Mudik dan Derita Manusia

By: A.Zulkarnain ZL

“Silahkan berkelana kemanapun, namun kamu harus tahu kemana harus kembali”

Mudik bukan hanya tentang kue dan baju baru. Mudik adalah napak tilas kehidupan. Mudik adalah ikhtiar berjuang kembali menemui yang dihormati.

Mudik adalah prosesi kebudayaan yang telah direstui negara. Makanya, libur panjang disiapkan dan THR dibagikan. Mayoritas operasi negara dihentikan. Pekerja negara diizinkan pulang menyapa tanah kelahiran.

Foto: http://m.tribunnews.com


Demikian pula di sektor swasta. Pemilik modal merestui budaya dan aturan negara tersebut. Mereka mengistirahatkan karyawannya. Proses produksi terhenti. Filsafat Benjamin Franklin tentang “time is money” dicutikan. Buruh mudik untuk merekreasikan jiwanya yang teralienasi karena kerja-kerja.

Mudik adalah obat atas derita kemanusiaan. Derita manusia yang ditinggal anak cucu. Derita anak yang rindu ayah ibu. Derita pekerja yang lelah. Derita urban atas bisingnya kota. Derita atas kepalsuan wajah individualisme.
Menurut Rose Kusumaning (2019:154), masa pensiun memiliki dua sisi yang bertolak belakang. Bisa mendatangkan kebahagiaan, bisa juga menghadirkan masalah bahkan kegoncangan yang berdampak pada kualitas hidup, seperti aspek psikologis, finansial, kesehatan dan interaksi sosial.

Selanjutnya dikatakan bahwa tantangan terbesar orang lansia adalah ketika merasa sudah tidak dianggap seperti dulu. Sosok yang selalu dibutuhkan.  Mudik adalah pembuktian bahwa orang tua masih segalanya.

Perjalanan jauh dari titik rantau, melewati derita macet, meninggalkan rumah, mencari celah biaya mudik diantara tumpukan cicilan rumah dan sekolah anak, dll adalah sebuah seni. Seni tentang hidup. Sebab hidup adalah gerak untuk memuliakan dan dimuliakan.

Mudik juga adalah momen mengantar cucu bertemu neneknya.
Secara psikologi, nenek akan lebih menyayangi cucunya daripada anaknya. Olehnya itu, jika ada orang tua memarahi anaknya di depan neneknya. Itu sama maknanya sedang memarahi sang nenek.

Mengeluhkan mudik karena hal yang sederhana berarti merobohkan ketinggian dengan kerendahan. Mudik bukan sekedar bagaimana mengisi perut dengan selera dan jejak sejarah indra perasa. Namun mudik adalah kisah bahwa pengorbanan tertinggi masih bisa kita lakukan kepada yang kita cintai. Sebab, cinta kepada orang tua adalah tangga utama untuk bisa sampai ke puncak tangga Ilahiah.

Foto: https://www.hipwee.com


Derita pensiunan adalah kesepian dan mudik adalah obatnya. Ketika rumah kembali diramaikan dengan tangisan bayi, suara cucu yang bermain dan sesekali bertengkar sebagaimana tahap perkembangannya. Rumah yang baru di cat ulang tak sia-sia karena yang ditunggu telah datang. Orang tua kita seketika merasakan kebahagiaan yang mungkin lama hilang. Kesunyian akhirnya berlari menjauh karena deru tawa keceriaan.

Mudik adalah ekspresi atas kesadaran bahwa jika Tuhan menghadirkan kita di dunia melalui perantaraan ayah ibu, maka jalan untuk terus merasakan Tuhan dan Ketuhanan adalah menjaga perantara tersebut. Mari memuliakannya selagi hidup dan selamanya.

Manusia yang memanusiakan orang tua adalah syarat menuju republiknya manusia

Salam

www.republikmanusia.com

Selamat mudik

#mudik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *