Pengusaha Ingin Masuk Dunia Politik

Tadi malam saya diundang makan malam di salah satu restoran di Jakarta dengan seorang pengusaha beserta tim yang lagi mempersiapkan diri untuk maju di pilkada 2021. Ia mempresentasikan visi politiknya serta tahapan-tahapannya sampai pilkada dua tahun ke depan. Rencananya pasca pemilu ia ingin mendeklarasikan timnya di Jakarta dengan mengundang beberapa tokoh lokal di daerahnya. Alasannya, ia membangun brand sebagai diaspora yang sukses.

Setelah semua tim bicara, barulah saya masuk dengan pendekatan politik ala Jokowi. Kebetulan, saya dipanggil mereka karena mendapatkan info bahwa saya menghabiskan waktu dua tahun, bolak bali Solo-Jakarta untuk mencermati dan mengilmiahkan fenomena politik Jokowi. Langkah-langkah politik Jokowi dari penjual kursi, meja dan sejenisnya kemudian menjadi walikota, gubernur, dan presiden adalah sesuatu yang logic, bukan kebetulan. Semua terukur. Dari pemilihan ring satu, dua, tiga dan seterusnya.

Skenario pengusaha tersebut adalah cara berpolitik elitis yang cocok di zaman orde baru. Di saat medsos telah ada. Sistem One man, one vote, one value sebagai dasar pemilihan pemimpin telah diberlakukan, maka cara baru pun harus dilakukan. Jokowi sukses banyak pada hal tersebut.

Di suatu waktu, ada kawan bertanya, apa manfaat yang saya dapatkan dari menulis tesis Jokowi. Waktu itu, saya bilang kepuasan intelektual. Menurutnya, harusnya lebih dari itu.

Tapi belakangan ini, saya mulai merasakan hal tersebut ketika mulai dipanggil beberapa calon politisi. Memberi mereka masukan politik ala Jokowi. Tentu semua itu dikombinasikan dengan refleksi politik bekerja di Senayan, mengajar di prodi politik serta pengalaman lapangan di beberapa pilkada.

Foto: www jagad.id

Kekeliruan Memaknai Jokowi

Ada calon kepala daerah yang ingin sukses di dunia politik seperti Jokowi, tapi langsung lompat ke baju kotak-kotak. Hasilnya bisa dipastikan, kalah. Karena ada tahapan panjang untuk sampai ke pilihan simbol kotak-kotak. Ada narasi, ada cerita yang dibangun berbulan-bulan, bertahun-tahun untuk sampai di sana.

Jika ada orang kaya yang kalah dalam momen politik. Uangnya habis untuk iklan, baliho, bantuan-bantuan, bagi-bagi beras, sarung, mukenah, dst, tapi bukan hanya kalah pilkada, bahkan tidak jadi maju karena tidak ada partai yang mau mengusungnya, maka perlu dicek siapa mentor atau konsultan politiknya. Jangan sampai ia tidak sedang menyewa konsultan politik, tapi ia sedang mengontrak konsultan keuangan, dalam arti yang dipikir hanya uang klien, kapan dihabiskan. Sementara politik sebagai seni dan kerja ilmiah, lupa untuk dilakoni.

Foto: geotimes.co.id

Yang menarik, karena sekitar tiga jam kami berdiskusi tentang Politik Jokowi, namun tidak pernah membahas Jokowi sebagai capres 2019. 180 menit habis untuk mendiskusikan tahap-tahap politik Jokowi sehingga bisa berkantor di Balaikota Surakarta, kemudian sekarang ada di Istana Merdeka dalam waktu hanya 9 tahun berpolitik. Ini fenomena politik dunia. Obama saja menghabiskan waktu lebih panjang untuk menjadi AS 01. Pak Wiranto membuat Hanura, Pak Prabowo mendirikan Gerindra, Pak Surya Paloh membangun Nasdem, namun belum juga menjadi RI 1. Jokowi tidak melakukan itu, namun bisa lompat ke RI 1.

Ketika mereka bertanya tentang sikap terbaik untuk pilpres 2019. Saya bilang, bapak fokus aja untuk pilkada 2021. Hindari musuh yang tak perlu. Muliakan semua pihak dan pendukung capres 01 dan 02. Ini pertarungan nasional. Ini konflik mereka. Kita fokus agenda dua tahun ke depan. Politik adalah seni mengelola musuh. Berapa jumlah musuh dan momentum apa kita bermusuhan. Selanjutnya kapan harus berdamai.

Selanjutnya, apa lagi. Saya bilang nanti di pertemuan selanjutnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *