Pak Kalend – Sang Legenda Hidup

Sudah begitu banyak alumni yang Pare telah hasilkan musim ramai atau libur mencapai 15.000 siswa, sedangkan di musim biasa sebanyak 5.000 siswa. Hal tersebut tak lepas dari tangan kreatif dan tulus Muhammad Kalend Osen asal Kutai Kartanegara (Kalimantan Timur) dan lahir pada tanggal 20 Februari 1945. Beliau biasa disapa dengan Pak Kalend.

Ketika di fase awal mendirikan kursusan, beliau mendapatkan begitu banyak tantangan, diantaranya adalah kesalahpahaman beberapa warga sekitar yang ber-anggapan bahwa Bahasa Inggris adalah sesuatu yang bisa merusak budaya setempat yang dikenal religius. Begitu pula dengan semakin banyaknya siswa yang berasal dari ber-bagai wilayah yang menambah keramaian daerah sekitar.

Tapi, perjalanan waktu Pak Kalend mampu mem-buktikan bahwa apa yang beliau rintis bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk orang lain dan untuk bangsanya. Sekarang ini jika kita berkunjung ke Pare, kemudian mencoba bertanya kepada tukang becak, pemilik warung, pemilik kos, pemilik rental sepeda, dan pihak desa, maka mereka akan mengatakan bahwa Pare seperti saat ini, tak bisa lepas dari perjuangan besar seorang lelaki perantau asal Kalimantan memiliki campuran darah Bugis bernama Pak Kalend.

paretempatbelajar

Bagi Pak Kalend, Pendidikan menyentuh pemben-tukan karakter, bukan sekedar transfer ilmu. Tak dapat dipungkiri bahwa orang-orang berdasi yang mencuri uang rakyat hari ini adalah orang-orang yang punya ilmu, tapi bermasalah secara karakter. Olehnya itu, mimpi besar Pak Kalend yaitu pendidikan ala Pare senantiasa memper-hatikan unsur character building.

Salah satu nasehat Pak Kalend bagi para pemilik kursus dan dirinya sendiri adalah membagi rezeki dengan penduduk lokal. Itulah yang menyebabkan Pak Kalend sampai saat ini tidak mendirikan usaha selain kursusan, seperti sewa kos, warung makan, dan lainnya, karena beliau meyakini bahwa biarlah penduduk lokal yang menggarap lahan usaha tersebut. Itulah tafsir teknis atas keyakinan beliau tentang Rahmatan lil alamin.

Kedisiplinan juga adalah hal yang melekat dalam diri Pak Kalend. Beliau mengatakan “Negara kita mundur karena kurang disiplin. Kita harus mulai disiplin di Pare ini, agar negara ini belajar dari kita”. Lebih jauh, beliau juga berpandangan “bagi yang muslim, shalat lima waktu adalah media untuk belajar disiplin waktu”.

Kesederhanaan adalah hal yang akan terlihat ketika bertemu dengan Pak Kalend. Sewaktu beliau merintis kursusan di tahun 1977 dan sampai sekarang ketika telah menjadi salah satu tokoh pendidikan di level nasional gaya beliau masih sama, beliau selalu menyiapkan waktu untuk ditemui oleh siapapun baik pihak pemerintah, pihak seko-lah yang datang untuk studi banding, maupun tukang becak yang sekedar ingin curhat dengan Pak Kalend. Tidak ada hal yang birokratis ketika berhubungan dengan Pak Kalend.

Pak Kalend pernah mengatakan bahwa “Niat saya buka kursus adalah sebagai ibadah karena saya belum yakin dengan shalat dan puasa saya sebagai ibadah yang bisa diterima Allah SWT”. Statement tersebut menjadi sindiran besar bagi banyak pihak di Pare. Seorang siswa pernah mengatakan bahwa seorang seperti Pak Kalend yang seder-hana, tulus, ramah, merakyat, rajin beribadah, telah mem-beri manfaat kepada banyak orang, namun masih merasa belum yakin dengan shalat dan puasa yang dilakukan, apalagi orang seperti kita yang masih jauh dari kualitas tersebut.

sumber gambar: http://kampunginggrisdb.com

sumber gambar: http://kampunginggrisdb.com

Perkataan Pak Kalend tersebut juga mempertegas bahwa ibadah individu seperti shalat dan puasa dalam Islam belum cukup, tapi harus disempurnakan atau bah-kan diuji dengan melakukan suatu ibadah sosial. Dan yang Pak Kalend lakukan adalah menciptakan pendidikan yang merakyat, berkualitas, berkarakter dan religius.

Prinsip Pak Kalend yang lain yang pernah diucapkan dan dipraktikkan sampai saat ini adalah Saya tidak mem-beri harga yang mahal karena saya tahu bahwa rata-rata siswa saya adalah kelas menengah ke bawah. Saya yakin bahwa kepuasan dan kebahagiaan mereka adalah doa bagi saya untuk dunia dan akhirat. Beliau seperti menjawab ungkapan Dr. Buya Haji Abdul Malik Karim Amrullah terkenal dengan sebutan Buya Hamka bahwa “Kalau hidup sekedar hidup, babi di hutan juga hidup. Kalau kerja sekedar kerja, kera juga bekerja”. Pak Kalend begitu yakin bahwa apapun yang kita lakukan di atas tanah Allah adalah ibadah, termasuk ketika beliau memilih menjadi pemilik dan pengajar kursus Bahasa Inggris, sehingga wajar ketika Pak Kalend pernah dianugerahi People Of The Year (POTY) 2009 sebagai tokoh pendidik teladan oleh Harian Seputar Indonesia.

Hal lain yang tak bisa lepas dari Pak Kalend adalah guyonannya. Ketika menjadi pembicara suatu forum di Pare, beliau pernah memberi pertanyaan kepada para peserta, Mana yang lebih enak, menjadi Mister (panggilan bagi guru Bahasa Inggris di Pare) yang ulama atau menjadi ula-ma yang Mister?. Banyak peserta yang kebingungan men-jawab pertanyaan tersebut. Kemudian Pak Kalend men-jawab, Yang enak adalah Mister yang ulama karena kita masih bisa guyon dengan cewek, sedangkan ulama yang Mister, sulit untuk melakukan hal tersebut. Serentak para hadirin tertawa.

Pare telah menjadi tempat pendidikan alternatif di bangsa ini. Ketika di luar Pare, pendidikan mahal, maka di Pare murah. Ketika pendidikan di luar sana elitis, maka pendidikan Pare merakyat. Ketika pendidikan di luar sana tidak peduli dengan kualitas, maka Pare mengusung pendi-dikan berkualitas. Ketika di luar Pare, religiusitas dianggap tidak penting, maka Pare hadir untuk mencetak anak didik yang religius. Ketika di luar Pare guru dianggap seperti Tuhan yang mustahil salah, maka di Pare guru dan murid beranggapan bahwa diri mereka adalah setara, sama-sama manusia yang merindu dan mencari kebenaran.

Ya, itulah definisi keimanan yang beliau contohkan, bukan hanya dengan baju koko, membawa tasbih atau segalanya yang berbau Arab. Tapi, sebuah kerja keras yang konsisten dan berguna bagi banyak orang.

Olehnya itu, siapapun yang ingin merusak kemuliaan Pare Pendidikan yang murah, merakyat, berkarakter, ber-kualitas dan religius maka sungguh, dia telah melakukan pengkhianatan besar terhadap perjuangan Pak Kalend, ter-masuk Ustadz Yazid (guru Pak Kalend) selama puluhan ta-hun, juga pengkhianatan terhadap bangsa dan agamanya sendiri, karena merusak sebuah surga kecil di bawah langit Tuhan.

Sumber: Buku: A.Zulkarnain, Pare dan Catatan Tak Usai: PERGOLAKAN MAHASISWA dan Spirit Kampung Bahasa Pare, 2012.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *