Macet Total, Hobbes, dan Kemana Pemerintah?

Penyebab buntunya arus kendaraan di pertigaan Toddopuli-Batua Makassar karena lampu merah mati dan sempat tidak ada petugas.(Saat kami putar balik ada satu orang petugas, yang mustahil bisa mengendalikan ratusan kendaraan yang semua berada pada kesadaran yang sama, lapar, haus, ngotot).

Thomas Hobbes, pemikir besar tentang negara yang berdarah Inggris telah mengingatkan kita pada 367 tahun silam bahwa manusia pada hakekatnya egois. Selalu hanya ingin memenangkan dirinya. Homo homini lupus (manusia adalah serigala bagi sesamanya).

Bellum omnium contra omnes (perang semua melawan semua). Suatu situasi masyarakat yang diwarnai oleh persaingan dan peperangan. Siapa pun bisa menjadi musuh. Manusia yang satu bisa memakan dan mengobarkan manusia lain demi mencapai tujuannya. Jika itu dibiarkan, maka kekacauan adalah wajah sosial.

Foto:wikipedia

Sebagai solusi untuk mengakhiri perang saudara (siandre bale), Hobbes mengusulkan pentingnya ada negara. Hobbes mengibaratkan Negara sebagai Leviathan, sejenis mahkluk raksasa yang dipatuhi perintahnya. Negara sebagai pihak yang tegas dalam menindak pelanggar hukum. Ia dihormati oleh rakyatnya.

Rakyat sebagai pembayar pajak dan terlibat dalam kontrak sosial dengan para pengelola negara, sebagaimana ajaran Hobbes, harus terus menagih, mengkiritisi, memberitakan berbagai titik lemah agar kedepan para pejabat tak digaji untuk menikmati tidur panjang. Ketika mereka menerima kontak sebagai penyelenggara negara, baik walikota, gubernur, presiden,  maka saat itu mereka harus hidup sebagai pelayan rakyat. Makanya, uang pulsa, aspri, ajudan, mobil dinas, rumah, semua kita siapkan untuk mereka.

Penataan kota yang terencana, pengembangan transportasi publik, perketat perizinan mobil baru sesuai kondisi jalan, pajak progresif bagi pemilik kendaraan, kesigapan aparat, pendidikan karakter di jalan raya sejak dini, dan ratusan langkah lainnya, harusnya bisa diperjuangkan oleh siapapun mereka yang terkait yang makannya dibayar dari keringat rakyat sang pembayar pajak.

Kedepan akan ada pilkada. Juga ada Pilpres dan Pileg. Rakyat harus berani memilih yang terbaik di TPS nantinya.
Orang baik harus di dorong dan dipilih menjadi penyelenggara negara agar hakekat negara sebagaimana yang dinasehatkan Hobbes, dkk bisa menjadi kisah nyata, bukan hanya indah di buku dan jurnal ilmiah.

***
Sekitar jam 16.00 saya meninggalkan rumah di toddopuli menuju Unhas Tamalanrea untuk buka puasa bersama Ika Ilmu Ekonomi Unhas, namun karena suasana seperti ketiadaan negara, pengendara bergerak tanpa pijakan aturan, maka kami memutar arah, membatalkan diri ikut bukber. Inilah pilihan terbaik karena jam 19.30 kami ada acara lain di kota. Setidaknya, Tuhan sudah tahu, bahwa kami punya niat untuk pergi menyapa dan menyambung ikatan kemanusiaan kepada para guru dan teman di Kampus Merah sebagaimana ajaran para utusan Tuhan.

Fungsi Negara?
Manfaat Bayar Pajak?
#KritikItuCinta
#Sipakainge

***
Mari Wujudkan Republiknya Manusia

Salam
www.republikmanusia.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *