Nasib Anak di Negeri Miskin Parenting

Mahatma Gandhi pernah menulis kepada anaknya, “engkau bukan tawananku, tetapi kawanku”

Mendampingi anak melewati masa pertumbuhan emasnya dengan tidak melarang, menyuruh dan memarahi mungkin sulit, makanya di buat sekolahnya dan terbitkan beberapa buku tentangnya. Di beberapa negara maju, sekolah parenting wajib sebelum menikah, tanpa sertifikat itu, ikatan cinta tidak akan diakui negara (KUA klo di Indonesia). Negara maju tidak ingin menambah warga yang kelak akan menjadi beban negara. Mereka bekerjasama dengan struktur kecil rumah tangga agar bisa menghasilkan manusia-manusia unggul di segala bidang.

Lebih separuh kepala daerah yang tersangkut kasus korupsi bukan hanya wajah atas miskinnya integritas pejabat publik kita, tapi juga menjelaskan bahwa ada persoalan parenting di negeri ini. Tafsir tentang kepemilikan individu dan publik tidak selesai waktu kecil. Konsep tentang baik-buruk, benar-salah, tidak terinternalisasi dengan baik sesuai fase pertumbuhan anak.

Perkelahian di medsos antara dua kubu fans politik yang kadang melepas aspek rasionalitas dan etis juga karena sejak dini tidak dibiasakan bersikap dengan alasan rasional. Orang tua selalu memaksakan keinginannya kepada anaknya, tanpa ada dialog yang memadai sesuai usia pertumbuhan anak. Anak juga tidak diajarkan tentang konsep perspective taking di masa emasnya. Bahwa setiap individu itu unik, memiliki karakternya yang khas yang tidak terlepas dari sejarah pengetahuannya, buku yang dibaca, lingkungan yang membesarkanya, agama yang dianut, target kepentingan, dan lainnya. Makanya, kita harus selalu siap dengan perbedaan. Seperti kata seorang bijak, perbedaan bukanlah bencana, tapi tidak boleh berbeda itulah yang menjadi ancaman dalam kehidupan.

Foto: www.vox.com

Jika sejak awal anak dibiasakan mendiskusikan perbedaan pandangan, selera, keinginan, maka ketika dewasa mereka akan selalu mampu merasionalkan setiap pilihanya. Dengan kualitas tersebut, kelak akan menjadi warga negara yang menghargai perbedaan warna kulit, ideologi, selera politik, pilihan tim sepakbola dan lainnya.

Miskinnya pemahaman parenting di tengah masyarakat yang hidup 87 juta anak ini akan berakibat pada lahirnya masyarakat yang sakit. Orang dewasa kerap menggunakan berbagai kuasa pada dirinya untuk menundukkan anak-anak. Kekuasaan bisa berupa diksi “saya orang tuamu, percaya sama saya”, “saya sudah kenyang makan garam”, “saya lebih tahu dari kamu, kamu masih kecil, tahu apa kamu tentang itu,,,”. Kekuasan orang dewasa kadang disempurnakan dengan intonasi suara yang lebih tinggi untuk memenangkan komunikasi dengan anak. Strategi lainnya adalah ancaman, “jika kamu tidak mau ikuti aku, saya tidak akan berikan uang jajan”, “Ya sudah, urus saja dirimu sendiri, klo tidak mau ikuti nasehat aku”. Dominasi kuasa orang yang lebih berumur juga bisa dimainkan dengan ekspresi, mata melotot untuk membunuh argumen sang anak. Jika orang tua kalah atau kehabisan argumen, biasanya akan main fisik, mencubit atau mengambil kayu untuk merusak warna kulit sang anak.

Menjalani hidup dengan anak berbasis pada akal/rasio/pikiran jernih memang sulit ditengah zaman yang serba cepat dan menganut ideologi “time is money”. Parenting yang memaknai anak sebagai manusia pembelajar yang senantiasa bertindak berdasar pengetahuannya memang butuh waktu karena mengahruskan adanya pengulangan, pengertian atas momen yang tepat dalam berbicara, dan berbagai tantangan lain. Makanya, orang tua yang membangun kultur dialog dalam kehidupan keluarganya adalah keluarga yang bukan hanya sudah bekerja keras mempelajari trik parenting, tapi juga telah mendapatkan hidayah dari langit. Karena lelahnya berkali-kali lipat dari model parenting jaman old, yang berbasis pada teriakan, pelototan, kayu, dan berbagai pendekatan dominasi berbau antagonis lainnya.

Saya pernah mendegar kisah nyata, seorang anak perantau menolak pulang menemui ayahnya di kampung yang sedang sakit parah yang diperkirakan akan segera meninggal. Sang anak menjawab, biar saja dia (ayah) mati, dia dulu berapa kali mau bunuh saya. Konon, sang anak , ketika kecil, harus berteriak kesakitan tiap kali menerima pukulan ayahnya. Itulah hasil dari pola pengasuhan yang mengandalkan kekerasan. Yang tercipta bukan kedisiplinan, tapi dendam yang tertanam utuh di alam bawah sadar sang anak.

Foto: https://encrypted-tbn2.gstatic.com

Revolusi Parenting Menuju Revolusi Sosial

Dulu ada anggapan bahwa untuk mewujudkan revolusi, maka yang harus disiapkan adalah revolusi individu. Tiap aktor melakukan perubahan dalam dirinya terkait kualitas intelektual, spiritual maupun emosionalnya. Jika terjadi pencerahan dalam diri, maka otomatis akan menjadi penggerak sejarah. Namun faktanya, kita melihat satu persatu tokoh yang ada di kampus atau dunia gerakan, hilang ditelan berbagai godaan. Atas nama perut, kebutuhan rumah tangga sehingga menghilang dari gagasan dan gerakan idealitas. Makanya muncul tesis bahwa revolusi sosial juga membutuhkan revolusi rumah tangga. Para pejuang gerakan yang sudah tercerahkan, perlu untuk memilih pasangan yang juga tercerahkan. Sebagaimana kalimat Tuhan, “ Wanita-wanita yang tidak baik untuk laki-laki yang tidak baik, dan laki-laki yang tidak baik adalah untuk wanita yang tidak baik pula. Wanita yang baik untuk lelaki yang baik dan lelaki yang baik untuk wanita yang baik. (Qs. An Nur:26)

Faktanya, kita melihat bahwa jalan menuju revolusi itu jauh, melelahkan dan tidak bisa selesai hanya dengan perjuangan satu generasi, tapi butuh lapisan generasi yang jauh lebih baik dari sebelumnya. Dari sinilah muncul gagasan, bahwa revolusi sosial meniscayakan pula adanya revolusi parenting. Jika pengasuhan berjalan secara ideal, maka aktor pencerah bisa maju secara kualitas dan kuantitas. Parenting adalah kunci, karena karakter seseorang di usia dewasa, sangat tergantung pada stimulasi yang dilakukan padanya saat usia dini. Seseorang menjadi pemalas, pendendam, pemarah, penakut, atau bermental pejuang, penggerak, pemersatu, sangat tergantung pendidikan anak pada masa emasnya.

Jika kita menyimak sejarah lahirnya tokoh besar seperti Bung Karno yang sukses mengantar suatu bangsa yang dijajah sekitar 350 tahun ke gerbang kemerdekaan, ternyata tak lepas dari kisah parenting yang sukses. Soekarno, pernah mengatakan bahwa, saat dia kecil, tiap pagi ibunya membuka jendela rumahnya, sambil menunjuk matahari dan berkata, engkaulah putra sang fajar yang kelak akan memimpin negeri ini menuju kemerdekaan. Ucapan rutin tersebut menjadi doa dan membentuk Soekarno muda yang kemudian kita kenal dan kenang kebesarannya sampai detik ini.

Foto: hybrid parenting

Memaknai Ilmu Parenting

Urgensi ilmu parenting juga karena ilmu pengetahuan terus berkembang sehingga selalu melahirkan teori baru. Ilmu parenting juga terus berubah dari zaman ke zaman. Maka mempelajari ilmu parenting terbaru juga akan membantu membesarkan anak sesuai pada zamannya. Kecintaan kepada anak bukan hanya tentang materi, bukan pula hanya tentang waktu, tapi juga kehausan dan aplikasi pada dan atas pengetahuan dunia anak sesuai konteks zamannya.

Parenting gaya lama di era industri 4:0. Di zaman serba digital akan berakhir pada kekecewaan dan kegalauan. Setiap anak memiliki zamannya. Mereka perlu disentuh sesuai konteks tantangan eranya. Mahatma Gandhi pernah menulis kepada anaknya, “engkau bukan tawananku, tetapi kawanku”.

Salah satu kemiskinan yang paling berbahaya pada seseorang adalah miskin percaya diri (PD). Jika ini terjadi, maka akan berdampak pada kemiskinan yang lain. Karena kurang PD, maka teman sedikit, pengalaman kerdil, dan pintu rejeki terbatas. Ada beberapa sebab anak kehilangan rasa PD, diantaranya, anak sering dibanding-bandingkan dengan saudaranya atau orang lain. Bahwa yang lain lebih hebat, lebih cerdas, lebih shaleh, sehingga anak akan merasa tidak bernilai di depan orang tua dan lingkungannya. Selanjutnya, terlalu banyak menuntut anak juga akan membuatnya anak merasa tak berdaya. Anak yang terlalu dimanja juga akan sulit untuk mandiri di kemudian hari karena sudah terbiasa semua dilayani oleh orang lain. Sementara hidup adalah seni melayani dan dilayani. Kemudian, anak yang selalu dihukum juga akan miskin rasa PD. Dia secara perlahan akan kehilangan fitrahnya sebagai ilmuwan, yang selalu ingin mengetahui dan mencoba sesuatu.

Dengan pemahaman parenting yang baik, orang tua akan mengenal berbagai macam kepribadian anak dan mengetahui cara yang tepat untuk membesarkan anak sesuai dengan kepribadiannya. Yang jadi masalah, masih ada beberapa orang tua yang membesarkan anak sesuai keinginannya tanpa memerhatikan aspek kepribadian sang anak.

Persoalan parenting di negeri ini juga diperkuat dengan hasil survei Pusat Inteligensia Kesehatan Kementerian Kesehatan yang menemukan bahwa mayoritas anak Indonesia berpikiran negatif yang dikategorikan sebagai pola pikir tidak sehat. “Sebanyak 80 persen dari 3.000 responden menggambarkan cara berpikir negatif atau mental block. Ini adalah bentuk kegagalan pertumbuhan otak dari kecil”.  kata Kepala Subbidang Pemeliharaan dan Peningkatan Kemampuan Inteligensia Anak Kemenkes Gunawan Bambang. Kondisi pikiran yang selalu negatif itu merupakan salah satu akibat dari “keracunan otak” akibat ulah orangtuanya. “Kondisi yang tidak kondusif. Orangtua pemarah bisa berpengaruh langsung ke kondisi kesehatan otak anak.” (www.kompas.com, 2011).


Anak-anak di Jepang, sebelum makan diberikan penjelasan tentang apa saja kandungan makanannya. Berapa kalori, protein, dan lainnya. Sekiranya unsur kalorinya sudah cukup, maka saat bertamu ke rumah nenek, kemudian ditawari es krim, anak akan menjawab, maaf aku sudah cukup kalori hari ini, Nek. Pola hidup sehat yang tidak dijelaskan dengan baik dan rasional ini menyebabkan masyarakat hidup tanpa visi kesehatan. Makanya asuransi kesehatan negeri ini, yang dikawal BPJS, selalu mengalami kerugian. Yang terbaru minus sekitar Rp 9 triliun. Inilah perdebatan yang rumit terkait ekonomi kesehatan dan kesehatan ekonomi.

Sebagai penutup,berikut Puisi Kahlil Gibran, “Anakmu Bukanlah Milikmu”.

Anak adalah kehidupan, Mereka adalah putra putri Sang Hidup, yang rindu akan dirinya sendiri. 

Mereka lahir lewat engkau, tetapi bukan dari engkau. Mereka ada padamu, tetapi bukanlah milikmu.

Berikanlah mereka kasih sayangmu, namun jangan sodorkan pemikiranmu, sebab pada mereka ada alam pikiran tersendiri. 

Patut kau berikan rumah bagi raganya, namun tidak bagi jiwanya. Sebab, jiwa mereka adalah penghuni rumah masa depan, yang tiada dapat kau kunjungi, sekalipun dalam mimpimu. 

Engkau boleh berusaha menyerupai mereka, namun jangan membuat mereka menyerupaimu. Sebab, kehidupan tidak pernah berjalan mundur, atau tenggelam ke masa lampau. 

Engkaulah busur asal anakmu, anak panah hidup, melesat pergi.
Sang Pemanah membidik sasaran keabadian.
Dia merentangkanmu dengan kuasaNya,
hingga anak panah itu melesat jauh dan cepat.

Bersukacitalah dalam rentangan tangan Sang Pemanah.
Sebab, Dia mengasihi anak-anak panah yang melesat laksana kilat,
sebagaimana dikasihiNya pula busur yang mantap.

***

Tidak ada anak yang minta dilahirkan, yang ada adalah orang tua yang meminta/memohon/menghendaki anak. Olehnya itu, orang tua yang menelantarkan anak atau membesarkan anak secara salah karena kemalasan mencari ilmu adalah tragedi.

Selamat hari anak nasional

Mari mendorong dan membumikan parentingnya manusia yang memperlakukan anak seperti manusia (dewasa), demi terwujudnya Republiknya Manusia

Salam

www.republikmanusia.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *