Menanti Revolusi Energi ala Jonan Archandra

Beberapa waktu lalu saya sempat menanyakan kepada kawan yang bekerja di kementerian ESDM (Energi dan Sumber Daya Alam).
Bagaimana figur Archandra sebagai menteri waktu itu?

Dia dan teman-temannya menemukan suasana kerja baru dengan Archandra. Orang yang low profile. Karena basic pengusaha sehingga terbiasa tidak berjarak dengan para staf, katanya.

Kita berharap Archandra bisa mengikuti jejak Prof Habibie yang menjadi ahli di luar negeri, kemudian diminta pulang oleh negaranya. Seperti Kata Pak Archandra tadi pasca pelantikan,
“Semoga, niat saya pulang, diluruskan. Dimanapun saya mengabdi, saya siap”.

Foto: Liputan6.com

Foto: Liputan6.com

Selain Anis Baswedan, Jonan merupakan figur yang cukup ditangisi publik karena masuk dalam daftar reshuffle kabinet Juli lalu. Kinerjanya dianggap lebih baik dibanding beberapa menteri lain yang lolos dari reshuffle.

Kawan di Kementrian Perhubungan (Kemenhub) bercerita bahwa saat Jonan memerintah, mereka harus bekerja ekstra karena Jonan memasang target yang tinggi. Mayoritas elit kementrian harus pulang pasca jam shalat Isya karena dituntut menyelesaikan pekerjaan. Bahkan di saat hari besar keagamaan, seperti Idul Fitri, para petinggi di Kemenhub diharamkan mengambil cuti. Pilihan itu tentu berat, karena kita tidak terbiasa memaknai pekerjaan PNS sebagai ruang melayani dan mengabdi untuk rakyat dan negara.

Fenomena Jonan di negeri ini, dimulai, saat mampu merubah warna pelayanan kereta api kita dengan posisi sebagai Dirut KAI (Kereta Api Indonesia). Pada 2010, saya masih biasa berdekatan dengan kambing dari stasiun Depok UI menuju Manggarai Jakarta. Kereta juga melaju dengan kecepatan tinggi tanpa pintu pengaman. Salah satu rasa syukur saat turun di kereta adalah ketika tak ada barang yang hilang karena pengamen, pedagang asongan, preman, pengemis sangat sulit dibedakan fungsi dan visinya, hehee.

Beberapa waktu kemudian, semua berubah. Standar layanan di kareta api begitu tinggi. Sulit lagi menemukan preman di kereta api karena aparat keamanan hadir tanpa henti memastikan semua penumpang di tiap kelas bisa enjoy.
Kolaborasi pakar manajemen dan pakar migas kita harapkan bisa membawa Indonesia maju dan mandiri di bidang energi.
Ssperti, kata Presiden saat pelantikan,

“Ini isu manajemen…Dua-duanya keras kepala tapi suka terjun ke lapangan…Akan menjadi teamwork yang baik”.
Sektor migas merupakan salah satu lahan basah yang selalu dijadikan bancakan parpol saat menjelang pemilu. Sektor ini juga yang dianggap sarangnya mafia. Inilah sektor yang menggambarkan negara yang kaya raya secara SDA, tapi tertinggal jauh dalam pembangunan.

Foto: detik.com

Foto: detik.com


Kedua tokoh ini pernah bekerja di perusahaan internasional di luar negeri, semoga virus budaya kerja yang profesional bisa mereka injeksi kepada para PNS yang menjadi bawahan mereka. Sehingga wajah PNS yang aktif main game, bergosip, sibuk urus diri sendiri berubah menjadi servant worker.

Di negeri yang masih sakit ini, tidak hanya butuh orang pintar dan orang bersih, tapi juga butuh orang yang bernyali, yang dalam bahasa Pak Jokowi, orang yang keras kepala.

Nyali Presiden Jokowi dan tim untuk membongkar kasus premanisme oknum parpol di bidang energi, seperti kasus “Papa Minta Saham”. Serta keberanian menutup Petral merupakan langkah maju yang dulu merupakan sesuatu yang sangat sulit dibayangkan.

Kehadiran dua orang yang keras kepala di kabinet, semoga bisa meyakinkan publik, bahwa negeri ini terus berbenah secara serius.

Jakarta, 14 Oktober 2016.

Salam.

a.zulkarnain

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *