Panai dan Perempuan Bugis

Menonton film panai, orang bisa menafsir, seolah hanya satu jalan untuk bisa hidup bersama dengan perempuan bugis.

Saya justru mengenal begitu banyak perempuan Bugis, termasuk di foto ini yang kekaguman mendasarnya pada lelaki bukan pada kemapanan materi, tapi pada kesempurnaan akalnya.

kokas-2

Beberapa tahun saya berdiskusi dengan mereka, tidak pernah uang panai yang jadi pembahasan dalam mengukur pasangan ato calon pasangan.

Mereka mencari cahaya yang bisa mengantar mereka menuju puncak dari segala cahaya.

Menariknya, saya mengenal ortu mereka, yang juga berpendirian mirip dengan anaknya. Ya, dalam konsep sosialisasi nilai, terjelaskan bahwa tata nilai seseorang hadir melalui sosialisasi nilai yg panjang.

Anak yang memiliki pahaman nilai yang tinggi, diperoleh dari sosialisasi nilai dari orang tua yang tercerahkan pula.

Ortu mereka hormat kepada adat, tapi juga memuliakan Muhammad Saw. Sehingga mereka tunduk pada hadist “Sebaik-baik mahar adalah yang tidak memberatkan”.

kokas-3

Perempuan tersebut mencari lelaki yang tidak perlu mau mati demi kekasihnya, tapi cukup rela menjalankan hidupnya bersama derita kaum tertindas.

Perempuan ini justru menertawai dan bahkan kadang mengutuk lelaki yang menggunakan segala cara untuk meraih kemapanan materi dengan menjadi penjilat, penipu, pencuri apbd dll demi panai katanya.

Perempuan tersebut adalah penggila pengetahuan, karena terlanjur meyakini bahwa Tuhan cinta dengan orang2 berilmu, dan membnci orang2 yg bodoh. Mereka rata2 S2 di kampus terbaik negeri ini.

Untuk menggoda mereka sederhana, cukup dengan bacaan buku terbaru dan bukti bahwa anda siap melanjutkan derita perjuangan Soekarno, hatta, syahrir dkk

Trik menyentuh akal perempuan seperti mereka sebagian sdh ada dalam buku mozaik cinta: Dari Revolusi rumah Tangga Menuju Revolusi Sosial, Philosophia Press, 2013.

Buku tersebut bisa didownload GRATIS disini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *