Penjual Minuman Susu Fermentasi vs Pejabat Rekening Gendut

Beberapa jam yang lalu penulis tercengang melihat sikap penjual minuman susu fermentasi kemasan yang menolak diberi tip. Harga minuman satu bungkus Rp 7.500, tapi karena gak ada uang pas, maka istri memberi uang Rp 10.000 dan meminta agar tidak usah dikembalikan sisanya. Yang menarik, si mbak penjualnya menolak diberi tip. “Gak usah mbak, saya sudah untung kok. Ada kok kembaliannya”.

Persoalan rekening gendut menjadi tanda sakitnya para pelayan negeri ini. Temuan PPATK  tentang transaksi yang mencurigakan di sejumlah kementerian dan lembaga negara hingga Januari 2012. Rinciannya adalah Pegawai Negeri Sipil (707 Hasil Analisa), Anggota Polri (89 HA), Jaksa (12 HA), Hakim (17 HA), KPK (1 HA), dan Legislatif 65 (HA). (sumber). Terkait masalah rekening gendut, Kejaksaan Agung juga lagi mengusut transaksi mencurigakan berdasarkan Laporan Hasil Analisis (LHA) Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK). Laporan itu tentang rekening delapan kepala daerah dan mantan kepala daerah, yaitu seorang gubernur aktif, dua mantan gubernur, serta lima bupati dan mantan bupati. (Lihat).

Disaat negeri ini masih ramai berita tentang rekening gendut pejabat, serta banyaknya pejabat yang  diciduk oleh lembaga pembantai koruptor (KPK), ternyata masih ada yang mampu menunjukkan originalitas masyarakat Indonesia. Si penjual minuman susu fermentasi kemasan. Ya, Itulah karakter asli Indonesia. Dia mengambil yang merupakan haknya. Dia menginginkan yang secukupnya.

Foto: dearachmaaa.blogspot.com

Foto: dearachmaaa.blogspot.com

Sejatinya, karakter seperti itulah yang membuat penjajah raksasa yang menguasai Indonesia selama 350 an tahun dapat diusir kembali ke kampungnya. Karakter yang anti sogok, anti dihina demi materi. Mereka meyakini bahwa kemuliaan hidup bukan pada materi, tapi pada bagaimana kita menjalani hidup. Apakah kita hidup dengan menipu, mengemis atau hidup elegan dengan senantiasa membaca secara jernih yang mana hak dan mana kewajiban?

Sikap tak mau tergoda dengan materi juga pernah dicontohkan oleh pendiri negeri ini, Bung Karno, Bung Hatta, dkk, ketika ia menolak tawaran penjajah Belanda agar mau menjadi agen dalam memuluskan proses penjajahannya. Aktivis tersebut menolak kemuliaan materi, dan memilih kemuliaan idealisme. Bahwa cerita materi akan habis setelah dikonsumsi atau setelah pemiliknya tiada, tapi kisah idealisme senantiasa melegenda. Kisah idealisme menembus waktu, dia bertahan puluhan tahun, ratusan tahun, jutaan tahun, bahkan tak pernah mati selama akal manusia selanjutnya masih berfungsi.

Foto: www.tempo.co

Foto: www.tempo.co

Mencari, bahkan mengejar materi di dunia tentu tak haram. Hanya bagaimana cara memperolehnya. Jadi ketika ada seseorang yang membanggakan ke-apa-an yang diperolenya, maka bertanyalah secara kritis tentang ke-bagaimana-an memperolehnya. Nabi Sulaiman merupakan manusia terkaya yang pernah ada di bumi ini, tapi semua kekayaannya diperoleh dengan cara yang halal, dan dipergunakan sebesar-besarnya untuk perbaikan nasib kaum tertindas dan agenda mendakwahkan Tuhan. Selanjutnya, Nabi Sulaiman tak pernah sombong dengan banyaknya harta yang dimiliki, tentu ini berbeda dengan beberapa orang kaya dan orang kelas menengah baru yang ada saat ini.

Kisah penjual minuman susu fermentasi kemasan pagi ini menjadi lonceng bahwa optimisme tentang Indonesia yang lebih baik harus terus ditumbuhkan, dengan banyak cara, selain memprotes kezaliman, membangun rumah baca, menciptakan sekolah murah, membangun basis rakyat. Salah satu cara sederhana lainnya adalah yang dicontohkan oleh mbak penjual minuman susu fermentasi kemasan, yakni menolak sesuatu (uang) yang dianggap bukan haknya.

Jakarta, 17 Januari 2015

Tolak republik binatang

Wujudkan republik manusia

Salam

www.republikmanusia.com

Pin BB 760BDE66

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *