Kritik Tafsir Politik Mata Najwa

Mata Najwa adalah salah salah satu acara terpopuler saat ini. Dibuktikan dari banyaknya penghargaan dalam dan luar negeri yang telah diterimanya.  Begituhalnya Najwa Shihab sebagai salah satu presenter terbaik dan sangat kritis yang dimiliki bangsa ini. Najwa Shihab memang memiliki dua kecantikan sekaligus, yakni; kecantikan fisik dan jiwa. Kecantikan jiwa tampak pada kecerdasan dan sopan santunnya. Itulah yang membuatnya berbeda. Banyak orang mencintai dan mencoba masuk dunia jurnalistik karena ingin seperti Najwa Shihab.

Dalam acara Mata Najwa edisi “Blak-Blakan Dengan Risma” (Rabu, 12 Februari 2014), Najwa membuka acara tersebut dengan beberapa kalimat”… seorang walikota kini berkeluh kesah melihat politik menggangu hatinya…”. Kemudian, diakhir acara Najwa menutup dengan ”…Kini Risma bersuara lelah, kedaulatannya sebagai walikota dibuat goyah. Politik menggerogoti kepemimpinannya..”.

Kalimat Najwa tersebut akan memberi suatu stigma kepada masyarakat bahwa politik itu memang negatif, kotor dan merusak. Buktinya Bu Risma yang baik dan tulus mengabdi diganggu oleh politik.

Padahal ketika Bu Risma sedang membangun Surabaya dengan posisi strukturalnya sebagai Walikota, maka beliau adalah politisi.  Begituhalnya ketika ada pihak lain, misalnya, oknum pengurus partai politik atau anggota DPRD yang mengganggu, mereka juga politisi.

Foto: www.thejakartapost.com

Foto: www.thejakartapost.com

Olehnya itu yang terjadi di Surabaya adalah pertarungan politisi vs politisi, yakni politisi sejati vs politisi palsu atau penipu berkedok politisi yang biasa disebut dengan politisi busuk. Yang perlu di clear kan bahwa Bu Risma adalah seorang politisi sejati yang sedang berjuang membangun serta menjaga kota Surabaya dari dominannya logika pasar. Jadi kalau ada politisi yang ingin  mengganggu Bu Risma karena tidak sepakat dengan kebijakannya yang pro rakyat, serta perjuangannya menjalankan amanat konstitusi, maka mereka merupakan politisi busuk.

Fenomena Bu Risma harusnya digunakan oleh Mata Najwa untuk melakukan pencerdasan politik kepada seluruh masyarakat.  Bukan justru semakin membuat masyarakat jijik dan benci dengan hal yang berbau politik. Bahwa betapa indahnya politik di tangan Bu Risma dan betapa busuknya politik di tangan orang-orang yang hanya mementingkan agenda pribadi dan kelompok, termasuk betapa hinanya politik ditangan 311 kepala daerah yang telah ditangkap KPK.

Mata Najwa harusnya mampu meyakinkan masyarakat bahwa politik adalah hal yang mulia, selama diamanahkan kepada orang yang memiliki kemuliaan yakni politisi sejati. Yang menjadi masalah, politik selama ini lebih tampil memuakkan karena diamanahkan kepada penipu berkedok politisi.

Munculnya Rismaharini di Surabaya, Jokowi-Ahok di Jakarta , Nurdin Abdullah di Bantaeng, Ridwan Kamil di Bandung memperlihatkan bahwa ibu pertiwi telah berhasil melahirkan anak-anaknya yang dulu banyak orang menduganya telah keguguran.

Masyarakat harus dibimbing untuk paham bahwa politik adalah usaha menggapai kehidupan yang lebih baik. Yang dalam istilah Plato dan Aristoteles, disebut dengan en dam onia (Miriam Budiarjo, Dasar-Dasar Ilmu Politik, 2010. Hal 13). Jadi ketika ada yang mengaku politisi, tapi  mengganggu terwujudnya kehidupan yang lebih baik, mencuri uang rakyat, membuat kebijakan yang menyengsarakan rakyat, maka sesungguhnya dia bukanlah politisi, tapi merupakan penipu berkedok politisi. Politisi abal-abal seperti itulah yang banyak di negeri ini, sedangkan politisi sejati, seperti Soekarno, Hatta, Syahrir, termasuk Rismaharini, Jokowi, Ridwan Kamil, Nurdin Abdullah sangat sulit ditemukan.

Foto: www.metrotvnews.com

Foto: www.metrotvnews.com

Jadi, kita tidak boleh membiarkan masyarakat jijik terhadap politik, tapi bagaimana masyarakat bisa melek politik. Bahwa berpolitik artinya berkonstitusi. Makanya semua politisi wajib menyelesaikan amanat konstitusi.

Ketika masyarakat cuek dengan politik, maka para politisi abal-abal lah yang akan menguasai panggung politik. Padahal harusnya masyarakat terlibat aktif untuk mencari figur Risma, Jokowi, Ridwan, Nurdin di daerah mereka, kemudian memberikan figur tersebut mandat politik untuk mengurus kota. Pada politisi sejati seperti merekalah harusnya pajak kita titipkan untuk dikelola sebagaimana mestinya. Pada politisi seperti merekalah kita berharap birokrasi bisa menjadi mesin pelayan rakyat yang efektif dan efisien. Pada figur seperti merekalah kita bisa percaya kekayaaan alam bisa dikelola dengan prinsip seadil-adilnya untuk kemakmuran rakyat.***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *