MERINDUKAN TEOLOGI PEMBEBASAN

Tulisan ini merupakan refleksi setelah mengkuti Kelas Philosophy Underground pada tanggal 21 Juli 2017 oleh Komunitas Utan Kayu Jakarta, pada sesi pembahasan tentang Teologi Pembebasan yang dibawakan Romo Adrianus Sunarko (Pengajar kristologi di STF Driyarkara)

Salah satu cara agar kita bisa bijak memahami saudara yang tidak seagama adalah mempelajari konsep agama mereka. Tentu akan lebih keren jika langsung dari pakarnya. Tidak cukup hanya dengan modal googling, apalagi dari sumber yang kurang kapabel. Karena kadang kebencian kita terhadap sesuatu adalah karena ketidaktahuan kita tentangnya.

Di forum tersebut kita dibawa untuk merefleksikan beberapa hal yang lucu dalam sejarah keagamaan,  tentang perselingkuhan agamawan dengan kekuasaan, termasuk sejarah munculnya gerakan teologi pembebasan di Amerika Latin.

Bersama Romo Adrianus Sunarko

Bersama Romo Adrianus Sunarko

Di setiap agama selalu ada kelompok yang punya kesadaran teologis tentang pentingnya sabar atas segala penderitaan. Ada juga teologi yang mengajak umat untuk bergerak membebaskan diri dari penindasan.  Karena Tuhan sungguh tidak menyukai penderitaan.

Romo mencontohkan. Dalam teologi model lama,  jika istri dipukul suami maka pendeta akan menasehati bahwa itu salibmu, sabarlah! Adapun dalam konsep teologi pembebasan,  pendeta akan memberi saran lawan suamimu, tegakkan kebenaran.

Sejarah umat manusia menjelaskan dengan gamblang,  bahwa Tuhan adalah “merek” terbaik yang bisa digunakan untuk menipu dan menindas.  Imperialisme kuno sukses dengan semboyan 3G yaitu Gold, Gospel, and Glory (kekayaan, penyebaran agama dan kejayaan).

Para buruh miskin disiapkan pengajian rutin oleh para majikan. Apakah tujuannya agar sang majikan bisa masuk surga kelak? Belum tentu. Bisa saja untuk menenangkan kaum buruh agar tetap produktif bekerja dan jangan rewel dengan berbagai tuntutan atas haknya sebagai pekerja. Para buruh,  maksimalkanlah produktifitasmu dan biarkanlah kami menikmati akumulasi modal yang sempurna. Demikianlah doa dan imajinasi sang majikan.

Foto: Pembebasan Bandung

Foto: Pembebasan Bandung

Sebagian tokoh agama yang intim dengan penguasa/pengusaha/penjajah juga memilih ayat kesabaran untuk mencegah pemberontakan kaum tertindas. Misalnya,  ajaran yang mengatakan bahwa semakin engkau menderita di dunia,  semakin baik nasibmu di akhirat. Maka bersabarlah!

Ayat tentang sabar itu baik pada konteks masalah individu. Namun jika faktanya adalah masalah sosial atau dosa struktural.  Maka solusinya  seperti yang di contohkan, Muhammad saw, Musa, dan nabi-nabi lainnya. Begitu pula Syekh Yusuf, Hasyim Asyari,  Ahmad Dahlan,  Khomeini, Ziaul Haque, Asghar Ali Engineer, Oscar Arnulfo Romero,  Rutilio Grande, dkk yakni bangkit melawan.

Di sisi ini,  tak bisa dipungkiri juga bahwa Tuhan merupakan kesadaran terbaik menggerakkan perlawanan pada penindasan. Seperti kalimat Buya Hamka yang pernah dikutip Bung Karno bahwa ketika Tauhid itu telah menyatu dalam diri seorang manusia,  maka dia tidak takut lagi pada mati.

Ketika Tuhan berbicara kepada manusia melalui kitab suci,  tentu semua tema dibahas.  Sebagaimana Tuhan adalah ilmu dari segala ilmu dan cahaya diatas segala cahaya. Pada kitab yang agung,  Tuhan bercerita tentang pentingnya keberanian dan juga kesabaran. Perlu mengejar akhirat, juga memanfaatkan kehidupan dunia.  Tentang hak yang harus dituntut dan kewajiban yang harus dilunasi.  Semua itu bisa terpahami dengan menggunakan pisau sederhana,  tentang relasi teks,  konteks dan interest.  Para pendakwah agama, sebagaimana semua manusia,  tidak bisa melepaskan diri pada kepentingan (interest). Dia bisa bersikap dan bergerak atas nama kepentingan pribadi dan golongan ataupun untuk kepentingan kebenaran yang universal.

Semua ayat  bisa dicopot untuk membenarkan kepentingan tertentu. Oleh karena itu orang yang polos beragama akan menjadi makanan empuk para penipu berjubah agama. Sedang bagi yang kritis beragama  akan memperoleh kebahagiaan dan pencerahan sejati dari kitab suci.  Karena kemampuannya memilih ayat Tuhan,  sesuai konteks turunnya ayat, konteks dirinya atau konteks ketika ayat itu kembali diwacanakan.

Mari wujudkan agama yang tidak anti pada republik. dan republik yang tidak benci pada agama.

salam.

www.republikmanusia.com

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *