Pare Dan Catatan Tak Usai

Kata Pengantar

KEMULIAAN kepada Tuhan Pecinta pemilik segala cinta yang senantiasa memberikan cinta kepada yang dicintainya. (Allah SWT).

Buku ini berawal ketika Agustus 2010, penulis merencanakan meninggalkan Pare untuk melanjutkan pengejaran terhadap mimpi-mimpi yang lain. Beberapa teman meminta agar tulisan yang pernah penulis sebar selama di Pare, bisa dikumpulkan untuk minimal menjadi bacaan tambahan teman-teman yang akan melanjutkan agenda belajar dan berjuang di Pare.

Akhirnya terkumpullah beberapa tulisan, termasuk tulisan yang pernah tersebar di kampus. Kumpulan tulisan tersebut kemudian diramu menjadi buku (cetakan perdana) oleh A. Fery Febriari dan disebar ke beberapa teman yang masih akan menetap di Pare.

Beberapa waktu kemudian ada yang memberi usulan agar buku tersebut bisa dicetak ulang dan disebar lebih luas. Maka, dilakukanlah beberapa perbaikan dan jadilah seperti yang ada di tangan pembaca sekarang ini.

Buku ini merupakan bagian dari proses curhat intelektual penulis dengan beberapa owners, tutor, siswa, pemilik warung, dan beberapa tukang becak di Kampung Bahasa Pare, Kediri, Jawa Timur. Dan juga beberapa catatan kampus yang merupakan hasil dialektika dengan dosen, mahasiswa dan masyarakat baik yang menonton kezaliman maupun mereka yang gelisah dan bergerak untuk mencoba menjadikan kezaliman sebagai sejarah.

Terima kasih kepada semua pihak yang telah terlibat langsung maupun tidak, sehingga buku ini terpenuhi syaratnya untuk diterbitkan. Kepada teman-teman di Philosophia Institute, GERAM anti BHP, SEMA FE-Unhas, KONTRA, PMB UH Latenritta. Dan kepada te-man-teman komunitas di Pare – Rumah Anak Bangsa (RAB), ASSET, Komunitas Diskusi Malam Sabtu, Rumah Baca

WOW, FKB, PIP, dan Komunitas 12 PM.Penghargaan yang tulus atas kesediaan menjadi pembaca awal buku ini: Mas Bandung Mawardi, Mas Fauzi, Mas Aris, Ms. Uun, Mr. Dukun, Mr. Suherman, Mas Alawi, Mr. Mao, Kak Cupe, Yoseth, Ashadi, Arifah, Tenri, M. Iqbal, Rudy, Pak Muchlas, dan Pak Faisal.

Selanjutnya ucapan terima kasih kepada Mr. Kalend, Ms. Indah, Mr. Bagas, Mr. Andre, Mr. Ari, Mr. Toto, Mr. Kapten, Mr. Edy, Ms. Asa, Mr. Are, Mr. Fadlan, Mr. Ewink, dan kepada siapapun yang menolak tunduk dan patuh melihat kezaliman.

Jakarta, Agustus 2012

Testimonials

Menarik..buku ini adalah kumpulan tulisan seorang aktivis. Yg pernah belajar& berjuang di kampus&selanjutnya berjuang di Kampung Bahasa Pare kediri,Jatim.

Disana dia menanam mimpinya agar Pare bukan hanya sebagai tempat belajar bahasa, tapi lebih jauh lagi menjadi t4 menumbuhkan nasionalisme&spirit pergerakan.

Di buku ini, zul juga mengurai problem sekaligus harapan terhadap negaranya

(Fadjroel Rachman)
Ketua Pedoman Indonesia
Mantan Tahanan Politik era Soeharto

A.Zulkarnain bukan sekedar aktivis. Ia merupakan satu di antara sedikit tokoh pergerakan kampus. Pikiran-pikirannya menggambarkan kegelisahan seorang anak muda terhadap realitas di sekelilingnya.

Zul dengan lugas mengkritik agama yg (hanya) menjadi candu masyrakat, membuka topeng Presiden Yudhoyono, tapi juga menawarkan pendidikan alternatif ala Pare & harapan terhadap gerakan mahasiswa.

(Adhie M Massardi)
Koordinator Gerakan Indonesia Bersih
Juru bicara Presiden era KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur).

Kita butuh para pengkritik, untuk mengingatkan kita bahwa “yang lebih baik” masih ada, masih jauh masih perlu kita kejar bersama. Kritik yang jernih dan briliant hanya bisa lahir dari dua syarat mutlak yaitu kecerdasan dan keberanian. Keberanian dan kecerdasan sudah menjadi milik Andi Sul, sejak dari bangku kuliah di kampus merah dulu.

Eka Sastra (CEO Maradeka Group)

Saya selalu bangga dan sekaligus iri pd anak muda yg menulis. Lebih2 yg dituliskannya adalah tentang bacaan, renungan, kejengkelan, kritik, dan mgkin juga rasa kesel atas realitas bangsanya. Anak muda yg membaca dan berpikir tentang nasib bangsanya adalah anak muda yg melewati masa mudanya dengan indah. Mencatatkan itu akan membuat kita mengenalnya bahkan puluhan tahun sesudahnya. Tulisan kawan Andi Zul ini adalah salah satunya. Ada kegelisahan, ada kegeraman, ada keresahan tp besertaan dengan itu ada optimisme, ada jalan keluar dan ada kemauan u berbuat sesuatu bagi negeri yg sama2 kita cintai ini.

(Ray Rangkuti)
Pengamat politik/Direktur Lingkar Madani untuk Indonesia (LIMA)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *