MENOLAK PEMBUSUKAN FILSAFAT

Semenjak saya mengenal kajian filsafat. Forum kemarin, 13/02/19 di Cikini Jakarta merupakan yang teramai. Bangku sudah ditambah beberapa kali oleh panitia tapi tetap tidak mencukupi. Akhirnya, begitu banyak peserta yang berdiri. Sejatinya, sehari sebelumnya, mereka sudah diingatkan melalui sms dan WA bahwa pendaftaran sudah ditutup.

Pesertanya beragam latar, dari penjual obat, mahasiswa, agamawan, karyawan, purnawirawan, seperti Mayjen Saurip Kadi, sampai akademisi seperti Prof Komaruddin Hidayat, Prof Tuti, dll.

Foto: https://www.google.com/amp/s/www.idntimes.com

Setelah acara ditutup, beberapa ibu-ibu membisiki saya, bahwa harusnya forumnya dilanjutkan. Jangan terlalu cepat diakhiri. Peserta masih mau diskusi. Idealnya, cukup jedah snack, kemudian lanjut lagi, harapnya. Ini juga acara diskusi, yang paling banyak pesertanya protes karena mereka masih mau berfilsafat ria. Mereka rindu perspektif ala filsafat untuk membedah keindonesiaan kita hari ini. Mereka masih ingin berdealektika dengan pecinta kebijaksanaan seperti mas: Akhmad Sahal Donny Gahral Adiansyah Mochtar Pabottingi Goenawan Mohamad , dll

Semoga ini tanda positif, bahwa filsafat semakin diminati sebagai instrumen untuk membedakan antara noise dengan voice, meraba antara substansi dengan sensasi, membongkar antara realitas dengan citra, menyeleksi antara pejuang agama dengan penjual agama, dan memilah antara akal sehat dan akal sesat (akal-akalan).

Foto: https://www.zonareferensi.com

Besaran pecinta (philo) kebijaksanaan (sophia) dan perayaan kebebasan berpikir yang bertanggung jawab adalah syarat esensial menuju republiknya manusia.

Salam

www.republikmanusia.com

Bagi yang ingin menikmati sajian tersebut, silahkan nonton disini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *