Derita Cinta dalam Film Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk

Film Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk diangkat dari novel berjudul sama yang terbit pertama kali sebagai cerita bersambung di majalah Pedoman Masyarakat  tahun 1938. Dalam bentuk buku, novel ini terbit tahun 1939. Novel ini adalah salah satu karya terbaik Haji Abdul Malik Karim Amrullah (Hamka). Film yang dibintangi Herjunot Ali, Reza Rahadian, dan Pevita Pearce ini juga merupakan film dengan masa tayang terpanjang dalam sejarah film Indonesia. (sumber)

Dalam film tersebut diperlihatkan bahwa watak materialistik bukan hanya lintas gender, lintas usia, tapi bahkan lintas zaman. Film dengan latar Minangkabau tahun 1930-an tersebut mempelihatkan bagaimana Zainuddin sempat menerima bahasa penolakan ketika mendatangi keluarganya di Batipuh untuk meminta izin menetap dirumahnya agar bisa belajar agama di daerah tersebut. Tetapi ketika Zainuddin memasukkan tangannya kedalam kantong bajunya dan mengeluarkan beberapa uang kemudian menyimpanya diatas meja. Maka ibu tersebut langsung mengubah bahasanya dan tampak bahagia atas kedatangan Zainuddin di rumahnya.

Yang menarik karena ibu tersebut mengaku sebagai muslimah dan meyakini Tauhid (keesaan Tuhan) tapi disisi lain meyakini materi sebagai segalanya. Materi sebagai ukuran kemanusiaan, persahabatan dan penghormatan. Pertanyaan sementaranya, Islam apakah yang sedang diyakini ibu tersebut ?

foto: beta.tabloidbintang.com

foto: beta.tabloidbintang.com

Dalam film itu diperlihatkan perjuangan Zainuddin berangkat dari tanah Makassar ke tanah Minangkabau dengan niat suci balajar agama. Disana kemudian Zainuddin bertemu dengan perempuan yang menyerupai penghuni surga bernama Hayati. Dialah yang kemudian menjadi cinta sejatinya. Mereka berjanji akan menikah kalau tidak di dunia, di akhirat. Hal tersebut menggambarkan bahwa ketulusan mencari Tuhan tidak akan berakhir dengan kesia-siaan. Tuhan selalu memberi cahaya kepada mereka yang ingin mencari petunjuk. Termasuk mempertemukannya dengan teman yang akan terbang bersama menuju Tuhan sang hakekat cinta.

Kita juga mengambil makna dari karya tersebut bahwa cinta selalu berbicara tentang pengorbanan. Salah satu hal yang membuat Zainuddin dan Hayati semakin merasa dekat adalah ketika saat hujan, pulang dari pengajian mereka berteduh disuatu warung, kemudian Zainuddin berinisiatif meminjamkan payungnya kepada Hayati, dengan berkata “pakailah payungku, segeralah pulang sudah malam, nanti orang tuamu menunggu”. Kemudian Hayati bertanya bagaimana dengan angkuh (zainuddin)?  Di jawabnya dengan tegas “Saya laki-laki Enci Hayati, pulanglah dulu”.

Kita juga bisa belajar dari film tersebut bahwa banyak cara Tuhan untuk menjaga kesucian hati seseorang. Seperti yang dibahasakan oleh Zainuddin kepada Hayati bahwa “aku ini yatim piatu sejak kecil,  aku dicuci dengan air mata derita, makanya hatiku suci”. Pada konteks tertentu derita membuat seseorang menjauh dari dosa sehingga terjaga hatinya. Para nabi-nabi juga dijaga kesucian hatinya  oleh Tuhan dengan cara mendekatkannya pada derita. Makanya semua nabi diangkat menjadi nabi karena berhasil melakukan pemenuhan syarat sebab kenabian dengan ikhtiarnya yang keras melewati berbagai derita.

Film itu juga mempertegas konsep Tuhan tentang jodoh bahwa cinta adalah pertemuan dua kualitas jiwa yang sama (QS. An Nur: 26). Ketika Hayati berkata, “jiwamu selalu dekat dengan jiwaku. Cinta tak melemahkan hati, tapi menguatkan pengharapan. Semoga Tuhan memberi perlidungan”.  Selanjutnya Hayati berkata “Biar Tuhan mendengar, bahwa kau Zainuddin. Kalau bukan suamiku di dunia, maka kau suamiku di akhirat “ Ungkapan sepasang kekasih tersebut mempertegas bahwa ada perbedaan tafsir cinta antara barat, sebagaimana yang didakwahkan oleh Holllywood dengan cinta dalam makna dunia timur, terutama bumi nusantara, yakni cinta yang selalu melibatkan Tuhan. Karena cinta sejati akan menggerakkan pelakunya kepada puncak Cinta (Tuhan).

foto: vivatechnics.com

foto: vivatechnics.com

Beberapa waktu kemudian di film tersebut digambarkan keluarga besar Hayati yang lebih memilih Azis untuk menjadi suami Hayati yang merupakan pegawai penjajah Belanda, penjudi, dan pengganggu rumah tangga orang lain. Hal tersebut mempertegas bahwa harta Azis lebih mulia daripada ketaqwaan Zainuddin.

Pada film itu kita juga bisa menangkap suatu nilai tentang bagaimana melawan galau dengan mengaji. Ketika Zainuddin tersakiti oleh keputusan Hayati dan keluarganya karenaa menerima lamaran Azis dan menolak lamaran Zainuddin, maka Zainuddin mengobati sakitnya dengan mengadu kepada puncak dan pemilik Cinta.

Film teggelamnya Van Der Wijck juga mengajarkan bahwa kejatuhan harus diselesaikan dengan kebangkitan. Zainuddin setelah beberapa waktu terjebak sedih, akhirnya mampu bangkit dan meninggalkan tanah Minangkabau menuju Batavia untuk mengejar mimpi-mimpinya. Dia membuat karya dengan menulis sehingga bisa dihargai sebagai manusia, termasuk oleh Hayatinya yang sempat hilang ditelan kejamnya materialisme.

Setelah sukses menjadi penulis disalah satu koran di Batavia, kemudian tulisan-tulisannya di bukukan dengan judul Teroesir yang meledak dipasaran. Suatu waktu datanglah seorang pengusaha menawari Zainuddin untuk mengurus surat kabarnya yang ada di Surabaya. Dia melihat Zainuddin sebagai anak muda yang pintar, jujur dan bisa dipercaya. Dia yakin tulisan Zainuddin akan memberi nyawa bagi korannya, makanya dia menawarkan bagi hasil keuntungan 50:50. Setelah beberapa waktu berjalan akhirnya Zainuddin berhasil membesarkan surat kabar di Surabaya dan menjadi salah satu orang terkaya di kota tersebut.

Kita juga belajar dari film tersebut bahwa pecinta sejati tak akan kehilangan akal sehat dan jiwa Ilahiahnya. Lihatlah bagaimana setelah Zainuddin menjadi pengarang ternama dan termasyur di kota Surabaya, kemudian Azis datang meminta bantuan karena bangkrut setelah di pecat dari pekerjaannya. Zainuddin tetap memuliakan mereka berdua. Padahal dulu ketika ditanah Minangkabau, Zainuddin sempat stress dan sakit parah karena Hayatinya menikah, kemudian dokter memohon agar Hayati berkenan datang mengunjungi Zainuddin agar bisa sembuh. Ketika Hayati dan Azis datang melihat kondisi Zainuddin di rumahnya, Azis sempat berkata kepada Hayati “buat apa menolong orang seperti dia (Zainuddin)”.

Zainuddin dengan jiwa yang teguh membayarkan utang suami Hayati (Azis) dan meminta mereka untuk tinggal bersama dirumah besarnya. Itulah salah satu ciri pecinta yang Tuhan ada dalam jiwanya, yakni mampu memuliakan orang yang pernah menghinanya, bahkan mengambil kekasihnya, yang pernah berjanji akan menikah kalau bukan di dunia, di akhirat.

foto: www.hidayatullah.com

foto: www.hidayatullah.com

Pecinta yang Ruh Tuhan masih hidup dalam dirinya tak mengenal konsep “cinta ditolak dukun bertindak”. Cinta yang agung akan menjauhkan pelakunya pada kedengkian dan watak pendendam. Cinta berbeda dengan seks. Hal tersebut sangat berbeda dengan tafsir Barat dalam Hollywoodnya. Ketika Azis berencana pergi mencari pekerjaan di tempat lain di luar Surabaya, dia meminta tolong lagi agar Zainuddin bersedia mengizinkan Hayati tinggal di rumahnya untuk beberapa waktu. Nanti Azis akan datang menjemput Hayati setelah mendapatkan pekerjaan yang baru.

Lihatlah bagaimana Zainuddin memuliakan perempuan, memuliakan istri sahabatnya (Azis). Zainuddin tidak memanfaatkan kondisi kepergian Azis untuk menggoda Hayati yang dulu berjanji akan menikah dengannya. Kaidah akal dan kaidah agama masih mampu mengntrol sikap Zainuddin.

Wahai tuan-tuan pemuda belajarlah pada Zainmuddin yang tidak mengubah idealismenya, tidak menjadi penjilat, tidak mencuri untuk bisa mendapatkan kekasihnya. Zainuddin konsisten jalani hidup sesuai dengan yang pernah dicontohkan oleh nabinya. Dia berjuang dengan jujur, terus berkarya untuk mencapai kesuksesan.

Atas berbagai kebaikan dan pemuliaan Zainuddin kepada Azis dan Hayati, akhirnya Azis sadar, merasa bersalah dan kemudian mengirim surat kepada Zaiunddin, yang isinya  “Saya rebut Hayati darimu. Saya pengaruhi keluarganya dengan uang dan turunan. Melalui surat ini saya kembalikan Hayati kepadamu. Inilah balas budi dari saya yang hina. Kau lebih berhak kepadanya. Hayati akan bahagia menikah dengan yang berjiwa dengannya”.

Azis juga mengirim surat kepada Hayati yang berisi” Hayati kau ku maki, ku cela. Saya insaf.
Akan ku tebus. Kembalikan senyumanmu yang manis. Kulepas kau dengan sah menurut agama”. Setelah itu Azis bunuh diri.

Kaum perempuan yang mulia juga perlu merenungi apa makna dari perkataan Zainuddin bahwa “
Perempuan hanya ingat kekejaman orang padahal kecil. Tapi lupa kejamannya kepada orang meskipun besar”.  Meskipun perlu juga analisa kritis, apakah pernyataan tersebut hanya untuk perrempuan atau juga untuk laki-laki.

foto: mutuku.blogdetik.com

foto: mutuku.blogdetik.com

Setelah kematian Azis, Zainuddin masih sulit menerima Hayati sebagaimana kisah mereka dulu di tanah Minangkabau. Zainuddin terlanjur menganggap Hayati sebagai istri sahabatnya. Zainuddin meminta Hayati untuk pulang kampung ke tanah Minangkabau. Zainuddin berkata, pulanglah, nanti ada kapal VAN DER WIJCK, saya yang akan membayar ongkos perjalananmu. Nanti kalau di kampung engkau belum mendapatkan suami, maka nanti saya yang akan membiayai hidupmu.

Beberapa waktu kemudian, Zainuddin merasakan pemberontakan jiwanya, bahwa dia tak bisa lagi berpura-pura, dia tak sanggup bertahan hidup tanpa Hayati. Makanya dia mengejar Hayati untuk memintanya jangan pulang dan tetap di Surabaya agar bisa menikah dan menjalani hidup yang diimpikannya.

Tapi ternyata dalam perjalanan, kapal VAN DER WIJCK tenggelam. Beberapa penumpang hilang dan ada yang berhasil selamat. Zainuddin berhasil menemukan Hayati di rumah sakit dalam keadaan sekarat. Merekapun saling melepas rindu dan melempar semua dosa.

Hayati sulit terselamatkan karena dua paru-parunya penuh air. Zainuddin sempat berkata kepada Hayati kalau engkau butuh darah, pakailah darahku. Hayati berucap” Zainuddin kekasihku. Aku butuh dekat dengan kau” . Zainuddin menjawab “ kau akan sembuh. Kita akan menikah. Kebahagiaan cinta ada di depan kita. Kemudian Hayati membalasnya “sabar kekasihku. Kematian sudah terlihat di muka ku. Jika aku mati, hatiku bahagia karena aku tahu kau masih mencintaiku”.

Hayati kemudian meminta Zainuddin untuk membacakan dua kalimat suci (syahadat) ditelinganya. Setelah dibacakan sebanyak tiga kali, akhirnya Hayati terbang menuju kehidupan yang lebih tinggi, menuju puncak Cinta (Allah SWT).
***
Setelah kematian Hayati, Zainuddin selalu datang ke kuburan Hayati membacakan ayat suci Al Quran. Itulah alasan kuburan Hayati sengaja dibuat dipekarangan rumahnya sehingga selalu mudah untuk dia datang menyapanya.

Zainuddin berusaha menyempurnakan pemuliaannya kepada Hayati dengan membuat Rumah Yatim Piatu Hayati. Hal tersebut mengajarkan bahwa cinta yang suci harus selalu mampu memberi manfaat kepada yang lain. Tak terjebak dalam keangkuhan dan keegoisan pelakunya.

foto: hot.detik.com

foto: hot.detik.com

Sebagai catatan atas film tersebut tentang suku apa dan orang apa yang paling mulia, bisa kita jawab dengan menggunakan konsep agung ““Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” [QS. Al Hujuraat (49):13]. Jadi manusia yang paling mulia serta menantu yang paling baik adalah yang paling memiliki keberpihakan pada kebenaran, keadilan dan kemanusiaan. Dia yang kesalehan individu dan kesalehan sosialnya tak terpisahkan. itulah yang diteladankan dengan indah oleh para nabi-nabi. 

Selanjutnya, salam hormat kepada para calon mertua idealis yang agama tak hanya di KTP, tapi dipakai dalam melihat segala sesuatu termasuk kaidah menentukan siapa ayah dari cucunya kelak. Salam hormat kepada orang tua yang menganggap anaknya sebagai manusia sejati, bukan robot apalagi budak. Salam suci kepada para orang tua yang ajaran para nabi tertanam dalam jiwanya, tak hanya menempel dibibirnya.

Pujian yang tinggi kepada orang tua yang tak menggunakan kalimat “sudah kenyang makan garam” untuk melumpuhkan argumentasi anaknya. Karena anak memiliki jiwa, akal dan zamannya. Anak punya hak menjalani hidup bersama orang yang dicintainya. Setiap anak telah melewati proses pendidikan yang panjang. Itulah makna Muhammad SAW berkata “didiklah anakmu 25 tahun sebelum ia lahir”.

Kalau masih ada orang tua yang belum percaya dengan keputusan anaknya untuk memilih siapa teman terbaiknya untuk dapat terbang menuju puncak cinta (Tuhan), maka bertanyalah kedalam diri, apa yang ada lakukan sejak 25 tahun yang lalu, uang darimana yang anda berikan kepada anak anda, sikap apa yang anda contohkan kepada anak anda, tafsir agama apa yang anda didikkan kedalam keluarga anda.

Wahai para orang tua dan calon mertua yang mulia, tidakkah anda pernah mendengar Muhammad SAW menitip pesan suci kepada seluruh penduduk bumi bahwa “sebaik-baik mahar adalah yang tidak memberatkan”. Jadi setelah selesai menilai kualitas visi, taqwa atau agama calon ayah dari cucumu kelak, maka selesaikanlah masalah mahar dengan asngat kontekstual. Dalam arti bahwa mahar bisa besar atau kecil tergantung kondisi ekonomi kekasih anakmu. Kata kuncinya tidak memberatkan. Janganlah cinta dan kebahagiaan anak dihancurkan karena persoalan mahar. Ketika kekasih anakmu memiliki visi yang baik, maka pasti dia akan berusaha mencari uang untuk menghidupi diri dan keluarganya, tapi kan semua butuh proses. Bukankah anda juga mengalami proses yang bertahap itu. setiap orang butuh uang untuk bisa bertahan hidup, itulah undang-undangnya dunia. Tak ada yang bisa lari darinya. Tapi kan kita harus kembali ke pasal satu bahwa para nabi telah mencontohkan bagaimana mencari uang yang baik dan halal, agar kelak kita tidak masuk kedalam KPK dunia, maupun KPK akhirat (neraka).

Yang terhormat, para orang tua dan calon mertua materialis dan kapitalis cabutlah tauhid dari lidahmu, lepas pakaian agamamu, kemudian sempurnakanlah watak materialistikmu agar anak dan tetanggamu tidak keliru dan bingung memahami agama karena melihat sikapmu yang kontradiktif. Selanjutnya, agar para nabi tidak bersedih dan menangis di alam sana karena anda telah mempermalukan ajarannya. Setelah anda melepas klaim agama, maka sembahlah materi sebagaimana anda  dulu menyembah Tuhan. Tentukanlah menantu anda sebagaimana keluarga Hayati, yakni siapa yang paling berduit, adapun ketaqwaan, itu tak penting. Tak usah memikirkan kebahagiaan sejati anak karena yang terpenting adalah bergelimang harta. Tapi anda perlu mengingat ajaran para nabi bahwa siapapun yang menciptakan neraka di dunia, maka harus siap merasakan derita neraka di akhirat.

***

Terkahir mari kita menununduk dan mengirim doa kepada semua pihak yang terlibat dalam film bermutu tersebut. Kepada kru, sutradara, produser, termasuk kepada sang pemilik karya, Ulama besar Buya Hamka. Semoga Tuhan selalu memberikan cintanya.

Jayalah film berkualitas

Tolak film sampah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *