik fisiknya dan lupa untuk mempercantik jiwa-nya–memperindah akhlak dan ilmunya–karena banyak perjuangan yang gagal terjebak dalam cinta seperti itu. Begitu banyak orang yang masuk penjara, karena korupsi dengan motivasi ingin membahagiakan istrinya. Karena istri tak hentinya memaksa untuk dicukupkan kebutuhan materialnya-rumah mewah, mobil mewah, dan seterusnya.

Perempuan yang baik adalah yang mengingatkan, bahkan mengancam akan meninggalkan sang suami ketika berbuat hal-hal yang bertentangan dengan ideologi ataupun anjuran agama. Perempuan yang baik adalah perempuan yang tidak mengeluh ketika kita berdiskusi tentang idealitas, perempuan yang bahagia ketika pasangannya berbuat baik untuk orang lain, perempuan yang bahagia ketika pasangannya ikut dalam barisan perjuangan untuk memperbaiki kea-daan, perempuan yang menghalalkan pasangannya untuk capek, bahkan mati demi kebenaran dan keadilan.

winda (istri, teman berjuang menuju puncak cinta (Tuhan YME)). InsyaAllah

winda Junita Ilyas (istri, teman berjuang menuju puncak cinta (Tuhan YME)). InsyaAllah. * Yang selalu mengingatkan bahwa hidup itu melawan* Sekarang sedang belajar di Pasca Gender UI

Oh, sungguh ikatan rumah tangga harus punya visi ideologis, sehingga akan menopang terwujudnya revolusi sosial di suatu hari kelak. Dan kalau kita tidak berhasil memfinalkan perjuangan, maka cukuplah kita mengatakan kepada anak kita kelak, ”Nak, ketika revolusi ini tak mampu aku wujudkan dengan tanganku, maka akan kutitip revolusi ini kepadamu.”

(Tulisan ini pun berlaku sebaliknya, bagi perempuan dalam menilai calon pasangannya, karena sekiranya hanya satu arah, maka itu adalah suatu bentuk ketidakadilan gender yang nyata).

Sumber: Buku: A.Zulkarnain, Winda, Mozaik Cinta: Dari Revolusi Rumah Tangga Menuju Revolusi Sosial, 2013.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *