PACQUIAO VS MAYWEATHER (EGO ASIA VS AMERIKA)

Duel Pacquiao (Pacman) melawan Mayweather hari ini menimbulkan pro kontra atas keputusan juri. Derita yang dialami Pacquiao bukan hanya untuk dirinya, tapi juga seluruh bangsa Asia ikut merasakannya. Sebab tinju hari ini, bukan hanya gengsi dua orang, tapi terkait erat dengan kebesaran dua benua. Asia yang dominan terbelakang dan Amerika yang dianggap lebih maju, bahkan mengaku super power. Selanjutnya, pertarungan Pacquiao dengan Mayweather melambangkan pertarungan kesederhanaan vs keangkuhan, kerakyatan vs elitisme, bahkan mempertontongkan konflik klasik kapitalisme.

Banyak pihak menganggap bahwa harusnya yang menjadi pemenang untuk laga hari ini adalah Pacquiao karena banyaknya pukulan yang dia lesatkan kepada Mayweather. Juga terlihat dari sambutan penonton  yang sangat meriah atas lambaian tangan Pacquiao, dan suara “hhuuuu” atas klaim kemenangan Mayweather. Pacquiao juga menjelaskan optimisme kemenangannya pasca bertanding, “Ini pertarungan yang bagus. Saya merasa menang. Dia tidak melakukan apapun. Dia cuma berkelit.” (lihat)

Beberapa tahun terakhir, Pacquiao tidak hanya membawa dirinya, tapi juga bangsa Philipina yang ditandai dengan hari ulang tahunnya merupakan hari libur nasional. Pacquiao juga telah  menjadi simbol kekuatan tinju asia. Lebih jauh Pacquiao telah menjadi wajah kebangkitan Asia atas bangsa Amerika dan Eropa.

Kemenangan yang terkesan dipaksakan oleh pihak Mayweather menunjukkan ketakutan bangsa Amerika atas kebangkitan bangsa Asia. Bangsa Amerika masih selalu malu dan takut mengakui munculnya kebesaran Asia.

Foto: www.chitno.com

Foto: www.chitno.com

Hasil tinju ini, memberi kisah kelam atas laga bertitel Fight Of The Century, juga sekaligus memberi gambaran nyata bahwa saat ini masih merupakan abad ketidakadilan. Abad ini masih abad arogansi. Fakta begitu mudahnya Amerika dan sekutunya menyerang Irak, mengacaukan Suriah, dan lainnya mengungkapkan hal tersebut.

Meskipun juri menganggap Mayweather sebagai pemenang, tapi kemenangan versi publik tak ada yang bisa menyogoknya. Berbagai status di media sosial yang berupa dukungan kepada Pacquiao sebagai pemenang sebenarnya menjadi saksi bahwa semua mata yang terlibat dalam laga ini menyimak dengan seksama alur pertandingan.

PACQUAIAO: POLITISI DAN PEJUANG KAUM LEMAH

Pacquiao adalah simbol atas perjuangan dan kemanusiaan. Dia menceritakan bahwa hidupnya melalui proses panjang yang penuh derita. “Saya biasa tidur di jalan dan kelaparan. Saya tidak bisa membayangkan Tuhan mengangkat saya ke tingkat kehidupan seperti ini,” ucap petinju yang dijuluki Pac-Man tersebut.

Foto: actlikeaman

Foto: actlikeaman

Ketinggian jiwa Pacquiao juga terlihat dari prosesnya di dunia politik Philipina yang terpilih dua kali sebagai anggota Kongres.  Ia juga terlibat mendamaikan perang saudara di selatan Filipina. Hal tersebut menjadi saksi bahwa Pacquiao memiliki kesadaran yang tinggi atas kemanusiaan dan kebesaran bangsanya.

Pacquiao merupakan penganut Kristen yang taat.  Ia selalu tampil dengan murah senyum, dan tanpa kesombongan. Sikap humanisnya, dibuktikan dengan uang kemenangannya yang disumbangkan pada pembangunan gereja, sekolah, dan pusat komunitas di General Santos City, Filipina. “Apa yang saya lakukan mengikuti perintah dalam Alkitab,” katanya, “Bahwa kami harus memberi makan orang miskin, membantu para janda, mengajar dan menginspirasi anak-anak tentang kebesaran Tuhan.” (baca)

Dari jejak hidup dan karyanya tersebut, maka tak heran ketika nama Pacquiao disebut-sebut sebagai calon presiden Philipina masa depan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *