Pare Dan Masa Depan Indonesia

Orang yang sangat mulia adalah orang yang mempelopori suatu gerakan moral
yang berguna bagi generasinya dan juga generasi berikutnya,
selanjutnya adalah orang yang memberikan jasa besar bagi masyarakat pada umumnya,
dan selanjutnya adalah orang yang kata-katanya
memberikan pencerahan dan inspirasi bagi orang lain.
Ini adalah tiga pencapaian yang tak akan mati dalam kehidupan.
(The Tso Chuan)

KAMPUNG Bahasa Pare, Kediri Jawa Timur dimulai pada tahun 1977. Pejuang awalnya adalah Muhammad Kalend Osen yang lebih akrab disapa Pak Kalend oleh masyarakat dan Mr. Kalend oleh siswa yang lahir di Kalimantan Timur, pada tanggal 20 Februari 1945. Berkat perjuangannya, beliau pernah diganjar People Of The Year (POTY) 2009 sebagai tokoh pendidik teladan oleh Harian Seputar Indonesia.

Ada beberapa yang unik dari model pendidikan ala Pare, diantaranya adalah terdapat 114 tempat kursus dan 300 camp dan kos (Forum Kampung Bahasa, 2011), dan sistem pembelajaran yang berbeda (banyak pilihan) sesuai dengan karakter masing-masing siswa mulai dari yang ketat, wajib memakai sepatu, dasi dan pakaian hitam-putih. Ada juga yang bebas, bisa memakai sandal, sarung, bahkan dibolehkan makan sambil belajar. Di beberapa tempat kursus terdapat aturan internal bahwa tutor yang menyapa siswa. Jadi, terdapat model pengasuhan, ada pendekatan yang berbau emosional, pendekatan kekeluargaan, pende-katan persahabatan, sehingga kedekatan siswa dan tutor sangat baik. Itulah yang mendukung terciptanya suasana kelas yang enjoy sehingga proses belajar lebih hidup. Ya, belajar di Pare bikin hidup lebih hidup.

Keunikan yang lain adalah ada beberapa camp dan kos yang wajib menggunakan English selama 24 jam. Di beberapa tempat, orang bercakap dengan menggunakan English bahkan terkadang penjual nasi goreng pun mela-kukan transaksi dengan menggunakan English. Selain itu, model pembelajaran di beberapa tempat menggunakan pendekatan pembelajaran yang natural misalnya, belajar di bawah pohon.

Kendaraan yang dominan di Pare adalah sepeda sehingga automatically siswa akan senantiasa berolahraga. Hal tersebut bisa membuat siswa lebih segar dalam menerima pelajaran. Bahkan ada istilah, bahwa jika datang ke Pare, sebelum belajar English, terlebih dahulu harus belajar mengendarai sepeda.

Di Pare, banyak pilihan waktu belajar. Ada yang paket 2 minggu sampai paket 6 bulan. Ada juga yang menawarkan spesialisasi program, misalnya grammar, speaking, pronunciation, vocabulary, TOEFL, IELTS, writing, translate, dan lain-lain.

Harga buku, kamus, alat tulis, kursusan, sewa kos, dan harga makanan cukup murah (harga rakyat).

Pare adalah kampung yang tenang, jauh dari bising kota, dan juga bernuansa religius (daerah pesantren).

Hal lain adalah Pare bisa berkembang sampai terkenal secara nasional, bahkan internasional, tanpa melibatkan pemerintah terlalu jauh. Pare dibangun oleh kekuatan kultural (non formal) sehingga pihak kursusan bisa lebih kreatif untuk membuat aturan serta menciptakan metode pembelajaran. Kerumitan yang berbau adminis-tratif ala pemerintah, sulit ditemui di Pare.

Ya, Pare adalah model pendidikan alternatif atas gagalnya negara menciptakan pendidikan yang murah, humanis dan berkualitas.

Pare merupakan salah satu titik perubahan di Indonesia. Pare terlibat dalam mencetak calon pemimpin masa depan, pengusaha masa depan, seniman masa depan, agamawan masa depan dan guru masa depan.

Namun, di balik harapan dan mimpi indah tersebut, terbersit suatu pertanyaan, apakah Kampung Bahasa Pare akan mencetak generasi koruptor yang pintar tapi pengkhianat bangsa atau Kampung Bahasa Pare akan mencetak generasi pejuang. Kita semua berharap di Kampung Bahasa Pare akan lahir generasi Soekarno, Hatta, Syahrir, Munir, Gusdur, dan para pejuang lainnya. Selain itu, di Pare akan lahir generasi yang jago bahasa asing dan siap menjadi pasukan Tuhan di muka bumi, yang akan mengatakan tidak dan lawan terhadap korupsi, penggu-suran, dan segala bentuk kezaliman yang ada di depan mata.

sumber gambar: www.merdeka.com

sumber gambar: www.merdeka.com

Ketakutan lainnya adalah ketika Pare hanya menjadi tempat bersenang-senang dan jauh dari kontrol orang tua. Hal yang tak kalah berbahayanya lagi adalah ketika Pare menjadi tempat belajar yang mahal dan elitis, sehingga hanya orang yang berduit, anak pejabat atau mungkin hanya anak koruptor yang bisa belajar di Pare karena rakyat miskin, tak sanggup lagi untuk membayar biaya kursus yang mahal. Alhasil, orang miskin semakin bodoh dan miskin, sedangkan orang kaya semakin cerdas dan kaya. Itulah kejahatan dari sistem kapitalisme yang harus kita lawan bersama.

Ada banyak kelebihan yang dimiliki Pare, diantaranya adalah pelajar yang berasal dari ujung utara Sumatera sampai ujung timur Papua dengan berbagai tingkatan pendidikan (SD-S3). Selain itu adalah basic keilmuan yang berbeda politik, ekonomi, budaya, filsafat, agama, hukum, dan lain-lain.

Motivasi orang ke Pare pun sangat mulia, misalnya ingin melanjutkan studi, masuk dunia kerja, dan lainnya. Olehnya itu, mereka semua akan mengambil peran yang strategis di bangsa ini pada masa mendatang. Jika mereka idealis, maka selamat dan sejahteralah bangsa ini. Tapi sebaliknya, jika mereka jahat dan korup maka hancurlah bangsa ini.

Agenda menjadikan Pare sebagai pondasi revolusi atau titik perubahan di negeri ini sangat ditentukan oleh kerjasama banyak stakeholder, yaitu pemilik kursus progresif, tokoh masyarakat progresif, tutor progresif, dan pelajar progresif. Kita mengharapkan semua stakeholder tersebut punya semangat berjuang atau semangat mengabdi demi kebenaran dan pendidikan serta senantiasa menjalin komunikasi guna mengawal visi bagaimana Pare menjadi surga bagi semua golongan, baik golongan kaya, menengah maupun masyarakat miskin.

Ketika hampir semua tempat pendidikan di bangsa ini, senantiasa mempersulit anak tukang becak, anak penjual sayur, anak Pegawai Negeri Sipil (PNS) rendahan serta anak pensiunan untuk cerdas, maka bisakah Pare yang menyiapkan tempat bagi mereka?

Pare adalah simbol perlawanan terhadap elitisasi pengetahuan dimana hanya orang kaya yang bisa cerdas karena mereka punya uang untuk membayar biaya pendidikan seberapa pun mahalnya.

Peran Tutor (guru)

Salah satu stakeholder yang berperan penting dalam agenda perjuangan di Pare adalah tutor. Karena yang datang ke Pare adalah orang-orang yang ingin cerdas bahasa, termasuk English maka automatically ketika ada orang yang jago English, ia akan menjadi idola bagi siswanya. Logikanya adalah bahwa fans ingin seperti idolanya. Fans lebih cepat percaya ketika idolanya yang berbicara daripada orang lain. Contohnya, orang yang sangat kagum kepada Pasya Ungu, akan mengikuti gaya rambut, gaya pakaian, cara berbicara, bahkan cara berpikirnya. Begitu juga dengan contoh yang lebih tinggi, misalnya orang yang sangat mengagumi Rasulullah Muhammad, pasti akan mengikuti gaya pakaian, cara shalat dan juga karakter Rasulullah Muhammad, misalnya semangat belajar, keberpihakannya pada kaum tertindas, kesederhanaan, keberanian, dan lainnya.

Nah, salah satu pertanyaan kunci adalah apakah tutor bisa menjadi teladan pada wilayah keilmuan, akhlak, spirit, dan lainnya? Sekiranya belum sepenuhnya, maka solusinya adalah tutor sambil terus bergerak (baca: berusaha) menyempurnakan dirinya, beliau juga mengajak murid-muridnya untuk menjadi lebih baik karena kehidupan adalah sebuah proses bergerak menuju kesempurnaan. Dan dalam hidup, tak ada kata cuti dalam berjuang.

Tugas tutor adalah mengajar dan membentuk karakter siswa.

“Ketika ada yang ingin merusak surga kecil Pare yang murah, merakyat, berkarakter, berkualitas dan religius maka perlawanan adalah akhlak tertinggi, yang harus kita persembahkan kepada mereka.”

Sumber: Buku: A.Zulkarnain, Pare dan Catatan Tak Usai: PERGOLAKAN MAHASISWA dan Spirit Kampung Bahasa Pare, 2012.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *