Perayaan HUT RI Yang Palsu

Jumlah utang Indonesia hingga akhir Juni 2013 mencapai Rp 2.036 triliun (detik.com, 2/7/13), ditambah impor yang lepas kendali yang menyebabkan ribuan Usaha Kecil Menengah (UKM) bangkrut, Undang-Undang pro asing yang menggadaikan negeri sendiri, pejabat korup yang melimpah terlihat dari kepala daerah yang tersangkut korupsi sebanyak 231 orang dari 495 kepala daerah (Kompas, 24/7/2013), kemudian diskrimansi SARA, dan kejahatan dimana-mana, sesungguhnya bukan tanda negara merdeka.

Pertanyaannya kemudian, cukupkah memberi pemuliaan atas keringat dan darah para pejuang dan pendiri negeri hanya dengan lomba makan kerupuk, lomba menyanyi, lomba mengganti display picture (DP) pada BB, Profil Picture (PP) pada FB dengan gambar seolah nasionalis,serta lomba masakan nusantara?

sumber gambar: beritabali.com

sumber gambar: beritabali.com

Siapakah rezim yang telah berani secara licik mendistorsi momentum tahunan tentang pemberontakan terhadap ketidakadilan menjadi hanya sekedar seremoni yang cengeng dan hedonistik?

17 Agustus adalah hari renungan rakyat tertindas yang telah dijajah ratusan tahun oleh negara biadab. Bukankah perilaku biadab hanya bisa dilakukan oleh orang atau negara yang biadab pula. Karena menghina apalagi membunuh orang lain demi kepentingan kekuasaan dan keserakahan adalah sikap hina yang tinggi di mata manusia berakal, apalagi di mata Tuhan.

17 Agustus adalah hari refleksi tentang pedihnya ditipu, sakitnya dihina oleh para penindas Spanyol, Portugis, Belanda, Jepang serta Amerika, dan Inggris. Momentum proklamasi untuk mengecek kembali apakah kita masih dihina oleh negara-negara tersebut serta negara penindas lainnya ataukah kita sudah saling memuliakan.

Hari kemerdekaan adalah hari akbar yang agung untuk melihat ulang apakah negara-negara imperialis itu telah tobat atas berbagai kejahatannya atau apakah negara-negara imperialis itu semakin menyempurnakan imperialismenya sesuai perkembangan besar dalam ilmu pengetahuan dan teknologi.

Kalau dulu mereka menjajah langsung secara fisik, maka saat ini mereka menjajah secara budaya. Menjajah melalui pemikiran dan menjajah melalui ekonomi. Dulu, seluruh rakyat bersatu-padu melawan keserakahan VOC. Nah, apakah VOC berbeda dengan Freeport, Inco, Newmont, dll, yang eksis saat ini. Ataukah korporasi tersebut adalah hasil metamorfosa VOC yang dikenal sebagai perampok kekayaan alam yang berwatak bengis itu.

sumber gambar: http://linka08.deviantart.com

sumber gambar: http://linka08.deviantart.com

17 Agustus adalah hari untuk mengevaluasi seberapa jauh konstitusi sebagai kontrak sosial rakyat dengan penguasa dilaksanakan. Apakah implementasi konstitusi semakin menyempurna ataukah perilaku penguasa semakin jauh mengkhianati konstitusi. Sekiranya penguasa konsisten menjalankan amanat kontrak, maka bahasa pujian dan syukurlah yang layak dikeluarkan, tapi sekiranya penguasa menginjak-injak perintah konstitusi, maka bahasa peringatan dan perlawanan adalah bahasa yang paling indah dan tepat untuk dikumandangkan di hari Proklamasi Kemerdekaan.

Salam kemuliaan atas darah dan keringatmu wahai Cut Nyak Dhien, Imam Bonjol, Cokroaminoto, Bung Tomo, Tan Malaka, Hatta, Soekarno dan para pemberontak agung lainnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *