Mudik: Fitrah, Kuliner dan Kuburan

Mudik adalah salah satu tanda fitrah manusia yang selalu rindu pada tanah kelahiran. Ketika seseorang tidak merindukan untuk menyentuh kembali tanah kelahirannya, maka itu merupakan tanda yang tak wajar. Mungkin ada trauma tertentu yang menutupi fitrah kerinduan tersebut. Misalnya, derita cinta di masa lalu, atau ada konflik keras di kampung yang belum bisa dilupakan. Bisa pula karena komitmen pantang pulang sebelum sukses. Seperti, sumpah teman di Jakarta, yang berjanji dalam dirinya, tidak akan pulang (mudik) sebelum resmi menjadi pengacara di ibu kota.

Perkembangan kapitalisme yang semakin kompleks juga berhasil merasuki kemuliaan mudik. Mudik yang awalnya didominasi semangat bersilaturahmi bersama keluarga dekat, kemudian ditempeli dengan ajang pamer benda materi yang kadang dipaksakan. Mudik menjadi momentum untuk mempertontonkan jumlah harta yang dimiliki. Atas hal tersebut, banyak orang berlomba mengumpulkan harta di kota tempatnya bekerja dengan segala cara. Tidak lagi membahas ukuran halal dan haram dalam metodologinya. Semua dilakukan atas keinginan dicap sukses di momentum mudik. Perilaku tersebut tentu sukses menggugurkan hakekat diperintahkannya ibadah puasa yang untuk konteks kita kehadirannya satu paket dengan mudik. Puasa berfungsi menjadikan manusia semakin takwa, karena kemampuannya mengendalikan nafsu.

Foto: www.kiblat.net

Foto: www.kiblat.net

Meski kapitalisme telah menggembosi kemuliaan mudik, tapi masih ada sebagian masyarakat yang bisa bertahan dan menjadikan mudik sebagai momen subtantif untuk menjawab rindu kemanusiaan. Bukan hanya kepada keluarga, tapi juga kepada teman sekolah dan berbagai jejak hidup lainnya. Ya, mudik merupakan momentum untuk menyapa keluarga lebih intim.

Saat mudik pula kita terbiasa untuk melakukan ziarah kubur kepada keluarga yang telah mendahului menuju fase hidup yang lain. Mudik akan membangkitkan imajinasi tentang takdir hidup yang harus dilalui. Karena salah satu tanda kongkrit kebesaran Tuhan adalah ketika Dia mampu mematikan yang hidup. Takdir kematian merupakan sinyal kuat bahwa tak ada yang abdi di atas tanah Allah. Momentum ziarah kubur bagi jiwa yang sehat, selalu dirindukan karena dengannya manusia bisa memaknai bahwa segala klaim kuasa politik, ekonomi dan lainnya akan berakhir di tanah. Segala yang ada akan menjadi ketiadaan. Kecuali Sang Ada.

Mudik dan Kuliner

Mudik juga identik dengan reuni. Bukan hanya kepada teman sekolah, atau teman sepermainan, tapi juga reuni kuliner. Setiap lidah melalui perkembangannya yang unik. Maka seperti lainnya, pada titik tertentu, lidah mengalami kerinduan yang hebat pada apa yang sering dicicipinya di masa lampau.

Setiap manusia memiliki sejarah pada kulinernya. Perkembangan seorang manusia beriringan dengan sejarah kulinernya. Begitu intimnya manusia dengan kulinernya, misalnya, bisa terlihat dari kisah seorang wartawan asal Indonesia yang sedang bertugas di Amerika. Karena dia sering berpindah tempat, maka dia memutuskan untuk selalu membawa Rice cooker di dalam tasnya. Baginya, rasa kenyang baru bisa dicapai setelah makan nasi. Meskipun sudah banyak mengkonsumsi makanan yang mengandung karbohidrat, tapi klo belum makan nasi, maka rasa lapar masih menggangunya.

Foto: www.kompasiana.com

Foto: www.kompasiana.com

Begitu pula klo kita mencermati status pelajar Indonesia yang ada di tanah rantau, yang tidak sempat mudik. Status dengan tema rindu makanan merupakan kategori yang sangat menonjol. Ya, itulah Indonesia, mudik bukan hanya jawaban kongkrit akan kerinduan manusia dengan manusia, tapi juga kerinduan antara manusia dengan makanannya.

Mudik Progresif

Untuk konteks Bugis Makassar dikenal konsep “Lao Sappa Deceng, Lisu Mappadeceng”. Bahwa setiap orang yang telah pergi (merantau) mencari kebaikan, dituntut untuk bisa pulang memperbaiki. Mudik adalah momentum yang menarik untuk mengimplementasikan ajaran tersebut. Makanya sangat disayangkan, klo kemuliaan dan manfaat mudik terpenjara hanya  pada lingkungan keluarga, tidak mampu memberi efek pada masyarakat sekitar. Menjadi kesedihan pula, klo mudik hanya untuk menggembirakan lidah dan perut dengan berbagai makanan, sedangkan kegembiraan masyarakat luas secara subtantif tidak tercipta.

Mudik idealnya menjadi momentum kaum terdidik dari kota untuk melakukan pencerahan di kampung. Apalagi berlakunya UU Desa yang akan memberi wewenang dan anggaran besar kepada pihak desa. Ketika masyarakat desa tidak siap, maka uang tersebut hanya akan dinikmati oleh elit bandit. Begitupun klo penyelengggara pemerintahan desa tak paham prosedur dengan baik, maka mereka akan terancam hukuman penyahgunaan anggaran, dan berbagai potensi buruk lainnya.

Foto: www.katakatagambar.com

Foto: www.katakatagambar.com

Mudik juga menjadi kesempatan bagi orang kota untuk berbagi informasi tentang jalur beasiswa bagi pemuda desa yang ingin sekolah. Mudik merupakan arena pemberdayaan masyarakat desa agar mereka bisa menuntut haknya secara lebih massif dari kota agar tercipta kesetaraan kondisi sebagaimana janji suci kemerdekaan 70an tahun yang lalu. Mudik adalah momentum yang pas untuk mengkonsolidasikan orang baik agar bisa berbuat sesuatu untuk desa, misalnya mendirikan rumah baca, komunitas diskusi, sekolah bahasa, kelompok usaha, komunitas seni, dan berbagai agenda pemberdayaan lainnya.

Mudik harusnya menjadi momentum untuk melakukan transfer pengetahuan dari kota ke desa. Disisi yang lain, mudik menjadi ajang bagi orang kota untuk meresapi kedalaman kearifaan lokal. Mudik sebagai ruang dealektika antara manusia kota dan manusia desa dengan berbagai macam kekhasannya.

Selamat menikmati, merayakan dan meresapi Hari Raya Idul Fitri.

Mohon Maaf Lahir dan Batin.

 

Salam Hormat

Andi Zulkarnain

 

* Tulisan ini, pernah dimuat di http://www.mahasiswaindonesia.com/berita-mudik-fitrah-kuliner-dan-kuburan.html#.VdanG7Kqqko

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *