Pare tempat Belajar dan Berjuang

Ilmu yang tidak bermanfaat, ibaratnya sampah dalam tengkorak kepala.

ATAS kesadaran bahwa Pare adalah tempat belajar sekaligus tempat untuk melatih diri berjuang, maka dengan bekerja sama beberapa owners, tutor dan penduduk lokal, ada beberapa model perjuangan yang telah teman-teman lakukan, diantaranya adalah:

  • Menyebar pamflet, stiker, dan poster yang bertemakan pendidikan, sosial, politik, kebangsaan, dan lain-lain.
  • Membuat baju umum dan baju kelas dengan kata-kata perjuangan atau kritik sosial.
  • Membuat sekolah rakyat, terutama untuk pendu-duk lokal Pare.
  • Penyebaran tema-tema speaking yang bernuansa perjuangan (struggle)
  • Menyebar sms dengan pesan perjuangan.
  • Menggunakan forum kelas untuk mewacanakan realitas kezaliman dan solusinya, misalnya forum presentasi/general speaking
  • Melakukan komunikasi dengan tutor, owners, siswa, dan masyarakat untuk menjadikan Pare sebagai tempat belajar dan berjuang. Dalam hal ini, bagai-mana Pare sebagai salah satu titik cahaya yang akan menerangi kegelapan yang melanda bangsa ini.
  • Menyebar film-film perjuangan atau film tentang kritik sosial.
  • Kampanye busana sopan. Pare sebagai kampung religius.
  • Membangun tradisi diskusi malam mingguan sebagai media bermalam minggu alternatif di Pare selain di Alun-alun dan Garuda Park yang dalam hal ini dilakukan oleh teman-teman Komunitas Rumah Anak Bangsa (RAB).
  • Kajian Sabtu Sore (Kiss) yang dibuat oleh teman-teman dari Pusat Info Pare (PIP).
  • Diskusi Malam Sabtu yang dibuat oleh beberapa pelajar dan owners yang juga sangat bergairah mem-bangun tradisi intelektual dan pergerakan di Pare.
  • Forum Kampung Bahasa (FKB) Pare yang meru-pakan perhimpunan beberapa owners dan tutor di Pare.
  • Diskusi rutin di setiap camp/dormitory tentang wa-cana umum, kebangsaan, kerakyatan, dan lain-lain.
  • Kerja bakti seluruh elemen Kampung Bahasa Pare karena salah satu masalah saat ini adalah kesadaran tentang sampah masih kurang.
  • Kampanye makanan sehat ke pemilik warung, bahwa penggunaan vetsin/penyedap rasa, sari manis/pemanis buatan, dan sejenisnya berbahaya bagi otak sehinggga bisa menggangu proses belajar di Pare dan jangka panjang bisa merusak kualitas anak muda Indonesia yang datang untuk mencicipi pengetahuan di Pare.
  • Terciptanya forum bersama yang melibatkan owners, tokoh masyarakat, pelajar, dan pihak desa untuk membangun visi bersama, termasuk membahas tentang standar harga kursus, kualitas pendidikan, harga sewa tanah dan sewa rumah sehingga Pare sebagai tempat pendidikan murah, berkarakter, ber-kualitas dan religius tetap terjaga bahkan semakin maju.
sumber gambar: www.antarajatim.com

sumber gambar: www.antarajatim.com

Kepada pelajar (yang terhormat) pasti tujuan utama kita ke Pare adalah memperdalam bahasa. Tapi, bisakah selain itu kita juga melakukan agenda perjuangan (agenda sosial). Ada ribuan kebaikan yang bisa kita lakukan, tinggal memilih, kawan. Hal di atas hanyalah contoh kecil. Pasti teman-teman lebih cerdas dalam membaca realitas, sehingga bisa lebih kreatif untuk berbuat suatu kebaikan atas nama agama, ilmu, nilai lokal atau apapun.

Mari mempertanggungjawabkan ilmu yang kita miliki, karena ilmu yang tidak bermanfaat ibaratnya sampah dalam tengkorak kepala.

Sumber: Buku: A.Zulkarnain, Pare dan Catatan Tak Usai: PERGOLAKAN MAHASISWA dan Spirit Kampung Bahasa Pare, 2012.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *