Pemberontakan Pemuda dalam Film The Maze Runner

Film ini dibuka dengan adegan dalam lift menuju ke suatu labirin. Setiap yang masuk labirin, butuh waktu satu hingga dua hari untuk dapat mengingat namanya. Hanya sampai nama karena ingatan yang lain hilang. Para penghuni labirin mendapatkan suplai makanan tiap bulan, bersamaan dengan datangnya satu penghuni baru. Para penghuni labirin bercocok tanam serta beternak agar dapat menyambung hidup.

Orang-orang yang ada dalam labirin terdiri dari para pemuda dengan berbagai perawakan. Ada dari Afrika, Asia, Eropa maupun Amerika. Seiring dengan proses mereka hidup dalam labirin,dibuatlah beberapa aturan yang mengikat semua warga, diantaranya; 1) wajib mengerjakan tugas, 2) Jangan menyakiti penghuni lain, 3) Jangan pergi ke balik tembok, kecuali yang diberi tugas sebagai pelari untuk mencari jalan keluar.

Film ini unik karena bersih dari aroma seks yang biasanya dihadirkan sebagai penyedap rasa pada film Hollywood. Dari awal hingga akhir, kita disajikan suatu ketegangan. Pertanyaan awal belum terjawab, telah muncul pertanyaan baru, sehingga penonton lupa akan sengatan waktu. Tak terasa gerak waktu selama dua jam berjalan.

Film tersebut menggambarkan tipologi manusia, terkhusus lagi pemuda. Ada yang konservatif adapula yang reformis bahkan revolusioner. Pihak konservatif tak ingin ada perubahan dan hanya menerima apa yang ada, meskipun itu berupa kungkungan bahkan penindasan. Sedangkan pihak reformis atau revolusioner selalu ingin memberontak atas kemapanan. Mereka selalu ingin ada hal baru yang lebih baik, yang jauh lebih maju. Baginya terbunuh jauh lebih mulia daripada diam dalam keadaan terpenjara dan tertindas. Tipologi konservatif dalam film itu diwakili oleh Gally sedangkan revolusioner oleh Thomas.

Awal Thomas berada di labirin mendapatkan dua perlakuan. Ada yang menganggapnya sebagai orang yang cerdas dan menjadi pemabawa harapan karena selalu ingin tahu apa sebenarnya yang sedang terjadi dan bagaimana berusaha keluar dari labirin. Ada pula yang menganggapnya sebagai bencana karena Thomas ingin merubah suasana yang sudah stabil dalam labirin. Bagi kaum konservatif, walau mereka terkungkung, mereka menganggap itu adalah hal yang patut untuk dijalani, daripada mengambil resiko terluka bahkan terbunuh karena ingin keluar dari labirin. Apalagi pasca Alby yang merupakan pimpinan mereka tersengat racun karena keluar dari batas aman labirin untuk mencari jalan menuju kebebasan. Atas kejadian tersebut, Thomas tak menyerah, bahkan ngotot dengan pendapatnya, “ini waktunya kita tahu siapa lawan kita”.

Foto: www.moviefone.com

Foto: www.moviefone.com

Film The Maze Runner juga mengkritik sistem senioritas. Dimana tafsir kebenaran tergantung pada siapa yang lebih tua. Gagasan Thomas terkait solusi keluar labirin mendapat kritik oleh beberapa penghuni lama dengan alasan mereka lebih paham kondisi labirin karena lebih dulu datang dan merasakan kondisi di dalam labirin.  Mereka lupa bahwa kualitas kebenaran tak ada hubungan dengan usia sang penafsir.

Kisah Thomas mempertegas bahwa manusia sejatinya selalu menginginkan kemerdekaan. Segala cara akan dilakukan untuk mendapatkan hal tersebut, termasuk pemberontakan, meskipun resikonya harus terbunuh.  Film tersebut mengajak para pemuda untuk berefleksi bahwa tak ada alasan untuk takut mendorong perubahan sosial. Mendiamkan keadaan yang bobrok, korup, menindas adalah malapetaka kemanusiaan yang tak bisa dibiarkan.

                                                                            ***

Di akhir film digambarkan bahwa semua proses di labirin didesain dengan super canggih. Hampir tiap sudut ada kamera untuk mengontrol para penghuni. Juga disiapkan monster pembunuh kalau keluar dari zona aman labirin. Labirin dibuat sebagai bagian dari agenda riset untuk menemukan kualitas manusia terbaik yang bisa menjawab berbagai tantangan. Labirin sebagai ruang kaderisasi beberapa pemuda. Kesimpulan dari para periset, agenda tersebut sukses karena berhasil melahirkan Thomas sebagai generasi baru yang memiliki kualitas unggul yang dibutuhkan untuk menjawab berbagai persoalan aktual dan di masa depan.

Kualitas Thomas terbukti dengan keberhasilan memimpin teman-temannya untuk keluar dari labirin. Thomas harus terluka dan hampir terbunuh berkali-kali. Atas ketajaman analisis, kesabaran dan leadership-nya lah sehingga mampu keluar dari labirin.

Meskipun terjadi pro-kontra di masyarakat, riset dan pengkaderan elit tersebut dibuat karena dunia semakin bermasalah. Banyak terjadi perang, bencana kelaparan, matahari sangat panas, serta ada virus baru yang sangat mematikan. Semua kerusakan dan penyakit itu terjadi karena watak manusia yang semakin rusak, seperti dengki, sombong, emosional, tak rasional, sebagaimana watak tokoh Gally. Solusinya dibutuhkan manusia baru yang lebih jujur, objektif, adil, bisa kerja tim, memiliki kepekaan sosial yang tinggi, serta kemampuan leadership.

Karya ini juga mengajak kita untuk jangan menyia-nyiakan akal. Bahwa kondisi sesulit apapun, bahkan dalam labirin kejam, kita tetap bisa menemukan jalan keluar dengan memaksimal fungsi akal.

Labirin dibuat untuk melatih tim elit. Labirin diciptakan untuk membentuk generasi tertentu yang bisa menjadi nabi-nabi kecil di zamannya. Untuk mencapai target tersebut maka derita buatan diciptakan. Beberapa anak muda dibuang ke dalam labirin tanpa lampu, tanpa rumah, tanpa teknologi dan tanpa bantuan dari dunia luar. Mereka dimasukkan dalam labirin dengan ingatan mulai dari nol.  Semua derita itu untuk membentuk kualitas manusia paripurna (Insan Kamil).

Dari kisah derita dalam labirin, kita bisa menarik benang merah bahwa memang manusia besar yang menjadi sang pembebas selalu melalui proses derita. Semua nabi pun mengalami hal tersebut. Ada yang dibesarkan dengan status anak yatim, keluarga miskin dan tak terpandang. Semua derita tersebut membuat mereka tak memiliki kesempatan dan alasan untuk sombong kepada siapapun. Justru derita tersebut menggoda akal mereka untuk berubah menjadi lebih baik.

Foto: www.giantfreakinrobot.com

Foto: www.giantfreakinrobot.com

Peran aktor

Film tersebut juga mempertegas konsep tentang pentingnya peran aktor dalam perubahan sosial. Setelah puluhan orang yang dibuang ke dalam labirin, mereka tak mampu keluar meskipun sudah bertahun-tahun mencoba, bahkan sudah banyak yang menjadi korban. Dengan kedatangan Thomas, barulah mereka berhasil lolos dari labirin.  Pada diri Thomas melekat banyak kualitas dibanding  yang lain, diantaranya, leadership, ketajaman analisis, objektifitas serta kesabaran dalam berjuang.

Pada konteks aktor, kita bisa melihat bahwa sejarah peradaban manusia adalah sejarah manusia besar. Ketika kita bicara Indonesia, maka kita sedang berbicara tentang aktor yang bernama Soekarno, bicara India kita sedang membahas tentang kualitas seorang Mahatma Gandhi, menatap Afrika Selatan kita sedang merefleksikan kisah Nelson Mandela. Begitu halnya ketika kita menelaah tentang Kristen maka kita akan membahas tentang Isa, mempelajari Yahudi kita akan masuk dalam kajian sosok Musa, begitupun mendalami Islam kita akan terkondisikan menelaah kualitas aktor yang bernama Muhammad.

                                                                          ***

Film The Maze Runner juga mengajak kita masuk dalam kajian filsafat habil qabil. Bahwa dalam hidup selalu ada pertarungan dua tipologi manusia. Habil yang menjadi simbol kebaikan, kebenaran dan kemanusiaan, sebagaimana yang yang diperankan Thomas, sedangkan Qabil merupakan simbol keangkuhan, keserakahan, dan egoisme yang diperankan oleh Gally.

Pilihan dalam hidup sesederhana itu, menjadi pengikut Habil atau Qabil. Semua pilihan akan memiliki konsekuensi baik di dunia maupun di akhirat kelak. Jadi apakah ingin menjadi politisi Habilian atau Qabilian? Apakah ingin berperan sebagai pengusaha Habilian atau Qabilian?  Apakah menjadi guru Habilian atau Qabilian? Apakah memilih menjadi  birokrat Habilian atau Qabilian? Yang merepotkan, banyak yang tampilan luarnya Habilian tapi isinya Qabilian. 

Film tersebut juga menusuk siapapun mereka yang menjalani hidup dengan rutinitas sederhana sebagaimana binatang lakukan. Hanya makan, minum, istirahat, tanpa melakukan terobosan yang nyata yang bermanfaat besar bagi masa depan dan peradaban. Film tersebut sukses menghardik manusia yang terjebak dalam kemapanan dan anti terhadap perubahan. Menggugat mereka yang tak mau mengambil risiko atas nasib yang lebih baik, yang berpandangan bahwa nasib kita sudah begini. Biarlah semuanya terjadi apa adanya, tak perlu banyak protes. Pandangan hidup seperti itulah yang dikutuk Thomas.

                                                                            ***

Diantara banyak pujian atasnya, salah satu patahan dalam film tersebut adalah ketidakjelasan motif Thomas dan Teresa dikirim ke dalam labirin. Apakah diminta paksa oleh tim periset atau pilihan pribadi. Ending film tersebut juga terlalu cepat sehingga ada perbedaan ritme yang mencolok diawal, pertengahan dan diakhir film. Cerita film seperti dipaksa berakhir.

Bagi yang telah menonton film tersebut, jangan bersedih karena akan ada kisah selanjutnya, sebagaimana novelnya yang merupakan karya James Dashner yang terdiri dari beberapa seri.  Mencermati secara substantif film The Maze Runner, kita diajak untuk kembali ke pasal 1 UU kehidupan bahwa manusia terbaik adalah yang konsisten di jalan kebenaran, keadilan dan kemanusiaan.

                                                                                                                         Jakarta, 8 Oktober 2014

Salam.

A.Zulkarnain

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *