Membaca Kalla Group

Di era kompetisi yang merobek sekat teritori negara, skill bahasa asing, terutama Bahasa Inggris menjadi suatu keniscayaan. Sumber Daya Manusia (SDM) bukan hanya wajah perusahaan, tapi juga ruh yang menentukan totalitas gerak organisasi.

Kalla Group adalah kisah perjuangan dua sejoli dari tanah Bugis Bone, H.Kalla dan Hj. Athirah. Memulai dari usaha tekstil, di Bumi Arung Palakka, kemudian mencoba tantangan yang lebih besar di dunia perdagangan, di Tanah Makassar, pada 1952.

Tafsir atas peluang, membuat dua sejoli tersebut memasuki bisnis transportasi. Mereka membeli mobil asing untuk mengangkut hasil bumi dan penumpang. Beberapa hari lalu, saya menggunakan jasa tersebut, sambil membayangkan nyali mereka dulu, membuka bisnis angkutan di saat perampok masih selalu eksis di celah gunung.

Perusahaan yang pernah memperoleh penghargaan dari Kantor Pelayanan Pajak Sulawesi Selatan, Barat dan Tenggara (KPP Sulselbara) sebagai perusahaan penyetor pajak terbesar di Kantor Wilayah Madya Pajak Makassar ini bukan hanya wajah satu kabupaten, bukan pula wajah provinsi atau cermin ekonomi wilayah Timur, tapi telah mewarnai bisnis nasional. Dia menjadi pemantik spirit bagi yang jernih membaca realitas, bahwa siapapun bisa menggapai kesuksesan di dunia bisnis tanah air, ketika siap berdialog dan berdialektik dengan zaman.

Kisah perhatian pada zakat, salah satu kunci kemenangan Kalla Group. Konon, di suatu waktu, manajemen mempersentasekan catatan keuangan perusahaan, yang juga dihadiri Pak JK. Setelah masuk sesi tanya jawab. Pertanyaan pertama yang meluncur dari RI 2 dua periode tersebut adalah berapa rencana jumlah zakat. Amalan zakat sangat strategis di kultur keluarga Kalla. Pesan tersebut telah berjalan jauh melintasi generasi. Makanya, ketika Pak JK, meminta bantuan masyarakat untuk di doakan di TPS, dia selalu mendapatkan keunggulan.

Fenomena JK sebagai politisi senior yang masih selalu menjadi magnet, seperti fenomena Rossi yang merupakan pembalap sangat senior tapi penentu kemeriahan Motogp, bisa di baca di sini. 

Karena telah memberi pekerjaan dan nafkah pada ribuan orang, lebih setengah abad, serta perhatian pada zakat, maka JK merupakan politisi yang sangat kaya secara social capital. Sebagaimana yang pernah dinasehatkan oleh Pierre Bourdieu, pemikir yang sekampung dengan Johann Zarco, pembalap muda fenonemal MotoGp, bahwa modal sosial merupakan kumpulan sumberdaya baik yang aktual maupun potensial yang terkait dengan kepemilikan jaringan hubungan kelembagaan yang tetap dengan didasarkan pada saling kenal dan saling mengakui.

Forum Kampung Bahasa Sulawesi (Fkbs) yang merupakan gerakan sosial bisnis yang berpijak dari Kampung Bahasa Pare Kediri, Jatim dengan visi pembelajaran Bahasa Inggris yang murah untuk semua dan gratis bagi yang lemah, merasa terhormat telah dilibatkan dalam proses mewujudkan SDM kompetitif di era industri 4:0. Baik di Sekolah Islam Athirah, maupun secara umum di Kalla Group.

Salamaki

Lao Sappa Deceng

Lisu Mappadeceng

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *