Lukisan Pertamamu

Alhamdulillah, kemarin, 28 februari 2019 untuk pertama kalinya kamu memulai melukis, Nak. Melukis dengan menggunakan jari sebagai kuas. Orang menyebutnya dengan “finger painting”. Kata gurumu, Bu Euis, kamu sangat menikmatinya. Kami takjub karena kamu sudah bisa memilih dan menempatkan warna dengan baik sehingga lukisanmu membuat yang memadangnya bisa menemukan ketenangan.

Di sekolahmu, semua orang tua siswa wajib mengikuti sekolah parenting agar bisa menafsir anaknya sesuai dengan tahap perkembanhannya. Pada titik pijak itu pulalah kami memaknai lukisan perdanamu semenjak hadir di bumi Allah.

Agar aman bagi anak 11 bulan sepertimu, bahannya dibuat sendiri oleh pihak sekolah dengan mencampur tepung, air dan pewarna makanan sehingga tidak terlalu beresiko ketika ada yang termakan oleh anak. Guru juga selalu memberi pijakan bahwa cat digunakan untuk melukis. Yang dimasukkan ke mulut, seperti, makanan, teether, dsb. Kegiatan “finger painting” penting untuk memperkenalkan tentang warna dan tekstur. Juga untuk melatih motorik halus serta kreativitas.

Guru memberi pijakan dengan memberi satu garis warna di kertas. Merah dibagian bawah, kemudian hijau dan diatas warna kuning. Selanjutnya, kamu yang mengembangkannya sehingga menjadilah suatu karya. Kata bu guru kamu sempat protes ketika waktu bermain sudah selesai. Mungkin, bagimu, waktu 20 menit belum cukup untuk menggambarkan keindahan dan keanggunan Tuhan, sebagaimana makna namamu.

Lukisan perdana Moza

 

Jika masih ada beberapa pihak yang mempertanyakan kenapa bisa bayi sejak 4 bulan sudah dimasukkan di sekolah. Di sana bikin apa? Kenapa pilih sekolah yang jauh? Kenapa uangnya tidak ditabung saja? dan banyak pertanyaan lainnya? Dengan melihat kualitas dan karyamu mereka akan secara perlahan percaya, bahwa memang ada yang beda dari proses yang kamu jalani, Nak.

Melukis adalah menyusun bentuk dan warna. Warna melambangkan ungkapan perasaan, bentuk melambangkan pikiran atau bisa sebaliknya. Melukis melatih untuk menyeimbangkan pikiran dan emosi. Lukisanmu bisa dimaknai sebagai ekspresi komunikasi. Ada hal yang kamu sampaikan atas lukisanmu tersebut.

Baju Moza setelah melukis 😄😍

Skill melukis penting, Nak agar kelak, ketika kamu ada beban psikologis, tidak langsung melampiaskannya di media sosial, yang bisa berujung pada pelanggaran pada pasal 27 UU Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE). Kegundahan dan kemarahan bisa diekspresikan dengan berkesenian, dengan menyanyi, melukis, menulis, dll. Itu cara yang beradab, Nak. Makanya, di sekolahmu, di Sekolah Al Falah BCCT Jakarta Timur, sejak awal masuk, di usiamu yang masih 4 bulan, kamu sudah dilibatkan dalam proses ikrar kelas, yang berisi menyanyi, membaca doa, dan lainnya. Nanti di level TK, ada sentra khusus seni untuk semakin melatih kecerdasanmu di bidang tersebut, Nak.

Hari ini manusia sudah berlomba dengan robot dan kecerdasan buatan untuk mendapatkan pekerjaan. Petugas teller bank berebut kesempatan dengan sistem keuangan digital untuk melayani klien yang berbasis komputer kecil di tangan. Menurut pakar futuristik, di hari esok yang bisa membedakan manusia dengan robot dan artificial intelligence adalah kreativitas. Orang yag memiliki kemampuan ini akan terus dicari. Dan melukis melatih kemampuan yang dimaksud.

Ketika pertama kali melihat karya lukismu, saya melihat keanggunan di sana. Memori saya langsung berlari pada momen penentuan namamu. Kami memberimu nama, Andi Mozaik Qiana Avanezka yang bermakna kumpulan keberkahan dan keanggunan Tuhan. Semoga nama tersebut menjadi iringan doa dalam tiap nafasmu.

Kelak semoga kamu bisa terus menciptakan suatu karya, yang tak hanya bermafaat bagi dirimu, bukan juga hanya untuk keluargamu, tapi karya untuk bangsamu dan segenap yang ada di bumi Allah.

Seni adalah salah satu cara menafsir keindahan dan keanggunan Tuhan. Olehnya itu, manusia yang memahami dan menjiwai seni adalah syarat menuju republiknya manusia.

Salam

www.republikmanusia.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *