Menafsir Film Anak Muda Palsu

Kemarin malam, alumni Unhas Jabodetabek, melaksanakan agenda Nobar film Anak Muda Palsu di kawasan Blok M. Kehebatan film ini adalah berhasil menjadi kendaraan kami untuk beranjak ke masa lalu. Film karya sineas asal Makassar ini, membawa kami pada masa-masa kuliah di kampus terbesar di kawasan timur negeri ini.

Tumming dan Abu memperlihatkan kualitas aktingnya yang bisa menangkap ruh dari cerita sesuai dengan konteksnya. Sebanyak 60-an alumni Unhas yang nonton berjamaah kemarin malam, bisa merasakan kembali dinamika kehidupan kampus merah di jamannya masing-masing.

Poin penting di film ini adalah kisah persahabatan. Pengetahuan atas kelemahan teman, bukan menjadi senjata untuk meninggalkan atau menghabisinya, namun justru titik pijak untuk merangkul dan bangkit bersama. Berteman adalah kisah tentang saling menguatkan. Bukan menginjak teman untuk naik level.


Sejatinya, kampus bukan hanya tempat mendapatkan ilmu sesuai basic keilmuan, namun lebih dari itu adalah relasi pertemanan serta tradisi intelektual dan gerakan.

Di Unhas kami bisa mendapatkan materi filsafat, logika, analisa wacana kritis, retorika, ideologi, hakekat penciptaan, dll

Ilmu tersebut tak hanya dipakai di kampus atau sebagai syarat untuk naik level pengkaderan ke LK II dan LK III, namun digunakan untuk menjalani hidup.

Ilmu tersebut menjadi pegangan ketika tsunami hoaks menerjang. Teori-teori tersebut yang menjadi pisau untuk membedah realitas post truth.


Hal yang kurang dari film tersebut menurut saya adalah kisah mace-mace. Anak Unhas memiliki relasi yang kuat dengan mace-mace. Ibu-ibu yang menjual makan dan minum di kampus.

Biasanya setiap jurusan atau himpunan ada mace-mace yang sangat dekat. Ketika bina akrab masing-masing himpunan, mace-mace ikut sesuai dengan kedekatan tersebut.

Sampai saat ini, ketika saya masuk kampus, selalu yang pertama saya datangi adalah mace-mace. Mereka bukan hanya mengambil fungsi dalam siklus pasar ekonomi, namun telah mengambil peran ibu. Mereka tidak hanya mengingatkan tentang utang, tapi juga kapan wisuda dan apa rencana selanjutnya?

Di film Anak Muda Palsu, fungsi pengingat kapan wisuda hanya diperankan oleh ibu kost. Saya tidak tahu apakah sutradara menghindari variable cerita yang terlalu kompleks atau memang fakta bahwa generasi 2011 ke bawah, sebagaimana konteks film tersebut, tidak lagi memiliki ikatan batin yang kuat dengan mace-mace.


Film Anak Muda Palsu telah menjadi sebab anak unhas di Jakarta dan sekitarnya berkumpul. Sepulang dari kantor mereka berjuang menembus macet khas Jakarta agar tak tertinggal penayangan pada jam 18.45.

Nobar kemarin juga dimaksudkan sebagai bentuk dukungan para perantau Bugis Makassar atas karya tersebut. Itu adalah bagian dari tafsir “Lao Sappa Deceng, Lisu Mappadeceng”.

Film adalah media untuk merefleksikan kemanusiaan.

Salam

www.republikmanusia.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *